BOLAHITA - Bek kiri Juventus Patrice Evra sadar bila timnya lebih difavoritkan lolos dari babak perempatfinal dibandingkan AS Monaco. Kendati demikian, Evra enggan meremehkan klub kaya asal Prancis tersebut.
Bisa dibilang Monaco merupakan satu-satunya tim kejutan dari 8 kontestan yang tersisa. Dinilai sebagai tim paling lemah, Dimitar Berbatov cs. justru keluar sebagai jawara grup dan kemudian melempar Arsenal dari 16 Besar.
Ini adalah pertemuan pertama Juve kontra Monaco dalam 17 tahun. Sebelumnya kedua tim bersua di semifinal 1997-98 dimana Juve lolos usai menang agregat 6-4 usai di pertemuan pertama menang telak 4-1.
Untuk bek asal Prancis ini, laga tersebut adalah ajang reuni dengan klub lamanya. Mantan punggawa Manchester United itu diketahui sempat berseragam Los Rouges selama empat musim.
“Apabila Monaco telah sampai di tahap ini, mereka datang dengan suatu alasan,” kata Evra kepada Sky. “Kami harus melawan mereka sama seperti melawan Bayern maupun Barcelona. Mungkin kami unggulan, namun semuanya tetap dimulai dari 0-0.”
“Kami sadar laga menghadapi mereka akan sulit karena saya tahu bagaimana mereka bekerja. Saat berada disana, kami pernah bertemu dengan Real Madrid dan Chelsea. Melawan Madrid, kami lolos,” sambung pesepakbola berdarah Senegal itu.
“Kami harus bermain seperti sebuah tim kecil, lebih banyak berkorban dan mengeluarkan seluruh kemampuan,” cetus Evra di Football Italia.