Catatan: Antara Sepakbola dengan Warisan
Catatan: Antara Sepakbola dengan Warisan
Catatan Ringan: Eben Siregar - Pelatih Sepakbola di Dairi
Sepakbola Indonesia yang kita cintai ini telah mengalami berbagai macam evolusi seperti teori Carles Darwin. Sepakbola Indonesia adalah warisan dari penjajah. Nah itulah masalahnya bila ternyata persepakbolaan kita morat marit adalah karena kata "warisan".
Sama seperti di keluarga, kebanyakan yang terjadi adalah persaudaraan akan menjadi lenyap saat perebutan dan pembagian warisan. Semua merasa sebagai pewaris dan hal ini persis terjadi di persepakbolaan kita. Andai kita mampu menjaga dan terus mengembangkannya, makawWarisan sepakbola ini bisa lebih baik dari sini.
Perselisihan yang terjadi di PSSI ternyata berimbas ke setiap Pengprov dan bahkan ke Pengcab. Kebanyakan diantara mereka tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai pewaris tahta persepakbolaan.
Pada saat peralihan era perserikatan,galatama ke Liga Indonesia merupakan awal keemasan masa persepakbolaan di Indonesia. Betapa tidak, di sana mulai dikenal istilah kontrak yang membuat sepakbola dapat menjadi sumber penghasilan yang menetap.
Setiap klub mengandalkan dana APBD untuk membiayai kelangsungan klub tersebut dalam mengarungi kompetisi yang panjang. Ntah kenapa keluar UU yang membuat APBD tidak bisa lagi membiayai sepakbola. Disinilah banyak klub yang tumbang karena tidak mampu bertahan.
Saya pernah ditanya teman, menurut kamu apa yang mendasari Pemerintah mengeluarkan UU tersebut ? Jawab saya singkat, barangkali terlalu banyak mark up dalam pembuatan LPJ, atau bahkan ada klub yg tidak ada laporan.
UU ini makin terasa ke tahun 2013, terlepas dari konflik yg baru saja berakhir, kini Pengcab pengcap banyak yang tinggal nama, karena tidak mampu mencari dana untuk mengarungi kompetisi. Paling nyata terlihat adalah, jangankan mengikuti kompetisi(Div III -ISL), memutar kompetisi antar club pun tidak mampu.
Betulkah ini karena tidak ada dana ? atau memang Pewaris tahta tadi tidak mau bekerja keras? Itulah yang terjadi. Mari lihat beberapa kejadian ke belakang, 2 tim SUMUT yaitu Kwarta dan Bintang Jaya Asahan, Promosi ke div Utama. SaingannyaVilla 2000 dan lainnya, mereka bukanlah pewaris tahta persepakbolaan, tetapi klub yg tadinya kecil bekerja keras dan mampu manaikkan diri mereka sendiri.
Paling nyata terlihat di Sumut juga yaitu tahun 2013 pegelaran Divisi III. Dari 20 peserta Zona Sumatera hanya segelintir yang membawa nama Pengcab. Kemana mereka semua ? Kenapa jadi klub mampu mengikutinya ?
Nah inilah fenomena yang saya maksud. Sudah saatnya mereka yang mengatasnamakan Pengcab bekerja lebih keras lagi. Mari saling merangkul, mari liat potensi potensi yang ada, jadilah pengelola yang baik.
Tidak perlu iri melihat klub yang mampu memanajemen klubnya dengan baik, justru patut dicontoh. Kalau tidak ya mimpi pun kita nanti tidak bisa ke Piala Dunia.
What's Your Reaction?