Biar Tenang, Panpel Persik Kediri Putar Lagu Islami
SENNCOIN Selling High Quality Roasted Beans and Ground Coffee
Panitia pelaksana (Panpel) Persik Kediri telah melakukan evaluasi pasca kerusuhan yang terjadi pada laga melawan Arema FC pada tanggal 15 Juli 2023.
Setelah insiden tersebut, pihak Panpel Persik Kediri segera menjalin kerja sama yang lebih erat dengan para suporter di luar lapangan sebagai upaya untuk meredam rivalitas yang terjadi di atas lapangan hijau.
Pendekatan ini berhasil membangun suasana persahabatan dan kontak batin yang erat antara suporter dan pihak Panpel. Ketua Tim Panpel Persik Kediri, Tri Widodo, bahkan mengungkapkan bahwa ia telah menghafal nama-nama para suporter yang sering hadir di Stadion Brawijaya.
Tri menyatakan bahwa hubungannya dengan suporter sudah seperti hubungan dengan anak-anak, karena ia sering berkunjung dan bertemu dengan mereka.
Hal ini memungkinkan pihak Panpel untuk lebih mudah mengendalikan situasi ketika terjadi kejadian tidak diinginkan, sehingga insiden dapat dihentikan dengan cepat dan pertandingan tetap aman.
Selain itu, Panpel Persik juga menjalin kolaborasi dengan suporter untuk menjaga suasana selama pertandingan. Beberapa anggota dari aliansi suporter Persik dilibatkan dalam tim steward yang bertugas.
Dengan pengalaman mereka sebagai suporter di tribun, mereka lebih fleksibel dalam menjalankan tugas sebagai steward dan lebih memahami wilayah di tribun tersebut.
Tri Widodo juga mengumpulkan beberapa suporter dari tribun setelah pertandingan untuk menggali informasi tentang kronologi kejadian, sehingga informasi ini dapat menjadi bahan evaluasi ke depan untuk mencegah kejadian serupa terjadi kembali.
Salah satu pendekatan yang menarik yang dilakukan Panpel Persik adalah pemutaran selawat dan lagu-lagu Islami pada jeda pertandingan. Hal ini bertujuan untuk meredam emosi suporter dan menghilangkan sisa-sisa amarah yang ada.
Tri menyatakan bahwa pemutaran lagu-lagu Islami dilakukan karena mayoritas pendukung Persik adalah muslim, dan ini dapat membantu meredam suasana.
Tri juga menyadari bahwa saat ini sepak bola rentan terhadap gesekan, dan salah satunya disebabkan oleh penggunaan media sosial yang tidak terkontrol.
Banyak oknum tidak bertanggung jawab yang melakukan provokasi dan menyebarkan kebencian di media sosial tanpa memikirkan dampak dan konsekuensinya.
Oleh karena itu, Panpel dan pihak terkait perlu lebih mengawasi dan mengontrol penggunaan media sosial untuk mencegah terjadinya situasi yang memicu kerusuhan.
What's Your Reaction?