Catatan Ringan Benget Silitonga: Kopi dan Sepakbola Dairi
Dairi, satu dari 33 kabupaten/kota di Sumut, dengan ibukota Sidikalang, ternyata dikenal bukan hanya karena rasa kopi arabikanya yang pahit namun khas dengan aroma yang variatif, dan duriannya yang lezat, tetapi kini juga karena sepakbolanya.
Dairi, satu dari 33 kabupaten/kota di Sumut, dengan ibukota Sidikalang, ternyata dikenal bukan hanya karena rasa kopi arabikanya yang pahit namun khas dengan aroma yang variatif, dan duriannya yang lezat.
Tetapi kini juga karena sepakbolanya. Ya, kopi, durian, dan sepakbola telah menjadi ciri khas, kekayaan sekaligus kebanggaan Dairi. Sepakbola ‘rasa’ kopi bahkan menjadi strategi, taktik dan racikan sepakbola terkini yang tak kalah pamornya dari tarian tika taka nya sepakbola Spanyol atau irama samba nya sepakbola Brasil.
Catatan Ringan Oleh: Benget Manahan Silitonga
Pegiat Sepakbola
Sepakbola rasa Kopi
Ah, anda, khususnya yang mengenal Dairi, pasti bergumam. Kopi dan durian memang benar jadi ciri khas Dairi. Namun sepakbola? Bagaimana ceritanya? Tulisan ini pasti mimpi atau fiksi!
Bisa jadi. Tapi hal nyata biasanya diawali mimpi. Dan itulah yang dilakoni klub sepakbola Victory Dairi. Mereka baru saja mulai mewujudnyatakan mimpi dengan menjadi juara Liga 4 Indonesia tahun 2025 tingkat Sumut setelah menaklukkan PS Kwarta Deli Serdang, yang lebih diunggulkan, 1-0 di partai final Senin, 7/4.
Kemenangan ini tak mudah. Duel final berlangsung sengit dan panas. Kedua tim bermain spartan dalam tempo tinggi, silih berganti mengambil inisiatif permainan. Kekalahan di babak 6 besar dari PS Kwarta membuat Victory Dairi tampil lebih percaya diri untuk revance. Seperti rasa kopi arabika Dairi yang pahitnya kental dengan beragam aroma, mulai dari nutty, spicy, chocolaty, dan flavor herbal, tim asuhan coach sekaligus owner Eben Siregar ini memberi rasa pahit dengan “aroma” bermain yang variatif, merepotkan lawan.
SENNCOIN Selling High Quality Roasted Beans and Ground Coffee
Impresif menguasai bola, menyerang taktis lewat short passing dan long passing memanfaatkan defense line lawan yang terlalu ke bawah, dan saat defense cekatan menerapkan man to man marking dengan high pressing penuh disiplin tanpa lelah. PS Kwarta sesungguhnya tidak tampil buruk. Dengan transisi bermain yang cepat dan terorganisir rapi, mereka juga acap merepotkan pertahanan Victory Dairi. Sayangnya di menit 66 keberuntungan sepertinya lebih berpihak kepada Victory Dairi.
Bermula dari sebuah long passing gelandang Victory Dairi dari tengah lapangan menyasar striker Wilson Togatorop yang berlari ke kotak penalti lawan. Wilson sebenarnya telah out of position untuk menyundul atau mengontrol bola lambung tersebut.
Namun justru dua pemain bertahan PS Kwarta melakukan blunder, terlibat “duel sesama” di udara merebut bola yang akhirnya menjadi bol liar dan jatuh ke kaki Wilson. Seperti baru menyeruput kopi, tanpa pikir panjang, bumm! Wilson menghunjam bola dengan keras dan terarah ke sisi kiri penjaga gawang PS Kwarta yang tak sempat bereaksi. Gol!
Setelah itu, PS Kwarta mengambil kendali permainan. Mencoba membalas, menggempur dari segala lini. Praktis pertandingan berlangsung setengah lapangan. Apalagi kemudian Victory Dairi bermain dengan 10 pemain setelah Wilson Togatorop mendapat kartu kuning kedua (kartu merah).
Namun, sejumlah peluang PS Kwarta, baik lewat tendangan penjuru maupun free kick beberapa meter di luar kotak penalti, semuanya gagal menjadi gol. Penuh waktu, 1-0 untuk Victory Dairi. Hasil ini tentu menyesakkan, pahit bagi PS Kwarta. Namun rasa pahit itu bukan akhir bagi mereka. Sebagai finalis, PS Kwarta masih bisa terus memupuk asa dan tekad karena juga berhak ke babak 64 besar Liga 4 putaran nasional.
Mengukir Sejarah
Walau masih sebatas juara Liga 4 tingkat provinsi, tak bisa dipungkiri Vicrory Dairi bukan hanya membuat mimpi mulai nyata tetapi juga telah mengukir sejarah sepakbola Dairi.
