Fashion Bolahita

Bali Sports

Tendensius Soal Dana Pra-PON, Mantan Ketum TI Bali Buka Suara

Pasang Iklan Disini
Yan Daulaka Selasa, 03 Desember 2019 16:39 WIB
BOLAHITA / YAN DAULAKA
Meski diganti, Lan Ananda (kiri) masih sempatkan diri memantau pertandingan cabor taekwondo Porprov Bali 2019 di Tabanan
Pesan Tulang Bolahita

BOLAHITA, DENPASAR - Terkait pemberitaan yang tendensius terhadap dana atlet taekwondo Pra-PON Bali 2019 lalu, mantan Ketua Umum Pengprov TI Bali, Anak Agung Lanang Ananda buka suara.

Menurutnya, salah satu orang tua atlet yang menyatakan komentar tersebut tidak memahami persoalan dan asal bunyi (asbun) di media massa.

Lanang Ananda yang mantan taekwondoin tahun 1990 an ini menjelaskan, orang tua atlet tersebut atas nama Made Mardika yang notabene ayah dari atlet poomsae Kadek Nanda.

Bagi Lan, Made Mardika tidak memahami bagaimana duduk perkara yang terjadi. "Jadi saya pikir dia (Made Mardika-red) hanya asbun. Dia tidak memahami kalau anaknya berangkat menjadi tim Pra-PON taekwondo Bali tidak terdaftar dalam SPPD dari KONI Bali," ujar Lanang Ananda, Selasa (3/12/2019) di Denpasar sembari menunjukkan lampiran SPPD dari KONI Bali.

Lebih dijelaskan lagi, yang berhak menggunakan dana Pra-PON dari KONI Bali itu adalah mereka yang terdaftar dalam SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas), sehingga tidak terjadi penyimpangan penggunaan anggaran yang jumlahnya Rp 100 juta tersebut.

Seperti dicontohkannya, atlet kyorugi dari Klungkung atas nama Kadek Surya Febriantari berangkat ke Pra-PON menggunakan tiket pesawat dari anggaran yang diberikan oleh KONI Bali. Tapi, ada atlet atas nama Bayu Satrya, Ocla, tiket pesawatnya yang dibelikan dengan menggunakan dana Pra-PON menjadi hangus, karena dibelikan tiket lain oleh manager tim yang baru dan ditanggung oleh atlet itu sendiri kabarnya.

Lan mengakui bahwa dana Pra-PON dari KONI Bali menjadi tidak effisien karena tim yang telah terbentuk justru dibongkar oleh pengprov yang baru dan tidak melakukan kordinasi dengan pihaknya.

"Pada Pra-PON Riau 2011, KONI Bali hanya memberikan dana Rp 3 juta, namun para atlet tidak mengeluarkan dana sepeserpun, karena Pengprov TI Bali menanggung seluruh biaya. Kenapa sekarang tidak? Harusnya itulah yang dituntut orang tua kepada Pengprov TI yang sekarang, bukan menuntut yang bukan menjadi haknya karena tidak memiliki SPPD," tegas Lanang Ananda.

Dan juga, terkait kejuaraan TFC yang dibatalkan, seharusnya ditanyakan kepada Ketua Plh Pengprov TI Bali saat ini sebagai pihak yang membatalkan kejuaraan tersebut, bukan kepada pihak lain. "Kalau ada yang merasa dirugikan secara finansial, ya gugat saja pihak yang menimbulkan kerugian itu, bukan berkomentar di media. Kan kesannya seperti siap sambehin injin (ayam diberikan beras hitam-red)," tandasnya

Toko Sport Terlengkap Termurah di Kota Medan
T#gs Balibolahitabolahita.idbolahita id
BOLAHITA for the future
Pasang Iklan Disini
Komentar