Catatan Ringan Abdi Panjaitan : Cantiknya Stadion Teladan di Android, iOSku

Catatan Ringan Abdi Panjaitan : Cantiknya Stadion Teladan di Android, iOSku

Apr 6, 2017 - 18:31
 0
Catatan Ringan Abdi Panjaitan : Cantiknya Stadion Teladan di Android, iOSku
Kondisi ruang ganti Stadion Teladan beberapa bulan lalu, sempat menjadi pemandangan miris
Antusias yang dipertontonkan anak-anak sekolah dasar (SD) di gelaran Milo di Stadion Teladan lalu luar biasa. Mereka memainkan bola penuh semangat, dengan ritmenya masing-masing. Ratusan anak-anak tersebut tak terusik dengan panas terik matahari. Mereka sedang merayakan hari kemenangan.

Catatan – Abdi Panjaitan, pemuja PSMS Medan

Bocah-bocah masih belum faham apa itu kualitas rumput. Mereka belum mengerti arti maskulin dan dengan wajah ganteng. Ketika itu mereka hanya disibukan mengejar bola kesana kemari, bergembira usai mencetak gol, menang dan dapat bersalaman dengan Kurniawan Dwi Julianto, legenda sepak bola Indonesia. Tawa, euforia raut wajah bahagia mereka sangat khas waktu itu. Ya, kami baru saja bersenang-senang di Stadion Teladan, stadion kebanggaan PSMS.

Antusias yang sama juga dipertontonkan para fanatik sepak bola di Kota Medan. Ketika PSMS Medan menjajal Persib Bandung dalam sebuah el clasico bertajuk uji coba di Stadion Teladan, Minggu (26/3/2017) sore. Sebanyak 20 ribu lembar tiket yang dicetak panitia habis terjual. Semua tempat duduk di tribun penuh, penonton berjubel. Ada yang pingsan, handphone hilang, dehidrasi akibat badan yang berhimpitan dan berdiri selama 90 menit. Istilahnya, saat itu Stadion Teladan sudah over capacity.

Meskipun sudah mendapat tambahan satu baris di tribun timur, secara kasat mata yang hadir di laga el clasico 2017, Stadion Teladan tetap tak mampu menampung suporter, fans dan penggila sepak bola Kota Medan. Semua lorong di stadion disesaki penonton. Tak ada space yang bisa membuat leluasa bergerak ke kiri dan ke kanan dan ke depan. Bergeser sedikit, maka posisi dirimu berpindah. Salud juga. Demi sebuah el clasico.

Semuanya dibayar mahal dengan berdiri sempit-sempitan, udara yang menipis, handphone hilang, berdesakan. Menonton tanpa tidak boleh bergeser? Apa dengan membayar seharga 60rb atau 100 ribu di VIP, itu yang didapatkan? Rasanya jauh dari rasa nyaman bukan.

Pundemikian, partai el clasico ini sangat ditunggu dan menarik hati. sembilan puluh menit di pinggir pagar, berdiri berhimpitan, publik Medan rela. Demi melihat Persib Bandung, musuh bebuyutan PSMS Medan sejak era perserikatan. Sebuah era dimana PSMS Medan sangat disegani. Sebuah masa emas bagi tim berjuluk Ayam Kinantan. Dengan seribu cerita nyata yang dihasilkan dari Stadion Teladan.

Puluhan pemain bintang lahir dan dibesarkan dari sini (Stadion Teladan, red). Ditandangi klub-klub dari luar negeri. Hingga padatnya pertandingan di Stadion Teladan melahirkan efek bombastis. Kiblat sepak bola Indonesia tak bisa lepas dari Sumatera Utara.Komposisi dan dominasi skuad merah putih era itu dari Medan

Sebut saja Ramlan Yatim, Manan Laly, Ramli Yatim, Buyung Bahrum, Rasyid, Anwar Daulay, Idris, Jusuf Siregar, Syamsudin, Ahmad Kadir dan Cornel Siahan di tahun 1950 adalah awalnya. Menyusul kemudian Yuswardi, Muslim, Rudy Siregar, Jamaluddin, Zulham Yahya, Sunarto, Edy Suwardi, Abdul Rahim, Zulkarnaen, Ipong Silalahi dan Nawir Siregar di tahun 1960-an. Dan juga ketika tendangan pisang Parlin Siagian, Sunardi B. Nobon dan Ponirin.

Kepuasan, Kebanggaan Android, iOS dan Stadion Teladan

Teknologi sangat memacu manusia untuk saling berlomba mengetahui apa isi dunia. Dengan satu genggaman, dengan satu klik, tiada batas bagi kita untuk berkomunikasi meski beda negara. Ya, itu semua bisa kita dapatkan melalui canggihnya sistem operasi handphone. Nokia 3310 justru sudah diproduksi ulang dengan sistem android. Zaman terus pesat berkembang, teknologi tak bisa dibendung. Android atau iOS cukup memanjakan. Kepuasan menjadi tujuan utama para vendor untuk bersaing. Semakin mahal handphone mu, maka kualitas foto saat wefie, selfie atau video call.semakin baik. Kualitas handphone canggih membuat konsumen berlomba-lomba membeli handphone sesuai keinginan mereka. Teknologi di handphone bisa membuat lapangan atau rumput teladan berseri. Berbagai macam filter disediakan. Harga tak masalah, asal mereka dapatkan. 

Sepak bola juga sebenarnya sudah memasuki fase modren. Tidak lagi bicara itsme kedaerahan. Bukan era bermain sepak bola untuk bisa diperkerjakan di instansi. Saat ini di era profesional. Sepak bola yang menggunakan sport scienc. Tidak ada lagi kasat mata. Data dan fakta, video pertandingan menjadi bahan evaluasi. Sepakbola maju pesat dalam taktik dan strategi. Sepak bola juga tak lagi semata 90 menit di lapangan.

