MEDAN. BOLAHITA - Sejak Sirkuit Multifungsi IMI
Sumut di Jl Pancing
Medan tidak bisa lagi digunakan untuk arena balap, ajang balap motor
Sumut kembali ke arena dadakan, seperti jalan raya yang disulap menjadi sirkuit.
Sejumlah klub otomotif anggota IMI
Sumut yang selama ini menggelar kejuaraan di sirkuit permanen IMI Sumut, mau tidak mau kini kembali menghelat event mereka di lokasi non permanen seperti jalan raya yang ditutup, atau lokasi terminal dan arena PRSU di
Medan, seperti gelaran HRC akhir pekan lalu di arena PRSU.
Pada 20 September, ajang Kejurnas Drag Bike 2015 Putaran VIII yang dijadwalkan berlangsung di
Medan, berlangsung di sirkuit dadakan Jl Selamat Ketaren, depan Unimed. Balap motor
Sumut kembali lagi ke sirkuit dadakan atau yang kerap disebut Sirkuit Pasar Senggol, seperti saat Sirkuit IMI
Sumut belum dibangun.
Constantin Pasaribu, Ketua Panpel Kejurnas Drag Bike 2015, mengatakan lintasan depan Unimed terpaksa menjadi alternatif. “Selama ini kita sering menggelarnya di Sirkuit IMI
Sumut yang memang memenuhi standar,” ungkapnya baru-baru ini.
Ketua CCI, Candra Pak Chen, menyebut sebelumnya pada Juni, pihaknya juga menyelenggarakan CCI Dragbike di Kisaran. Padahal, selama ini mereka acap menjadikan Sirkuit IMI
Sumut sebagai lokasi event.
“Imbas dari ketiadaan sirkuit permanen, salah satunya adalah kita kini berpindah-pindah lagi ke sirkuit jalanan. Kita mundur lagi, kembali ke Sirkuit Pasar Senggol,” ungkapnya.
Ketua Harian Speeder, Agus Munthe, menyayangkan kondisi yang terjadi, di mana sirkuit yang sudah ada malah sudah tidak bisa digunakan. “Seharusnya sarana olahraga terus bertambah, bukan malah hilang yang membuat pembinaan menjadi mandeg.
Selain membuat promotor kesulitan menggelar event karena harus berpindah-pindah, ketiadaan sarana juga menjadikan para atlet balap motor kesulitan berlatih,” tambah mantan racer andal
Sumut ini.
Roy Gusti, pemilik klub balap RPM menambahkan, dengan tidak berfungsinya sirkuit permanen, maka para pelaku balap kesulitan melakukan pembinaan. “Pembinaan bakal tidak jalan dan kita kembali lagi ke balap jalanan,” ucap Roy.
Ketua Pengprov IMI Sumut, Ijeck, tak menampik jika saat ini era balap Pasar Senggol kembali hadir. “Adalah fakta kalau event balap motor kini banyak yang kembali ke sirkuit dadakan, sebagai efek dari Sirkuit IMI
Sumut yang sudah tidak bisa lagi menggelar balapan,” ujar Ijeck didampingi John Lubis dan para pengurus IMI lain.
Saat ini, ungkap Ijeck, yang paling merasakan akibat dari ketiadaan sarana sirkuit adalah para pebalap, karena mereka tidak punya tempat untuk latihan, termasuk atlet Pra PON
Sumut yang saat ini sedang dipersiapkan.
“Atlet tidak lagi punya tempat latihan dan balapan kini balik ke sirkuit dadakan. Padahal keberadaan sirkuit permanen bisa meminimalisir aksi balap liar,” tandas Ijeck.