Bagaimana tidak. Sepakbola Dairi yang selama ini hanya dikenal sebagai sepakbola antar kampung (tarkam) yang bergerak sporadis dari turnamen ke turnamen, kini menjelma menjadi salah satu representasi sepakbola yang membawa nama Dairi, dan Sumut, di babak 64 besar putaran nasional Liga 4 Indonesia.
Sebuah capaian yang belum pernah ditorehkan klub sepakbola Dairi baik di era sepakbola amatir maupun sepakbola profesional Indonesia. Lagipula, bukankah sepakbola nyaris tidak menyediakan jalan pintas? Untuk mencapai puncak prestasi, sepakbola mensyaratkan proses dari bawah. Kecuali anda adalah milyuner yang siap menggelontorkan uang membeli klub sepakbola yang sudah berada di liga papan atas.
Bermodalkan talenta-talenta muda putra daerah yang direkrut dari turnamen ke turnamen (karena tak ada kompetisi daerah) yang berlangsung di Dairi, capaian Victory Dairi juga bisa disebut sebagai awal kebangkitan sepakbola daerah yang otentik.
Sepakbola yang tidak hanya membawa embel-embel nama daerah, tetapi juga sungguh mengandalkan pemain-pemain orisinal putra daerah setempat. Ini tentu bukan pekerjaan mudah. Sudah menjadi rahasia umum, dibutuhkan komitmen, kecakapan, ketegasan, dan kesabaran khusus dari seorang coach untuk memoles dan memadukan para pemain putra daerah, yang biasanya kurang percaya diri, egoistik, labil, dan belum berpengalaman bermain dalam satu tim sepakbola.
Hebatnya, coach Eben Siregar mampu melakukan itu. Ibarat petani sekaligus barista kopi, ia mencari, menemukan, dan meramu para putra Dairi dan sekitarnya menjadi tim yang kompak, solid, teknikal, dan punya mentalitas kuat, memainkan sepakbola kopi ala Dairi. Uniknya, sebagian besar pemain Victory Dairi ternyata bermarga Batak yang biasanya dipersepsikan hanya bisa kompak saat bernyanyi. Namun Eben mampu mengorkestrasinya menjadi tim sepakbola yang padu.
Selain juara, Victory Dairi juga membawa nilai-nilai sepakbola universal dalam penampilannya. Official nya diisi sejumlah perempuan yang cekatan menjalankan tugas, yang selama ini dianggap hanya menjadi tugas laki-laki, baik itu sebagai kit man, staf kepelatihan dan staf kesehatan.
Jangan heran bila ada pemain Victory Dairi yang cidera di lapangan, para official perempuan tersebut akan sigap berlari memberi bantuan. Sebuah pemandangan lapangan hijau yang masih sangat langka ditemukan dalam sepakbola daerah khususnya, dan sepakbola Indonesia umumnya. Walau sepintas terlihat sepele, namun Victory Dairi telah memberi pesan bermakna bahwa sepakbola daerah bukan hanya maskulin tetapi juga feminis. Sepakbola bukan saja kompetitif tetap juga emansipatif.
Dream comes true
Jalan masih panjang. Jangan jumawa, larut dalam kemenangan. Putaran nasional 64 besar Liga 4 sudah menunggu. Kompetisi pasti makin ketat dan keras karena akan melibatkan tim-tim terbaik dari tiap provinsi, untuk merebut 8 tiket promosi ke Liga 3 (Nusantara).
Victory Dairi tentu membutuhkan energi dan upaya yang lebih besar, khususnya dalam pembiayaan. Berharap pada dukungan pemerintah daerah Dairi tentu boleh-boleh saja. Namun tak perlulah sampai “mengemis”. Toh, Victory Dairi bisa berprestasi tanpa dukungan pemerintah daerah. Berbangga dan melajulah.
Sajikan dan nikmati terus sepakbola kopimu. Ciptakan terobosan untuk menggarap, menggalang, dan mengelola dukungan dan dana publik, khususnya masyarakat Dairi. Bila itu bisa dilakukan secara transparan dan akuntabel, akan menjadi contoh bagaimana sebuah tim sepakbola digerakkan dan “dimiliki” oleh masyarakat setempat.
Bukan pemerintah atau sekelompok elit. Bagaimanapun, sepakbola yang didukung dan “dimiliki” publik, lazimnya akan lebih profesional, mandiri, dan berkelanjutan daripada klub sepakbola yang semata mengandalkan dukungan politik ekonomi sesaat dari pemerintah daerah dan atau unsur elit tertentu. Dan satu hal terpenting dan paling pantang, jangan karena soal pembiayaan, sampai terlibat sepakbola judi atau judi sepakbola.
Di tengah ekosistem sepakbola Indonesia yang belum sepenuhnya sehat, dream comes true. Sejarah mesti terus diukir hingga tuntas menjadi objek gambar yang sempurna, hingga ke Liga 3, Liga 2 , Liga 1, bahkan ke level internasional. Kelak, alinea pertama tulisan ini bukan lagi mimpi, apalagi fiksi. Sepakbola Sumatera Utara dan Indonesia bukan lagi hanya tentang PSMS, dan PSDS, tetapi juga tentang Victory Dairi! Semoga.
What's Your Reaction?