Curhatan Edy Rahmayadi, Kali Pertama di PSMS Hingga Kisah Bertemu Syukri Wardi di Tanjunggusta

Curhatan Edy Rahmayadi, Kali Pertama di PSMS Hingga Kisah Bertemu Syukri Wardi di Tanjunggusta

Jul 14, 2019 - 07:58
 0
Curhatan Edy Rahmayadi, Kali Pertama di PSMS Hingga Kisah Bertemu Syukri Wardi di Tanjunggusta
Punggawa PSMS Medan saat menggelar latihan di Stadion Kebun Bunga
BOLAHITA, MEDAN - Pamor Edy Rahmayadi di PSMS Medan langsung mencuat sejak empat tahun terakhir seakan lekat dengan PSMS Medan. Sejak 2015, dia memutuskan masuk ke PSMS hingga kini menjadi Dewan Penasehat klub berjuluk Ayam Kinantan itu.

Di hadapan pengurus, suporter, mantan pemain, bahkan skuad muda PSMS yang hadir dalam ajang silaturahmi di Gedung Bina Graha Pemprov Sumut, Jumat (12/7/2019), Edy mencurahkan isi hatinya.

Edy mengatakan saat masuk ke PSMS, dia mendapati banyak persoalan yang ada di klub. Mulai dari pemain tak digaji, uang laundry baju pemain belum dibayar yang harus diselesaikan satu-satu.

Belum lagi begitu dia melihat Stadion Kebun Bunga saat itu berantakan. Dia mendapati alat kontrasepsi juga pakaian dalam. “Di sebelah depannya pemain PSMS makan nasi bungkus duduk di bawah. Nangis saya, gila kalian semua. Itulah yang terjadi, saya panggil wali kota, saya Pangdam saat itu, saya coba dengan uang saya yang ada saya bersihkan itu, saya bangun (PSMS). Tak ada untungnya saya membawa PSMS, kecuali rasa cinta dan sayang saya kepada PSMS,” ujarnya.

Kemudian, dia mulai berkeliling selama 5-6 bulan, mencari bibit pemain dari klub-klub PSMS. “Klubnya ada, orangnya tak ada. Saya kumpulin di sini (klub-klub PSMS), malah tanya apa untuk kami pak, wah kacau. Ribut-ribut, awak pulak mau dilengserkan. Sudah gila kalian ini, habis duit datang ke Kostrad,” kisahnya.

Saat itu, dia menyebutkan ada oknum pengurus PSMS yang datang dua hari sebelum lebaran meminta THR untuk skuad, pelatih dan pengurus PSMS. Edy yang saat itu memegang uang Rp400 juta, harus membagi dua uang itu untuk PSMS, dan setengah lagi untuk stafnya di kesatuan juga kebutuhan lebaran keluarga dan sanak family di Medan. “Kubagi dua, sampai kayak gitulah aku sayang sama PSMS. Sama istriku saja yang enggak kubagi sama kalian. Demi Tuhan ini tak main-main,” bebernya.

Dia juga menceritakan tentang pertemuan dengan Komisaris Utama PT PeSeMeS Medan, Syukri Wardi yang kini mengklaim sebagai pihak yang memiliki berkas legal kepemilikan logo PSMS. Syukri saat itu sedang dalam masa tahanan di Lapas Tanjunggusta.

“Jam 12 malam saya datangi Syukri di penjara. Saya minta izin sama dia itu. Pangdam mayor jenderal masih pakaian dinas demi Tuhan. Kau tanya Pangdam dari ujung ke ujung pernah enggak kekgitu (ke penjara tengah malam),” tandasnya.

Saat itu, di luar jam besuk, Edy dan beberapa orang dalam rombongan termasuk pengurus PSMS masa itu 2015-2016, tak diperbolehkan masuk. “Tak dikasih sama penjaga penjara. ‘Jangan sempat kubongkar ini (penjara)’ (ucap Edy ke sipir),” lanjutnya.

Lalu diperbolehkan, dan Syukri bisa bertemu rombongan. “PSMS mau kubenahi, (Syukri bilang) iya pak, tanda tangan,” kenangnya.

Kemudian, Edy memanggil pihak lainnnya, Indra Saktri Harahap dan mengatakan ingin mengambil alih PSMS. Dan diiyakan. Setelah izin dari semuanya, Edy dan PSMS berjalan hingga akhirnya dari Liga 2 ke Liga 1.

Dan dia curhat kembali sulitnya di PSMS karena bolak balik harus bayar denda. Sebagai Ketua PSSI saat itu dan juga Ketua Dewan Pembina PSMS, gajinya terpaksa dipotong atau dari kocek pribadi untuk bayar denda PSMS mulai gara-gara nyanyian ke wasit, flare, dan segalanya hingga hampir Rp1 miliar. “Kalau uangku ini kupakai untuk kasih vitamin untuk atlet aku rela. Aku Ketua PSSI, dipotong sama Komdis, siapa yang kuat kalau begitu caranya. Bayarin utang aja terus,” jelasnya.

Diapun meminta suporter atau penonton tak lagi membuat klub didenda hanya gara-gara apa yang terjadi stadion.

Edy juga menyentil saat banyak orang yang menyebutnya menjadikan PSMS sebagai kendaraan politiknya saat mau jadi gubernus Sumatera Utara. “Ada kalian kumpulkan?,” tanyanya ke suporter.

Untuk itu dia juga mengajak suporter untuk terus mengawal PSMS, termasuk bersikap saat PSMS sedang mengalami dualisme PT dan sedang dilaporkan ke pihak berwajib.

Edy memastikan, dia bukan mata duitan di PSMS. Termasuk saat ada sponsor diduga NorthCliff yang ingin mengambilalih PSSMS secara total dengan iming-iming Rp2 triliun. “Dari Singapura datang mau beli PSMS. Rp2 triliun dia tawarkan PSMS ini. Kalau aku mata duitan, bisa kalian bayangin kawin lagi, berapa istriku. Tapi bukan (soal uang) itu semua. Bagaimana hati ini aja. Itu aja kuncinya,” ungkapnya.

Soal logo, Edy menegaskan itu bukan milik segelintir orang. “Logo itu milik sesepuh PSMS. Milik rakyat Sumut. Bukan milik perorangan. Sudah final PSMS milik rakyat Sumut,” tegasnya.

Edy pun membantah tudingan banyak orang yang menyebutnya gila jabatan. “Kenapa PSMS tidak saya serahkan, karena PSMS di hatiku. Jangan main-main, Karena aku cinta sama PSMS,” ungkapnya.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow