Makna Pembinaan Sepak Bola di Hati Mereka

Makna Pembinaan Sepak Bola di Hati Mereka

Apr 12, 2014 - 00:28
 0
Makna Pembinaan Sepak Bola di Hati Mereka
Hengki Ahmad, Parlin Siagian, Saktiawan Sinaga dan Amrustian komitmen dalam pembinaan usia dini
"Sebenarnya goal dari sebuah pembinaan itu bukan meraih gelar juara sebanyaknya di level SSB. Tapi bagaimana melahirkan pemain dalam usia muda yang sudah mengerti bermain bola dengan baik dan benar. Ada anak liga jebolan di SSB Gumarang, itu kebanggaan," Hengki Ahmad ketua umum Gumarang FC. 

Melahirkan pemain dengan kualitas bukan hal yang gampang. Meskipun menemukan pemain usia dini berbakat, tapi bisa saja gagal. Faktor lapangan, jam latihan, kualitas pelatih dan dukungan orangtua juga sangat menentukan. "Sebaiknya di setiap SSB, sudah melakukan pembinaan sudah berjenjang. Misalnya memiliki tim kategori SSB (juga terbagi dalam beberapa tahun kelahiran, red), ada junior hingga ke kelompok senior. Atau bahkan seperti kami sekarang sudah memiliki tim divisi tiga. Jadi sudah ada target siswa yang akan terus belajar sepak bola di Gumarang," ujar Hengki Ahmad. 

Kemudian setelah memiliki setiap tim kategori umur itu, Hengki berharap pembinaan bukan sekadarnya saja. Karena terdiri dari beberapa tim, sebaiknya program dari masing-masing pelatih diselaraskan. Misalnya apa yang mau dihasilkan dalam SSB yang mereka kelola. "Kalau kami di SSB Gumarang ditangani direktur teknik Amrustian, pelatih yang sudah berlisensi B AFC. Beliau yang menyatukan program disini. Misalnya siswa yang nanti promosi ke junior atau senior, pelatih tidak akan mengajari teknik - teknik dasar bermain bola lagi. Namun sudah lebih mendalama soal karakter bermain dan pola bermain. Kami di Gumarang mau menciptakan satu standart tersendiri," sambungnya.

Dalam membina, menurut Hengki SSB juga membutuhkan dukungan dari orangtua siswa. Mulai dari mengharamkan pemalsuan akte (curi umur), memahami filosofi dasar SSB bukanlah juara sana sini atau juga mencampuri teknis pelatih. Ratusan siswa SSB Gumarang latihan setiap hari Senin, Rabu dan Jumat mulai pukul 14.30 Wib di lapangan Medan Estate (MES).

"Melahirkan pemain yang mengerti, memahami dan bisa memainkan sepak bola yang benar, itulah goal Gumarang di level SSB. Apalagi kami sudah memiliki tim divisi tiga. Jadi setiap pemain memiliki target, dimulai dari kompetisi amatir," bebernya.

Ideal atau belumnya pembinaan di dalam sebuah SSB, Hengki mempertanyakan soal kurikulum sepak bola yang dipakai. "Tapi jika dibilang sudah ideal, kita tentunya harus menarik sebuah standar kurikukulum sepak bola di Indonesia. Di Malaysia sudah terjadi persamaan kurikulum hingga di level kecamatan. Di  Indonesia saya tidak mengetahuinya. Karena masih ada juga SSB punya lapangan kecil dan tanpa pelatih berlisensi. Kalau memang mau bagus, tentu dengan biaya yang lebih lagi.  Misalnya melengkapi peralatan latihan dan sejumlah program tambahan lainnya. Tapi dana itu sudah  pasti sangat besar dan hanya ditanggung Saya seorang," sebut Hengki.

"Sudahkah semua SSB dengan fakem yang sama? Yang pasti, saat ini kami sudah membuktikannya dengan lahirnya pemain. Kini mereka membela PSMS Medan, Bintang Jaya Asahan," pungkas Hengki.


Parlin Siagian :
"Dengan usia pemain yang di SSB, kita harus kelompokan mereka. Ada yang masih dibiarin saja suka-suka menendang bola, ada yang mulai kita ajarkan dasar-dasar bermain bola. Namun bukan berarti pelatih tak memantaunya. Setiap pelatih bertanggungjawab menemukan, mengasah pemain berbakat, atau tidak punya talenta sama sekali," Parlin Siagian.

"Jadi tidak bagus juga kalau ada SSB ikut turnamen, pemainnya itu-itu saja yang turun. Apalagi dipilih karena orangtua siswa donatur. Atau karena siswa inilah yang terbaik. Di satu sisi juga orangtua siswa ingin melihat anaknya bertanding. Kalau mereka kesal dan menarik anaknya dari SSB, bagaimana? Filosofi dasar SSB adalah membina. Tugas pelatih menjadikan siswa memahami cara bermain. Baru ini benar-benar membina"


Saktiawan Sinaga
Tayangan sepak bola dari luar negeri menjadi salah satu faktor besar membuat keinginan para pemain usia dini saat ini mau masuk ke Sekola Sepak Bola (SSB). Keinginan besar bisa membuat gerakan menyerupai pemain idola semakin melekat. Dalam setiap latihan ataupun pertandingan, tak canggung siswa-siswa SSB mencoba menunjukannya.

"Jika siswa di SSB saja sudah menginginkan gerakan seperti pemain idolanya, itu artinya dia telah menyaksikan pertandingan sepak bola level dunia. Seharusnya ini sudah menjadi tantangan bagi setiap pelatih di SSB untuk mengupdate ilmu kepelatihannya. Bahwa siswanya telah  menonton level teknik dan bermain level yang jauh di atas Indonesia," ujar Saktiawan Sinaga saat menyambangi SSB Gumarang FC Medan. Apalagi saat ini para orangtua dan siswa itu sendiri semakin kritis. "Menularkan dan menerapkannya ilmu  sepak bola adalah menjadi tanggungjawab pelatih. Saya pikir pembinaan sekarang ini harus lebih selektif lagi, termasuk dalam kualitas pelatih," sambungnya.

Keberhasilan pelatih tak sekadar datang dari ilmu yang diberikannya. Saktiawan Sinaga juga menyoroti attitude seorang pelatih selama memberikan kepelatihan. "Mulai dari bahasa ke pemain, cara berpakain dan cara menyikapi.  Selain mengarahkan siswa bermain bola, kita juga harus mengajarkan mereka berkomunikasi dengan baik, yaitu dengan bahasa tubuh kita. Saya juga sebagai pemain tak akan bosan datang dan memberikan motivasi ke SSB," pungkasnya.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow