Tamat Sekolah Langsung ke Liga, Ditemukan di Suratin. Sahari Gultom Sebut Suimin

Tamat Sekolah Langsung ke Liga, Ditemukan di Suratin. Sahari Gultom Sebut Suimin
Sahari Gultom

BOLAHITA, MEDAN - Tak perlu membahas karir mentereng sepakbola Sahari Gultom. Belasan klub top di Liga Indonesia telah diperkuatnya.

Bisa dibilang, pengalaman, attitude, ilmu di lisensi yang membawanya sekarang tercatat masuk menjadi staff kepelatihan PSSI dan Timnas Indoensia bersama Shin Tae-yong. 

Tapi seperti apa awal mula perjalanan sepakbola, Sahari Gultom mencoba membagikannya. 

Lahir Banda Aceh dan memulai pendidikan di Sekolah Dasar Peureulak, Sahari Gultom merupakan anak dari seorang prajurti TNI. 

"Sampai umur 13 tahun aku tinggal di Aceh. Karena almarhum bapakku Tentara yang tugas di Aceh. Barulah waktu kelas 3 SMP aku pindah sekolah ke Medan. Itupun karena lolos seleksi Diklat yang sekarang namanya PPLP Sumut," kata Sahari Gultom kepada Bolahita.

Ucok - panggilan akrabnya Sahari Gultom menceritakan bahwa awal mengenal sepakbola (sejak SD), justru tak dimulai dari posisi penjaga gawang. Karena postur badan yang besar, akhirnya di kelas lima SD, guru menyuruhnya menjadi kiper.

"Awal main bola posisi ku back kanan, saat aku kelas 5 SD. Karena guru olahraga lihat badan ku paling tinggi makanya disuruhlah awak jadi kiper," kata Sahari Gultom.

Sahari Gultom mengatakan bahwa faktor Suimin Dihardja sangat besar di karir sepakbolanya. Itu dimulai ketika Suimin menjadi pelatih di PSBL Langsa. 

"Aku ikut Suratin, gabung PSBL tahun 1990. Kebetulan waktu itu beliau (Suimin Dihardja, red) ngelatih PSBL Langsa. Dari sanalah bakat ku ditemukan," ucap Sahari Gultom. Suimin tercatat menjadi pelatih PSBL pada tahun 1990-1993.

Untuk urusan idola, waktu kecil Sahari Gultom telah menonton aksi Hermansyah, kiper timnas Indonesia di tahun 1980an. "Idola aku waktu kecil adalah bang Hermansyah. Karena aku pernah lihat beliau main di televisi tahun 1985," ujarnya. 

Hingga akhirnya, Sahari Gultom bisa bertemu langsung dengan Hermansyah dan ini menjadi satu momen penitng yang diingat selama karir sepakbolanya. "Dan yang paling membanggakannya adalah saat tamat sekolah langsung terjun di Liga Indonesia. Dan satu klub dengan kiper idola waktu kecil, yaitu Hermansyah di klub Bandung Raya," kata Sahari.

Di sisi lain, Sahari Gultom mengaku bahwa awal mulai puncak prestasinya ada di umur 22 tahun. Saat memperkuat PSMS hingga dari sana dipanggil bisa dipanggil timnas. "Di PSMS saat itu pelatih kipernya alm Pak Acong. Beliau yang luar biasa saat ngelatihnya," kenangnya.

Sampai sekarang, Mayor - panggilan akrab lainnya Sahari Gultom tak pernah melupakan klub-klub amatir di Kota Medan yang pernah diperkuatnya. Mulai dari Biranta, Sinar Medan, Radio Simpony & Perisai Pajak.

"Kalau ditanya klub yang paling berkesan selama karir adalah PSMS. Dari Junior sampai senior, bahkan hingga melatih mungkin sudah lebih 12 tahun mengabdi," pungkas Sahari Gultom.

View this post on Instagram

A post shared by BOLAHITA ™ (@bolahita)