Cerita SSB di Ubud Bali Dibentuk Gara-Gara Sampah Plastik

Cerita SSB di Ubud Bali Dibentuk Gara-Gara Sampah Plastik

Dec 16, 2019 - 09:51
 0
Cerita SSB di Ubud Bali Dibentuk Gara-Gara Sampah Plastik
SUdah sekitar 100 anak di Ubud dan sekitarnya yang mengikuti latihan

BOLAHITA, UBUD - Gelar juara Bali United di Liga 1 musim 2019 ternyata berdampak besar bagi tumbuh kembang sepakbola di Pulau Dewata.

Animo sepak bolanya pun terus menggeliat seiring prestasi yang diraih klub milik dua kakak beradik Pieter dan Yabes Tanuri ini.

Salah satu efeknya adalah bermunculan SSB (Sekolah Sepakbola) diberbagi pelosok Bali, termasuk di Ubud, Gianyar. Adalah SSB Putra Ubud yang bermarkas di Lapangan Astina Ubud.

Ada yang menarik sampai hadirnya SSB yang dipelopori pengurus kelurahan Ubud ini. Itu bermula dari sampah plastik. Lah kok bisa?

Cerita unik tersebut langsung dikemukakan John Sudarsa, salah seorang penggagas terbentuknya SSB ini kepada Bolahita.id saat diundang ke Ubud, Minggu (15/12/2019) siang.

"Awalnya memang disekitaran lapangan Astina ini. Kami melihat banyak anak-anak bermain bola tampa ada pembimbing. Suatu ketika, saat warga kelurahan menjalani program bersih-bersih sampah plastik diarea lapangan, kami mendapati banyak anak-anak yang bermain bola tanpa dikoordinir dengan baik. Melihat itu terbesitlah ide untuk mengumpulkan anak-anak ini untuk berlatih dengan pola serta ditangani para pelatih, karena dari kacamata kami, kami melihat banyak anak berbakat," ujar John.

John ternyata tidak sendiri yang berniat mendirikan SSB yang diberi nama SSB Putra Ubud tersebut. Beberapa warga kelurahan Ubud yang ambil bagian, diantaranya Kadek Sumendal, Gusti Rai, Mantan wakil Bupati Gianyar, Dewa Made Wardana, dan juga tokoh Ubud yang juga Ketua Asprov PSSI Bali, Ketut Suardana.

Agar SSB ini bisa ditangani dengan baik, para penggagas langsung merekrut para pelatih lokal yang berlisensi, seperti Gading Sugiarta, Pande Widya dan Panjul Astika.

"Kami mulai latihan pertama tanggal 8 Desember 2019 lalu. Jadwal kegiatan masih rutin hari libur, kamis, dan selasa. Kami untuk saat ini tidak memungut biaya apapun. Semua kebutuhan anak-anak masih berbentuk swadaya bersama, baik penggagas, pelatih maupun orang tua anak-anak." ucap Kadek Sumendal.

Sementara ini sudah sekitar 100 anak di Ubud dan sekitarnya yang mengikuti latihan. Jumlah ini diyakini akan terus bertambah karena animo masyarakat sekitaran kawasan wisata terkenal di Bali ini sangat tinggi.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow