PSMS Medan Dalam Bahaya, Jangan Manja
PSMS Medan Dalam Bahaya, Jangan Manja
Puluhan pemain nasional dilahirkan dari klub yang lahir tahun 21 April 1950 tersebut. Sebut saja beberapa diantaranya adalah Ramlan Yatim, Manan Laly, Jusuf Siregar, Ipong Silalahi, Sarman Panggabean, Tumsila, Nobon, Zulkarnain Pasaribu, Wibisono, Parlin Siagian, Ponirin Meka, Eddy Simon, Tumpak Uli Sihite, Effendi Marico, Patar Tambunan, Sunardi B, Sakum Nugroho dan banyak lagi. Generasi emas terakhir adalah Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean dan Markus Haris Maulana.
Tahun 1967 ketika PSMS juara PSSI, Kota Medan dielukan-elukan. Merebut gelar demi gelar kompetisi PSSI, turnamen di luar dan dalam negeri. Barometer sepakbola Indonesia pun berpindah. Sejumlah pemain nasional dari luar Sumut malah bergabung. Torehan itu membuat tim berseragam hijau-hijau ini pernah dijuluki the killer. Tapi itu dulu, cerita masa lalu yang kini malah remuk. Justru dua musim terakhir cerita pahit, makan nasi bungkus, tidak gajian yang beredar.
Tahun ini dualisme baru saja berakhir. PSSI memberikan restu kepada Indra Sakti Harahap melanjutkan tugasnya. Pundemikian, harapan bisa kembalinya kejayaan PSMS dirasakan sulit. Faktor financial menjadi musuh terbesar Ayam Kinantan. Sampai saat ini para pemain belum disodorkan kontrak kerja. Menghadapi Divisi Utama 2014, tim besutan Kustiono juga mayoritas mempergunakan pemain muda amatir. Nama-nama besar seperti Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, Legimin Rahardjo, Donny F Siregar, M Affan Lubis, Markus Haris Maulana memilih bermain di luar. Bukan tak loyal, namun takut tidak dibayar gajinya kembali. "Kami trauma di PSMS. Tim ini memang sangat besar dan kami pun banggga membelanya. Saya besar dari PSMS dan itu tak saya pungkiri. Namun kami juga memiiki kebutuhan. Main bola sekarang sudah menjadi profesi kami. Masa enggak dibayar lagi," ujar Saktiawan Sinaga.
Meskipun begitu Amrustian tetap berusaha memberikan asa. Dia mencoba optimis tim yang membuat dirinya tenar tersebut bisa bangkit. Diperkuat pemain muda bukan akhir dari segalanya. Solusinya adalah melahirkan kembali karakter PSMS. Jika memang sanggup, silahkan PSMS mengusung target di Divisi Utama ini.
#Stadion Kebun Bunga & Teladan: Disini Mencetak Sang Juara
Kenangan paling indah PSMS ketika juara perserikatan mengalahkan Persib Bandung tahun 1983 dan 1985. Seratus ribu penonton di Senayan dan ribuan warga Medan menanti. Amrustian dkk diajak berkeliling Kota Medan menggunakan becak. Bonus datang dari siapa saja, berapa saja dan semuanya ikhlas. Apa saja yang diambil pemain dari Pasar Senen Jakarta tak perlu dibayar. "Kami dipeluk, dicium dan disuruh ambil apa saja. Enggak perlu bayar, karena sudah membawa nama Medan (PSMS) juara dan terkenal," kenang Amrustian.
Moment terbaik lainnya ada di tahun 2008, ketika Saktiawan Sinaga dkk runner up Liga Indonesia. Lantas apa yang membuat PSMS bisa berjaya? Jalannya kompetisi internal, Stadion Kebun Bunga dan Stadion Teladan serta fanatisme. Kata Amrustian dulu itu kompetisi internal PSMS berjalan. Klub-klub yang berada di Divisi I, II, III berlomba-lomba promosi ke Divisi Utamanya PSMS. “Tak bisa dipungkiri juga jika saat ini kita tak memiliki pemain terbaik. Itu karena tingkat persaingan sudah tak seketat dulu. Sekarang selesai dari SSB saja bingung mau kemana. Seandainya kompetisi intern PSMS jalan dan dibantu adanya SSB, Saya pikir PSMS atau Sumut bisa kembali berjaya,” bilang Amrustian.
Atmosfer Stadion Kebun Bunga menjadi salah satu penentu bisa bermain di Stadion Teladan dan berbaju PSMS. Amrustian menilai apa yang didapatkan pemain dari sana sekarang jauh berbeda. "Stadion Kebun Bunga itu sangat sakral, tak boleh sembarangan digunakan. Hanya PSMS saja yang boleh. Makanya bermain di Kebun Bunga itu jadi impian setiap pemain. Yang sudah bermain disana pasti memiliki mental bertanding,” ujar Amrustian yang gagal mengeksekusi penalti di final perserikatan 1985.
Kebun Bunga dan Stadion Teladan dahulu berbeda dengan sekarang. PSMS sekalipu pun latihan, tak banyak yang menyaksikannya. Apriori dengan dualisme, kisruh tunggakan gaji membuat fans Ayam Kinantan tak seperti dulu. Rela membeli tiket walau hanya ingin melihat pertandingan intern klub antara Dinamo melawan Perisai Pajak. Kompetisi intern bergulir tahun 2005 lalu. Meski tak seperti sebelumya, kompetisi pernah digelar kembali tahun 2012 dan 2013. Namun berhenti ditengah jalan tanpa pemenang. Membawa kembali PSMS ke level sesungguhnya bukanlah pekerjaan gampang. PSMS jangan manja, karena kita dalam bahaya
What's Your Reaction?