Sepak bola saat lebih ke entertain. Sembilan puluh menit adalah waktunya unjuk kemampuan. Kepada pelatih, untuk tim dan bagi penonton. Sembilan puluh menit sekarang sangatlah mahal. Karena untuk hasil yang memuaskan.

Dengan sebuah aplikasi di play store, kita para suporter dan fans bisa memberikan respon terhadap performa pemain. Dari sana juga lahir kenyamanan bahkan keuntungan. Tidak dengan penonton yang berdesakan, berdiri berhimpitan.

Sejak tahun 2008, kalau tidak salah, infrakstruktur menjadi sorotan tajam AFC. “The future is Asia“, begitu mereka menamakannya. Setiap klub di liga teratas Asia harus memiliki stadion yang lulus verifikasi. Misi AFC memakan korban, yaitu Stadion Teladan. Menjelang bergulirnya Super Liga 2008/2009 lalu, stadion yang berdiri di tahun 1953 ini dinyatakan tak lolos verifikasi. Efeknya saat itu berdampak panjang bagi sepakbola Sumatera Utara. Kota Medan sepertinya sudah dianggap tak menjanjikan bagi pemain bola. Mereka (para pemain, Red) lebih memilih berkarir di luar Medan ketimbang bertahan.

Di tahun 2011, PSSI dan AFC pernah kembali kedatangan delegasi untuk memeriksa Stadion Teladan. Hasilnya saat itu harus tetap ada perbaikan terhadap jumlah watt lampu, fasilitas ruangan dan lapangan. Dan hasilnya, di beberapa tahun selanjutnya terjadilah renovasi. Dan kemenpora turun untuk lapangan dan APBD Kota Medan untuk penambahan tribun timur. Pendek cerita, ya itulah hasilnya. Stadion Teladan yang kita lihat saat melawan Persib Bandung. Dengan rumput yang aduhai, yang membuat Supardi dan Djadjang Nurjaman gelengkan kepala. Kenapa Medan belum ganti handphone ya? Mungkin itu pikirannya.

Antara Bandara Kualanamu dan Stadion Teladan

Ada banyak alasan kenapa Stadion Teladan memang harus direnovasi atau membangun penggantinya. Termasuk dengan membangun Bandara Kualanamu di Deliserdang. Jumlah arus penumpang yang kian membludak, badan pesawat yang semakin besar serta menghindari kecelakaan menjadi alasan yang pantas. Dan poin terpenting adalah soal infrakstruktur Bandara Polonia Medan yang sudah tidak sesuai lagi dengan kemajuan zaman dengan pola pikir manusia saat ini.

Begitu juga dengan Stadion Teladan. Sepakbola juga akan terus mengalami kemajuan pesat. Para pecinta bola di masa akan datang akan lebih mementingkan kenyamanan dan keselamatan dalam menyaksikan pertandingan di stadion. Apa bukti saat PSMS Medan melawan Persib Bandung tidak cukup? Bagaimana mau nyaman, mau masuk saja susah. Seperti naik bus di Jakarta saja, berdesakan, berhimpitan.

Begitu juga dengan sekitar 7 ribuan siswa di SSB Sumatera Utara yang bersaing ingin menjadi pemain bola. Jumlah yang sangat luar biasa tentunya. Mereka adalah anak-anak yang percaya, bahwa sepakbola mampu menjadi sumber penghidupan kelak. Lantas, bagaimana dengan pembangunan Stadion baru? Eh katanya ada lho, mau segera akan dibangun di desa Senah Batangkuis dengan luar areal 200 ha. Ya, semoga saja.

Mari berpikir positif soal standar klub di verifikasi yang diinginkan AFC. Itu semata untuk memajukan sepak bola di Asia. Jangan pernah membandingkan Stadion kita dengan Stadion Pendidikan Persiwa di Wamena. Tidak akan ada kemajuan jika kita selalu membandingkan dengan hal terburuk. Berpikirlah, seberapa penting misi AFC ini, dan seberapa besar manfaatnya dengan kehadiran stadion bertaraf internasional di Sumatera Utara. Jangan kita bermimpi, tapi dalam kondisi tidak tertidur. Berharap berprestasi namun tak serius dalam infrakstruktur.

Lihat saja Bandara Kualanamu yang dielu-elukan. Setiap kali kita ke luar kota, ada ada yang mengatakan “luar biasa bandara baru di Medan ya”. Ya kalau sekarang yang ada hanya, “macamana stadion teladan itu. gitu-gitu aja ya”.

Sama seperti Bandara baru dengan infrakstruktur yang mantap. Di dukung teknologi yang mumpuni dan lebih banyak menampung jadwal penerbangan dan jumlah penumpang. Hitung sendiri aja berapa dan apa saja yang mereka dapatkan dari situ.

Stadion bertaraf internasional dengan rumput yang layak akan sepakbola melahirkan tontonan menarik. Kenyamanan tidak hanya ada pada penonton, tapi juga kepada pemain. Infrakstruktur stadion yang lolos verifikasi melahirkan show yang sangat industrialistis. Apa masih Bandara Kualanamu saja yang pantas diagungkan?

Demi mengembalikan tradisi emas PSMS, siapa pun itu harus berperan jujur dan tulus. Stadion Teladan telah melahirkan banyak kenangan dan prestasi. Kami selalu menanti-nanti janji saat kampanye. Arab Saudi-Mesir saja sepakat bangun jembatan di Atas Laut Merah. Apa sulit bagi pemerintah Kota Medan dan kabupaten berdampingan.

Jangan biarkan PSMS terhenti berkarya di sepak bola Indonesia. Kita butuh stadion baru bertaraf internasional.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow