<div style="text-align: justify;">Sarwono yang mengisi jabatan Manajer Tim
PSMS Medan versi PT Liga Indonesia (LI) mulai menjalankan tugasnya, Senin (7/1) kemarin. Meski situasi dualisme dipastikan berkutat sepanjang musim kompetisi 2013 di tubuh tim berjuluk Ayam Kinantan ini, ia menegaskan siap menuai tugas berat. </div><div style="text-align: justify;"><br></div><div style="text-align: justify;">Meski ia mengakui besarnya potensi kesulitan menggaet sponsorship untuk mendanai tim.</div><div><br></div><div>"Saya mulai bertugas hari ini (kemarin). Sejauh ini saya sudah melobi Petronas dan Pertamina secara lisan. Memang belum ada kepastian, kalau sudah ada segera akan kita lempar proposal. Pertamina memang mempertanyakan
PSMS Medan yang mana. Dualisme memang buat bingung, tapi kita harus yakin," kata pria kelahiran
Medan, 12 Juli 1966 ini.</div><div><br></div><div>Optimisme yang diapungkan bukan tanpa dasar. Pengalamannya menangani tiga tim yakni SSB Sampali Putra, PS Sampali Putra dan PS Kinantan disebutnya sebagai modal kuat. Pendanaan ketiga klub itu mengucur dari kantong pribadinya.</div><div><br></div><div>"Kurang lebih Rp 20 juta sebulan saya harus keluar untuk tiga klub ini.
PSMS Medan sebagai klub profesional yang tak dibantu APBD, tentu lebih besar dari itu. Karenanya, bagaimana menyakinkan sponsorship. Saya juga pernah membawa Tim Yamaha U-13 di level profesional di tahun 2011. Ini semua modal yang cukup untuk membangun
PSMS ini," ujar Distributor BBM Petronas
Medan ini.</div><div><br></div><div>Sayang, Sarwono masih enggan membeberkan tugas spesifik dan terobosan yang hendak dilakukannya. "Semuanya lebih jelas nanti, setelah rapat manajemen Rabu 9 Januari nanti. Sekarang, saya belum bisa bilang terobosan apa saja yang akan saya lakukan," tuturnya.</div><div><br></div><div>"Tapi begini, awalnya saya ditawari duduk di kursi CEO. Karena merasa belum mampu, saya tolak dan meminta posisi manajer tim saja," tandasnya.</div><div><br></div><div>Seperti diketahui kursi CEO dan Manajer Tim sempat lowong beberapa pekan pascapengunduran diri Alexander Gho dan Bachrum Nasution. </div>