16 Tahun Gumarang FC Eksis, Owner Klub Liga 3 Sumut Habiskan Miliaran Rupiah

Sosok Hengki Ahmad Yang Universal, Miliaran dan Gila Bola 

16 Tahun Gumarang FC Eksis, Owner Klub Liga 3 Sumut Habiskan Miliaran Rupiah
Gumarang FC Medan

Ramainya trofi juara, foto-foto yang terpampang di mes Gumarang FC seakan lebih mahal dari Miliaran rupiah yang sudah habis dikeluarkan membina di sepakbola.

Abdi Panjaitan, dari Medan

Ya, Miliaran rupiah yang sudah habis selama 16 tahun eksis membina tidaklah sia-sia. Kepuasan batin, kesehatan hingga kebanggaan tentu menjadi hal yang tak terbayarkan bagi sosok Hengki Ahmad SH, owner Gumarang FC.

16 tahun melangkah di sepakbola Sumatera Utara pantas membuat pamor Gumarang FC sebagai klub mentereng yang tak perlu diragukan. Eksistensi, kondistensi pembinaan berprestasi berjenjang yang dilakukan telah membawa Gumarang FC dikenal di Sumatera Utara pada umumnya. 

Gumarang FC ada sejak tahun 2005 lalu, melalui sebuah sekolah sepakbola (SSB) hingga terus berkembang. Yang kini memiliki kelompok usia berjenjang hingga ke level prestasi dan klub di Liga 3 Sumut.

Banyak pemain Liga Indonesia yang dilahirkan dari Gumarang FC Medan yang memperkuat sejumlah klub Liga 1,2 dan 3. Beberapa nama adalah Guntur Pranata, Sapri koto, Ardiansyah Lenglolo, Ronald Sinaga, Sandi sitanggang, Ade Mbom irawan, Dian Ramdhan dan beberapa lainnya.

Konsistensi Gumarang FC Medan terus dibangun oleh Hengki Ahmad SH. Seorang pengusaha Toko Sport yang bernama Kagaya. Hengki hingga saat ini, hanya seorang diri membangun masa depan sepakbola usia dini bagi ratusan siswanya di lapangan Ladon. 

Saat interview dengan Bolahita, Hengki Ahmad tak mau menunjukan keluh kesahnya. Baik dalam teknis klub atau pun financial. Sejak 2005 hingga 2021, faktanya Gumarang FC terus eksis dalam sepakbola Sumut. 

Tapi, memang tak bisa dipungkiri jika kondisi pandemi saat ini juga membuat goyang bisnisnya. Hingga pelan-pelan berjuang bangkit untuk normal kembali. 

Siapa sosok dan seperti apa Hengki Ahmad menjaga eksistensi Gumarang FC ini? Berikut beberapa hal yang diperoleh Bolahita saat melalukan wawancara. 

#Tanpa Darah Sepakbola Di Keluarga

Hengki Ahmad mengakui jika sama sekali tidak ada darah sepak bola di keluarga besar. Ayahnya seorang pedagang berdarah Minang dan ibu mengurusi rumah tangga. "Sepakbola hanya ada pada Saya, tidak di abang dan kakak," kata Hengki Ahmad. 

"Candu sepak bola ini bermula ketika tontonan di tahun 1980, final Piala Dunia tahun 1978 Belanda versus Argentina yang acap kali diputar di televisi. Dan Saya itu dari kecil memang suka mengumpulkan orang di rumah atau suatu tempat. Misalnya malam minggu tidur di rumah dan minggu pagi kami main bola," ucap Hengki Ahmad. 

#Andalkan Pendapatan Kagaya Sport, Tak Semua Istri Diberitahu

Bagi sosok Hengki Ahmad, sudah banyak cerita asam, manis dan pahit yang dilahirkan, didapatkan dari sepakbola. Pengabdian dalam pembinaan yang dilakukannya memang seperti tanpa tanda jasa. "Tak ada untung, justru kita semakin menggila dibuatnya. Klub yang saya bina, Gumarang FC Medan ini memiliki tim, SSB, prestasi, senior dan oldcrack," kata Hengki. 

"Sejak berdirinya klub ini belasan tahun lalu, saya bisa hitung setidaknya sudah ada 2 miliar yang habis. Dan itu adalah uang Saya pribadi. Gumarang FC Medan masih mengandalkan kemampuan saya seorang, yang nota hanya memiliki toko sport biasa di Kota Medan," beber Hengki. 

"Pertanyaannya, apakah istriku mengetahuinya? Bagiku ada sebuah prinsip, ada hal yang perlu dibagi tahu sama istri dan ada bagian yang tidak perlu diiberitahukan," Hengki Ahmad. 

#Miliaran Rupiah Ludes, Terbalaskan Hanya Dengan Deretan Trofi

Bahkan sejujurnya, Hengki Ahmad sama sekali tidak pernah memikirkan jumlah uang yang sudah dikeluarkannya. "Miliaran uang yang sudah keluar ini tak pernah kupikirkan. Menurutku ramainya trofi juara, foto-foto yang terpampang di mes Gumarang FC seakan lebih mahal dari dua miliar," bilang Hengki Ahmad sambil tertawa. 

"Ya mungkin yang tidak suka sepak bola akan berpikir Saya orang gila. Tapi Saya memang gila. Gila sepak bola yang merajarela, yang sudah membuatku membagikan keuntungan bisnis ke pembinaan di sepak bola," kata Hengki.

Apakah masih ada Hengki Ahmad yang lain di Kota Medan? Jawabannya pasti ada. Disisi lain, dukungan keluarga juga mempengaruhi eksisnya Gumarang FC sampai saat ini. 

"Saya termasuk beruntung ketika istri dan anak-anakku memahami seperti apa ayahnya di sepakbola. Bagi Saya sepak bola itu universal, tidak ada bicara etnis, agama, suku atau warna kulit. Gumarang FC tidak inklusif tapi sangat universal dalam perbedaan. Inilah indahnya gila sepak bola, kita bisa bahagia," pungkas Hengki Ahmad.