PSSI Evaluasi Proyek Sepak Bola Wanita di NTT
PSSI Evaluasi Proyek Sepak Bola Wanita di NTT
Yopie Riwoe, asisten pelatih skuat Garuda Pertiwi juga hadir pada turnamen yang melibatkan sekolah-sekolah di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) ini. Bersama Eksekutif Komite PSSI Papat Yunisal yang juga berada disana, Yopie memantau secara langsung segala kegiatan yang terjadi di lapangan, baik teknis dan non teknis.
Meski berstatus sebagai asisten pelatih Timnas, Yopie hadir sebagai perwakilan PSSI untuk memantau dan mengevaluasi proyek sepakbola wanita yang kini tengah dikembangkan di Nusa Tenggara Timur.
“Tujuan saya datang ke sini yang utama adalah memonitoring dan mengevaluasi proyek sepak bola wanita hasil kerjasama PSSI pusat bersama Asprov NTT, dengan Yayasan Plan Internasional Indonesia, serta Rumah Solusi Beta Indonesia (RSBI) terhadap pembina dan pelatih yang pernah ikut Training of Trainer atau kursus kepelatihan. Dari hasil pertemuan dengan mereka terakhir pekan ini, saya evaluasi apa saja kendala dalam penerapan hasil kursus untuk anak-anak didik dan apa jalan keluar yang bisa kita pikirkan bersama. Artinya, para stakeholder bisa mencarikan solusi untuk kemajuan atau progres dan memikirkan bagaimana kendala tersebut dapat teratasi, sehingga pelatih dan tim di daerah dapat melakukan proses latihan†ungkapnya
Yopie menambahkan kendala paling dominan bagi pengembangan sepak bola wanita di daerah tak lain menyangkut jarak tempuh yang harus dilalui anak-anak sebelum mencapai tempat latihan, dan fasilitas lapangan yang belum memungkinkan. Untuk itu, PSSI memberikan solusi untuk membangun lapangan sintetis di masing-masing daerah di kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Lapangan sintetis dinilai ideal, mengingat kondisi geografis di NTT dimana musim kemarau jauh lebih panjang dibandingkan musim hujan.
“Secara teknis di lapangan, mereka belum bisa maksimal karena fasilitas lapangan yang belum memungkinkan, mereka hanya sekedar berlatih hal-hal yang dasar saja. PSSI mengusulkan agar ke depannya jika kerja sama ini berlanjut, juga diperhatikan fasilitas lapangan. Kami usulkan untuk membangun lapangan sintetis, di masing-masing wilayah TTU dan TTS, jadi mereka bisa pakai pagi sampai malam. Kebanyakan masalah non teknis, seperti jarak tempuh bagi anak-anak, yang karena jarak tempuh itu sehingga yang datang hanya 4-5 orang untuk latihan, di hari esoknya datang dengan jumlah yang sama namun dengan orang yang berbeda, kendala non teknis seperti ini yang harus dibicarakan dengan sekolah dengan Plan dan RSBI†tutupnya
Sementara pihak Yayasan Plan Internasional Indonesia melalui Magdalena Pasaribu selaku Decide Program Manager menyatakan bahwa proyek yang sudah dilakukan ini sudah terlaksana sesuai dengan rencana. “Kerja sama yang cukup bagus antara semua pihak, baik PSSI, Asprov Nusa Tenggara Timur dan RSBI. Semua komunikasi dan koordinasi terjalin dengan baik. Kami disini memiliki visi yang sama sehingga dari segi perencanaam hingga pelaksanaan semua terjadi sesuai dengan yang diinginkan, meski ada beberapa kekurangan yang tentu akan menjadi bahan evaluasi ke depannya†ungkap Magdalena
Dirinya menambahkan wacana pembangunan lapangan sintetis yang merupakan hasil rekomendasi PSSI bagus adanya dan bisa dijadikan pertimbangan ke depannya, dengan harapan bisa mendapat dukungan pula dari pemerintah lokal di daerah. “Untuk kerja sama terkait sepak bola wanita, memang kami memliki tujuan untuk memberdayakan anak khususnya perempuan, agar mampu mencegah perilaku beresiko dan mempromosikan kesetaraan gender di sekolah melalui sepakbola. Tapi kami juga butuh dukungan dari berbagai pihak, mulai dari sekolah, orang tua, asosiasi sepak bola dan tentu saja pemerintah lokal di daerah. Ini menyangkut pengembangan minat bakat sejak usia dini yang bisa dijadikan bibit untuk tim nasional nanti. Yang pasti ada concern di situ, semoga pemerintah mau memperhatikan dan membantu infrastruktur ini†tutupnya
What's Your Reaction?