Selamat Jalang Bang Tumpak Uli Sihite, Sosok Sederhana, Lugas dan Tegas

Selamat Jalang Bang Tumpak Uli Sihite, Sosok Sederhana, Lugas dan Tegas

Jun 21, 2019 - 07:15
 0
Selamat Jalang Bang Tumpak Uli Sihite, Sosok Sederhana, Lugas dan Tegas
Tumpak Uli Sihite (kiri) beberapa waktu lalu di Jakarta saat bertemu kerabatnya

BOLAHITA, MEDAN - Kabar duka datang dari persepakbolaan Tanah Air. Salah seorang legenda lapangan hijau era 1970-an, Tumpak Uli Sihite menghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta, Kamis (20/6/2019).


Tumpak yang tak hanya dikenal sebagai pemain tapi juga karirnya mentereng sebagai pelatih di beberapa klub Indonesia serta pernah menjadi asisten pelatih Timnas ini meninggal pada usia 77 tahun.


Bagi publik Sumut, sang putra daerah ini legenda PSMS era 60-70-an. Dia juga sempat menjadi pelatih klub PSDS Deliserdang tahun tahun 2000-an. Selain itu klub-klub seperti PSPS Pekanbaru, PKT Bontang, PS Batam dan Persipura Jayapura juga pernah menjadi batu loncatan dalam karir kepelatihannya.


Semasa aktif bermain, Tumpak mencatat prestasi seperti membawa Indonesia menjadi juara Piala Asia Junior 1961. Bersama PSMS, dia ikut andil meraih gelar Perserikatan pada 1967 dan 1971 dan juga meraih juara Piala Suharto, hingga akhirnya gantung sepatu jadi pelatih tahun 1973.


Semasa hidup, Tumpak lebih sering menghabiskan waktu di Jakarta bersama keluarganya. Pun demikian, kembali ke Medan pun beberapa kali sempat dilakukannya, termasuk mendatangi Stadion Teladan.


Meninggalnya TUS-sapaan lain Tumpak Uli Sihite, membuat rekannya berduka. Seperti yang dirasakan legenda PSMS lainnya, Parlin Siagian.


Parlin mengaku mengetahui kabar duka tersebut setelah dihubungi langsung oleh putra TUS. "Anaknya Bang Tumpak menelepon tadi pagi jam 10-an, anak yang paling besar Jordan bilang bapaknya kritis. Dan, jam 11.00 dia telepon lagi bilang Bang Tumpak sudah meninggal. Syok saya, sampai enggak sempat tanya kapan mau dibuat acara adat Bataknya. Cuma pasti di Jakarta," ujarnya kepada Bolahita saat dihubungi, Kamis sore.


Di mata Parlin, permainan Tumpak yang berposisi sebagai bek kanan masa itu masih jauh di atasnya. "Sebenarnya Bang Tumpak itu jauh sekali di atas saya permainannya. Saya pernah satu permainan dengan beliau waktu Marahalim Cup pertama kali," ungkapnya.


Secara pribadi, kata Parlin, Tumpak pribadi yang tegas. "Bang Tumpak itu sederhana tapi keras. Sesuai permainannya yang dimainkan di lapangan bisa saja terjadi di luar lapangan," lanjutnya.


"Saya turut beduka, dan merasa kehilangan sahabat. Karena sudah pasti kami banyak kenangan," tambahnya.


Salah satu momen yang diingat Parlin adalah saat keduanya masuk dalam tim pelatih Timnas untuk Piala Asia di Uni Emirat Arab tahun 1996. Tumpak juga pernah menjadi asisten pelatih Henk Wullems di Timnas Indonesia di Sea Games 1997.


"Saat itu tahun 1996, pelatih kepalanya Danurwindo, saya dan Bang Tumpak sama-sama asisten pelatih. Sebelum pergi ke Uni Emirat Arab, saat itu kami tur Eropa. Jadi banyak kenangan sama beliau," jelasnya.


Dalam keseharian, kata Parlin, dia dan Tumpak memang jarang ketemu di Medan. Namun, kalau dia ke Jakarta akan selalu berusaha bertemu Tumpak. "Kita sering ketemu karena waktu itu melatih Tim Bea Cukai Rawamangun. Jadi kalau kami ke Jakarta sering jumpa, ngobrol," pungkasnya.


Sementara itu, Tumpak meninggal karena sakit sejak beberapa bulan lalu. Dari unggahan putranya Hotman Sihite di akun Facebooknya, Februari 2019, Tumpak pernah dirawat di RSIA Hermina, Jatinegara.


What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow