Benny Tomasoa : Problem PSMS Hanya Satu, Manajemen Belum Profesional

Benny Tomasoa : Problem PSMS Hanya Satu, Manajemen Belum Profesional

Benny Tomasoa : Problem PSMS Hanya Satu, Manajemen Belum Profesional
Benny Tomasoa
Benny Tomasoa : Problem PSMS Hanya Satu, Manajemen Belum Profesional

BOLAHITA, MEDAN - Hingga saat ini, PSMS Medan belum dikelola secara profesional. Manajemen klub berjuluk Ayam Kinantan ini belum memiliki manajemen profesional. 

Faktor itulah yang membuat PSMS Medan jalan ditempat dan tertinggal dari klub-klub lain di Liga Indonesia. Hal ini disampaikan Benny Tomasoa, eks manajer PSMS era ISL yang prihatin dengan klub kebanggaan yang belum mengalami kemajuan. 

"Intinya, kalau  mau maju, lebih baik lagi, benahi dulu manajemen klub. Kan saat ini PSMS sudah berbentuk Perseroan Terbatas (PT), jadi harus punya struktural. Jangan yang urus PSMS hanya dua orang," kata Benny Tomasoa kepada Bolahita

Karena menurut Benny Tomasoa, menuju prestasi, pengelolaan struktur yang manajemen dan sumber daya manusia (SDM) yang kuat dan diisi dengan anak muda yang punya kompetensi dan profesional. 

"Karena manajemen profesional sudah menjadi standar klub-klub sepakbola. Sehingga ada jaminan awal untuk investor atau sponsor yang mau masuk membantu atau mensupport. Karena sekarang, investor atau sponsor juga harus mendapatkan impact," ucap Benny Tomasoa. 

Bolahita.id/uploads/images/2021/10/image_750x_6173cf18332f4.jpg" alt="" />

Benny menyatakan bahwa sepakbola telah memasuki era industri bisnis olahraga. Sehingga banyak para investor atau sponsor yang pasti tertarik masuk ke klub sepakbola. Seperti PSG Pati, Persis Solo, Dewa United ataupun PSPS Riau. 

"Kayak mana investor mau masuk, kalau manajemen klub kita aja enggak kuat, solid. PSMS sangat perlu membenahi manajemen, menyelesaikan sangkutan intern. Karena sebelum sponsor dan inventor masuk, pasti mereka memeriksa kondisi seutuhnya klub," kata Benny Tomasoa. 

Bento panggilan akrab Benny Tomasoa melihat peran Edy Rahmayadi mensupport PSMS sangat besar. Dan ini menjadi salah satu bentuk rasa cinta, keperdulian Gubernur Sumut terhadap PSMS. Namun, tetap saja PSMS harus tetap membangun manajemen klub yang solid. Agar semua bidang memiiki kerja dan tufoksi dalam membangun klub. 

"Tapi sampai kapan Pak Edy bisa bertahan? Kita semua sebagai Anak Medan pengen PSMS benar-benar profesional. PSMS bisa bermain di kasta Liga 1. Syaratnya hanya membenahi manajemen. Rating dan nilai jual PSMS itu tinggi. Ini yang harus dipikirkan secara manajemen klub yang utuh. Bukan perorangan di PSMS dan hanya di bibir saja. Tapi lewat kerja manajemen yang utuh," Benny Tomasoa. 

"Untuk mencapai hasil yang baik, tentu semuanya harus ditata dengan baik juga juga. Adanya komunikasi yang baik antara manajemen dengan pelatih misalnya juga mempengaruhi. Jadi persoalan PSMS bukan hanya dengan kualitas materi pemain, tapi dengan manajemen profesional yang belum terbentuk," pungkasnya.