Strategi Persisko memperlambat permainan dengan berpura-pura terjatuh ataupun cidera berjalan mulus. Saat tandang di Stadion Baharoeddin Siregar melawan
PSMS Medan berhasil membawa satu poin.
"Mereka acap kali memperlambat permainan dengan cara itu. Seharusnya wasit Safrizal melakukan teguran kemudian sebuah peringatan jika pemain kembali melakukannya. Tapi ini tidak, malah wasit membiarkannya," ujar Affan Lubis kapten PSMS.
Pembiaran prilaku menghabiskan waktu dengan pura-pura cidera ini membuat
PSMS sedikit terganggu. Dominasi dan determinasi menyerang rusak dengan sikap tak fair play dari tim tamu.
"Tak masalah jika memang pelatih mereka menyarankan demikian, namanya strategi mencuri poin. Tapi wasit juga harus jeli melihat seorang kiper yang tak kunjung menendang bola dalam 10 detik," tambah Abdi Panjaitan, media officer PSMS.
Kondisi yang berbeda tentunya akan lahir dari duel
PSMS versus Persisko, jika wasit Safrizal menjalankan aturan.
Demi perbaikan kualitas pertandingan, Abdi Panjaitan mengharapkan adanya perbaikan dan keinginan dari setiap wasit itu sendiri.
"Jadi jangan saat teknikal meeting wasit selalu mengatakan siap dan wasit juga manusia, jika ada kesalahan-kesalahan selama memimpin. Itu namanya alasan saja, jika ada pemain yang melanggar rule of the game tidak mendapat teguran," pungkasnya. (
Bolahita/herman)