Final digelar pada 23 Februari 1985 di Stadion Utama Senanyan Jakarta dengan dipimpin wasit Jafar Umar.
Babak Pertama.
Sejak pluit awal ditiup Jafar Umar, tanda dimulainya babak pertama, pertahanan
PSMS Medan terus ditekan Persib Bandung. Pemain-pemain Persib Bandung nampaknya melalui trio Ajat Sudrajat, Wawan Karnawan dan Iwan Sunarya bernafsu untuk membalas kekalahannya di babak semifinal lalu. Beberapa kali kiper Ponirin Meka dicoba oleh tembakan jarak jauh pemain-pemain Persib.
Para supporter Bandung yang menguasai sebagian besar stadion Utama Senayan Jakarta, menjadi terbungkam ketika Sunardi B mendapat umpan dari Amrustian. Kapten kesebelasan
PSMS itu melihat M.Sidik punya ruang tembak. Bola silang segera saja dimanfaatkan M. Sidik. Jebollah gawang Sobur.
Gol kedua terjadi di menit ke-34. Hasil kerja sama satu dua bek kanan Nirwanto yang turut membantu penyerangan memberi umpan pada M. Sidik. Dengan cepat M. Sidik mendribel bola menyusuk kotak penalti dan kembali menundukkan kiper Persib Sobur.
Sementara peluang Persib di babak pertama tercatat di menit ke-41. Dalam tendangan bebas yang diambil Kosasih, terima oleh Ajat Sudrajat yang terlepas dari pengawalan Hamdardi. Tapi tendangan Ajat naik di atas mistar gawang Ponirin.
Babak Kedua.
Di babak kedua pemain-pemain
PSMS tampil tak sehebat di babak pertama. Sementara Persib meningkatkan tempo permainan. Bahkan akibat frustrasi menemui benteng tangguh pertahanan berlapis
PSMS Medan, pemain-pemain Persib mencoba memancing permainan keras. Di menit ke-47 Ajat nyaris memperkecil kekalahan timnya. Ketika di dalam satu serangan sporadis berhasil melewati Sunardi A. Tapi manakala dia sudah berhadapan dengan kiper Ponirin Meka, penjaga gawang itu dengan berjibaku menerkam bola dari kaki Ajat yang hendak mengayunkan kakinya.
Persib berhasil memperkecil marka di menit ke-65. Dalam satu kemelut Sunardi A hands ball dalam kotak penalti. Wasit Jafar Umar langsung menunjuk titik penalti. Iwan Sunarya berhasil menyelesaikan tugas eksekusi itu dengan baik. Marka menjadi 2-1.
Sedang Persib menyamakan kedudukan di menit ke-74. Bermula dari tendangan penjuru Iwan Sunarya dan berhasil disundul Ajat Sudrajat ke tiang gawang PSMS. Sedangkan kiper Ponirin sudah terlanjur salah posisi.
Walaupun Persib mencoba makin meningkatkan tempo permainan, mempergencar tekanan ke pertahanan PSMS, tapi hingga pluit tanda usainya pertandingan di babak kedua ini, skor tak berubah 2-2.
Babak Perpanjangan Waktu
Dalam perpanjangan waktu, Ajat Sudrajat dan kawan-kawan yang ngotot menang untuk menambah gol kemenangan, memaksa pemain-pemain
Medan mengikuti tempo permainannya, yaitu keras yang tidak membahayakan. Akibat pola penampilan tersebut membuat wasit Jafar Umar memberikan kartu kuning terhadap Suryamin di menit ke-92 yang membuat pelanggaran terhadap Mamek Sudiono.
Anak-anak Bandung yang selalu memancing Sunardi dan kawan-kawan untuk melayani permainan keras tersebut, ketika di menit ke-98 nyaris baku hantam antara Nirwanto dan Kosasih. Kejadian tersebut bermula ketika Nirwanto yang sedang menggiring bola tiba-tiba disambar kakinya oleh Kosasih. Walau sudah demikian wasit hanya memberi peringatan terhadap Kosasih.
Di babak kedua perpanjangan waktu itu, tempo permainan makin meningkat, sehingga membuat penonton yang berjumlah 150.000 itu merasa puas, tapi tetap “jantungan†dan was-was. Bangga Gultom dan kawan-kawan yang mengambil alih penyerangan dan kendali permainan, nyaris membuahkan gol penentuan bagi timnya untuk tampil sebagai pemenang ketika di menit ke-114 melalui Hadi Sakiman.
Begitu pula bagi Persib Bandung melalui sundulan kepala Ajat Sudrajat hampir saja menggetarkan jala Ponirin.
