Gelar juara play off Liga Primer Indonesia (LPI) yang didapatkan Pro Duta bisa-bisa dibatalkan. Pasalnya dalam beberapa pertandingan yang berlangsung di Jepara dan Bantul, disinyalir terlibat suap. Akibatnya indikasi tidak diakuinya pertandingan penentuan juara bisa saja terjadi.
Kabar ini berhembus dari Direktur Sekuriti FIFA (FIFA Director Security) Ralf Mutschke di sela-sela acara Kongres International Association of Sport Law (IASL) XIX di Hotel Inna Grand Bali Beach di kawasan Pantai Sanur, Bali, Selasa (29/10). Dia menyampaikan hal ini langsung kepada Ketua Komdis Hinca Panjaitan.
Sebelumnya FIFA telah mengindikasi memanipulasi (pengaturan skor) sesuai hasil deteksi Early Warning System Machine (EWS) yang digunakan FIFA. Namun Ralf akui tak berwenang menjabarkan hal itu karena kasusnya menjadi kewenangan PSSI, selaku federasi sepakbola yang berwenang di Indonesia. Bagaimana respon PSSI?
“Tentu kita tidak tinggal diam. Karena kita sudah sepakat untuk menyatakan perang terhadap judi atau pengaturan skor karena itu sangat tidak sehat. Pengurus bertekad untuk perang terhadap itu. Oleh karena itu indikasi dari FIFA ini akan kita teruskan ke Komdis. Nanti Komdis akan bergerak ke sana,” ujar Djohar Arifin ketua umum PSSI.
Pro Duta sendiri justru bingung bila dikatakan pertandingan play off terindikasi suap. Mereka menganggap kemenangan dan perjuangan yang sudah dilakukan murni. "Pertandingan yang mana? Bontang, PSLS. Kami heran dengan pemikiran yang seperti ini," ujar Wahyu Wahab, CEO Pro Duta.