Persiba Balikpapan Klub Terakhirnya, Tambun Naibaho Ingin Kembali ke Lapangan Hijau Sebagai Pelatih

Persiba Balikpapan Klub Terakhirnya, Tambun Naibaho Ingin Kembali ke Lapangan Hijau Sebagai Pelatih
Tambun Naibaho dengan anak pertamanya

BOLAHITA, SAMOSIR - Tentu kita masih ingat dengan nama Tambun Naibaho bukan. Pesepakbola, putra daerah Sumatera Utara asal Samosir, Kota Pangururan yang sudah berkiprah disepakbola Indonesia.

Tambun Dibty Naibaho nama lengkapnya yang juga sudah ikut andil mempersembahkan trofi gelar juara Piala Kemerdekaan tahun 2015 untuk PSMS Medan. Sosok Tambun yang ditemukan oleh almarhum legenda Ayam Kinantan, Parlin Siagian dalam ajang turnamen perncarian bakat.

Berposisi sebagai striker, Tambun Naibaho melejit dari klub amatir Medan United. Dari sana dia ikut seleksi Pro Duta FC hingga akhirnya bergabung dengan klub kepunyaan Sihar Sitorus. Lalu dari sana bisa terbang ke PSMS Medan, PS TNI, Semen Padang, PSS Sleman.

Tambun sepertinya sudah memilih pensiun lebih cepat dari rekan-rekannya. Meski sangat disayangkan, namun sosoknya telah mengambil keputusan untuk membangun kehidupan rumah tangganya melalui membangun usaha/bisnis keluarga.

Terakhir, Tambun Naibaho memperkuat Persiba Balikpapan pada tahun 2019. Setelah itu, kita nyaris belum mendengar kiprahnya. Lalu kemana, dimana Tambun sekarang ini?

Bolahita mencoba mencari tahu dan menghubungi Tambun melalui pesan di instagram. Berikut wawancara singkat dengannya.

Bolahita : Apa kabarnya Tambun dan keluarga di tengah pandemi :

Tambun Naibaho : Puji Tuhan, dalam keadaan yang sehat.

Bolahita : Sekarang lebih banyak dimana, Samosir atau Medan? 

Tambun Naibaho : Saya sekarang lebih sering di Samosir.
 
Bolahita : Sudah berapa lama vakum dari lapangan hijau (profesional)? Tahun dan klub apa terakhir? 

Tambung Naibaho : Terakhir Saya main di Persiba Balikpapan tahun 2019.

Bolahita : Apa alasan kemarin tidak melanjutkan karir?

Tambun Naibaho : Karena Pandemi Corona ini dan lagian sudah keburu buat usaha baru. Jadi keasyikan dan fokus kesana kemarin itu.
 
Bolahita : Usaha apa sih? 

Tambun Naibaho : Ada usaha kecil-kecilan aja di Samosir. Bisnis perabot dan elektronik. Ada juga di bagian ekspedisi.

Bolahita : Usaha itu kamu handle langsung sendiri?

Tambun Naibaho : Enggak, Saya enggak sendirian dan belum mampu. Ada 2 atau 3 orang yang bergabung ikut membantu.

Bolahita : Apa masih ada niat kembali ke lapangan hijau ?

Tambun Naibaho : Niat kembali ke sepakbola selalu ada. Tapi sekarang tidak sebagai pemain lagi. Kalau waktunya sudah mungkin, Saya kembali ke sepakbola sebagai pelatih.

Bolahita : Sibuk dengan usahanya, apa masih ingat dengan momen paling indah dan buruk di karir sepakbola kamu ?

Tambun Naibaho : Yang paling indah di PSMS, waktu juara Piala Kemerdekaan tahun 2015. Dan mungkin menjadi momen terburuk saya di karir sepakbola adalah di Sleman. Dari sana, perform saya menurun.

Bolahita : Lalu, siapa pelatih yang paling berjasa atas karir kamu?

Tambun Naibaho : Sudah pasti almarhum Pak Parlin Siagian. Sosok Bapak yang 'kejam' itulah yang bawa aku dari Samosir ke Medan untuk bermain bola. Sampai akhirnya bisa bermain di klub-klub profesional.
 
Bolahita : Tapi belum melupakan seluruh memori di sepakbola kan?

Tambun Naibaho : Ya masih tetap saya ingatlah. Apalagi yang baik dan bagusnya. Seperti Piala Kemerdekaan, memori asih lengkap. Itu sebagai bukti sejarah untuk anak-anaku nanti.

Bolahita : Masih sering komunikasi dengan teman-teman pemain enggak sih?

Tambun Naibaho : Sudah jarang sih komunikasi sama pelatih atau pemain. Paling saling komentar di Sosmed sesekali.

Bolahita : Terakhir, harapanmu apa buat kita semua di tengah pandemi ini?

Tambun Naibaho: Semoga pendemi ini cepat berlalu dan Liga di Indonesia ini cepat dimulai. Ya biar bisa cepat nonton kawan-kawan main bola di televisi. Hahaha

Bolahita : Terimakasih Tambun Naibaho.