Kartu kuning dihadiahkan wasit Jafar Umar kepada Robby Darwis di menit ke-118, karena menendang kiper Ponirin yang sudah menguasai bola. Dan akibat perbuatan Robby Darwis itu nyaris terjadi baku hantam yang mengundang pihak keamanan turun tangan lagi.
Babak Adu Penalti
Dalam gol penentuan adu penalti, Persib Bandung memperoleh kesempatan pertama. Iwan Sunarya yang menjadi algojo ternyata gagal menghasilkan gol yang sedang ditunggu supporternya. Tendangan nyasar ke samping tiang gawang Ponirin. Sedang tendangan pertama bagi
PSMS Medan dilakukan Sunardi B, dan dapat ditangkap kiper Sobur.
Penalti kedua bagi Bandung yang dilakukan Ajat Sudrajat berhasil menjebolkan gawang Ponirin. Sedang penalti kedua
PSMS Medan yang dilakukan Amrustian, bolanya terlalu lambung di atas mistar gawang Sobur.
Penalti ketiga bagi Bandung dilakukan Adeng Hudaya kapten kesebelasan Persib, tendangannya dapat ditangkap kiper Ponirin. Dan di pihak
Medan yang dilakukan Musimin, berhasil menyamakan kedudukan 1-1.
Tendangan penalti keempat bagi Persib Bandung dilakukan Dede Iskandar dapat diblok kiper Ponirin yang bermain makin mantap dan cemerlang serta percaya diri itu. Sedang di pihak
Medan yang dilakukan Nirwanto, bola dapat ditahan kiper Sobur.
Pada tendangan penalti kelima dan merupakan penentuan bagi kedua kesebelasan, di pihak Bandung dilakukan Robby Darwis. Bola yang ditendangnya ternyata dapat ditepis kiper Ponirin. Di pihak
PSMS Medan Mamek Sudiono tampil sebagai algojo, dan berhasil menyarangkan gol ke gawang Sobur yang membuat para supporter
PSMS histeris,
menyambut kemenangan mahal itu. Dan tampillah
PSMS Medan si Ayam Kinantan itu sebagai juara nasional Perserikatan untuk keenam kalinya.
Keberhasilan Ayam Kinantan
PSMS mempertahankan kejuaraan PSSI tahun 1984/1985 dengan 4-3 lewat adu penalti dengan Persib telah dirayakan secara spontan tidak kurang dari ratusan ribu pencinta kesebelasan
PSMS di kota
Medan dan di berbagai kota di daerah-daerah tingkat II di
Sumatera Utara. Bahkan di tanah Serambi Mekkah, Aceh, kemenangan
PSMS tersebut disambut dengan teriakan-teriakan histeris dan yel-yel hingga sebuah kedai kopi terletak di tengah kota pada porak-poranda.
Berbagai macam cara dilakukan dalam menyambut kemenangan
PSMS tersebut, seperti di kota
Medan misalnya Sabtu malam itu, puluhan kendaraan yang ditumpangi fans Ayam Kinantan itu dilakukan dengan pawai keliling kota
Medan dengan yel-yel “Hidup PSMS, Hidup Ayam Kinantanâ€, “Selamat Jadi Juaraâ€, “Horas
Medan, Horas PSMS†dan ada pula di antaranya dengan jingkrak-jingkrak di jalanan, pawai becak dll.
Pertandingan tersebut layak dikenang dalam sejarah kompetisi sepak bola di Indonesia terutama oleh pendukung kedua tim. Karena telah menciptakan rekor jumlah penonton. Stadion yang (waktu itu) berkapasitas 120.000 orang dipadati oleh bobotoh Persib dan suporter
PSMS hingga mencapai 150.000 penonton. Akibatnya penonton dibolehkan nonton sampai meluber ke pinggir lapangan. Menurut buku AFC terbitan 1987, pertandingan itu merupakan pertandingan terbesar dalam sejarah pertandingan amatir di dunia.
PSMS Medan: Ponirin Meka, Nirwanto, Hamdardi, Suheri, Sunardi A, Sakum Nugroho (RS Bangga Gultom), Musimin, Hadi Sakiman, Amrustian, Sunardi B (c), M. Sidik (Mamek Sudiono).
Persib Bandung: Sobur, Suryamin, Dede Iskandar, Robby Darwis, Adeng Hudaya (c), Ajat Sudrajat, Kosasih, Sukowiyono, Suhendar (Yana Rosdiana), Iwan Sunarya, Wawan Karnawan (Dedek Rosadi).