Pembinaan Usia Dini, Bukan Sekadar Asal Main Saja

Pembinaan Usia Dini, Bukan Sekadar Asal Main Saja

Pembinaan Usia Dini, Bukan Sekadar Asal Main Saja
SSB USU yang mulai intens dalam pembinaan sepak bola di Sumatera Utara
Sepak bola adalah bahasa universal dan semua pihak akan sangat mahfum bahwa akan menyatukan semua rasa dan bahasa menjadi satu perasaan yang sama. Ada banyak seni dan drama berlangsung selama 90 menit. Dan itu semua kita sepakat, sepakbola menyatukan kita.

Catatan Muhammad Zeinizen - Humas PS Keluarga USU

Membangun sebuah tim sepak bola yang tangguh, tentu tidak semudah membalikan kedua telapak tangan. Sekadar punya pemain lantas dibiarkan bermain. Namun lebih dari itu. Adalah bagaimana membangun dari sejak bawah (usia dini) hingga kemudian menjadi sebuah tim yang tangguh. Dan sampai hari ini, Indonesia belum mampu membangun sebuah tim nasional yang tangguh dan memberikan prestasi yang membangkan. Apa yang salah?

Mindset
Dimulai dengan mengubah pola pikir kita masing-masing. Bahwa kita semua masih harus bekerja keras dalam membangun sepak bola nasional. Masalah mindset ini pun nampaknya masih saling berbenturan dalam tubuh PSSI selaku penggerak roda sepak bola negeri ini.

Satu contoh bisa diambil dalam laga beberapa kejadian. Ketika masih kecil, bila kita bermain sepak bola hingga Magrib, semuanya sepakat kemenangan ditentukan melalui adu penalti.Tapi kalau waktu masih mencukupi, akan ada perpanjangan.

Tapi tidak dalam babak final turnamen sepak bola PSSBU. Menggelar turnamen sepak bola tanpa menyusun durasi waktu. Banyak yang berniat mencari bakat tapi tidak dengan cara yang tepat. Semuanya masih terbilang instan nan aduhai. Kita mengharapkan hal ajaib datang dari sebuah turnamen tanpa tujuan. Kita mengharapkan pesepak bola muda muncul dari sebuah turnamen abal-abal.Tanpa aturan standar yang tegas, siapapun akan bebas melakukan apa saja dilapangan; kok masih bisa terjadi kecurangan pencurian umur ya? 

Kita harus jujur bahwa kesempatan kita mendunia melalui sepak bola hanyalah ketika usia junior. Begitu memasuki under 21, Indonesia mulai kesusahan. Lihat Singapura , negara sebesar Pulau Simeulue, sudah 3 kali juara Piala AFC sementara kita belum pernah bawa piala itu ke Indonesia. Ini bukan pesimistis dan bukan putus asa. Tapi rasanya negara kita untuk senior sampai saat ini masih harus berada dalam suasana sebuah nyanyian yang dipopulerkan Anggun C Sasmi , dengan judul ... " Mimpi "...

Lihat saja sepak bola usia dini kita sudah mengajarkan bermain hanya 2 x 7 menit plus langsung adu tendangan pinalti. Sementara dalam kejuaraan tarkam saja mainnya 2 x 45. Kesalahan konyol seperti inilah yang kemudian berpengaruh di bawah alam sadar mereka. Anak-anak kemudian mengambil langkah instan dengan mempersiapkan diri di ukuran waktu pendek bukan untuk ukuran permainan dengan durasi waktu hingga 2 jam.

Regenerasi merupakan hal yang selalu dianggap krusial di dalam sepakbola. Banyak insan sepakbola berbicara mengenai pembinaan usia dini tanpa tahu bagaimana mencapainya dengan cara yang efektif dan riil.

Semakin maju sepakbola suatu negara, semakin maju pula cara pandang mereka mengenai regenerasi. Negara-negara tradisi kuat di sepakbola seperti Brasil, Argentina, Belanda, Perancis, Jerman, Spanyol, Inggris, dan Italia tidak pernah kehabisan sumber daya pemain karena adanya regenerasi yang berjalan dengan baik.

Di Indonesia memang banyak sekolah sepakbola (SSB). Tetapi semuanya tidak memiliki standar. Kompetisi usia dini juga terkadang dijalankan terkadang tidak. Tidak ada kompetisi yang berkesinambungan di kelompok umur. 

Mau Dibawa Kemana sepak bola?
Ada yang menarik dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) membeberkan program kerja yang akan dilaksanakan dan direalisasikan pada tahun ini. Salah satu programnya adalah pembinaan sepakbola usia dini. PSSI memang mengaku serius membenahi persepakbolaan di bawah kepemimpinan Ketua Umum Edy Rahmayadi. Setelah mendapat lampu hijau dari pemerintah dan AFC, beberapa program akan segera dikerjakan. 

Programnya akan diputar tiga kelompok usia: U-17, Suratin, dan U15. Karena U-15 untuk PSSI sendiri adalah yang pertama kali setelah beberapa tahun terakhir vakum. PSSI ingin menciptakan banding satu rangkaian U-15 dan U-17 dengan sebuah kompetisi yang panjang. 

PSSI memulai dari tingkat kabupaten, yaitu dari Asosiasi Kabupaten (Askab) berlanjut ke Asosiasi Provinsi (Asprov), hingga terakhir ke tingkat nasional. Artinya, akan dimulai pada awal Maret hingga September untuk pengurus di kabupaten menyelesaikan kompetisi di regional mereka dan putaran nasionalnya di Oktober dan November. 

Dan modelnya bukan lagi turnamen, tapi liga karena di masing-masing daerah tingkat dua (kabupaten maupun kota) mereka akan terlebih dahulu menggelar kompetisi format liga dan mereka akan bermain setiap minggu dan PSSI akan buat minimum jumlah pertandingannya harus mereka penuhi untuk sampai bertanding ke level nasional. 

Minimum pertandingannya 14 hingga 18 pertandingan artinya setiap pekan pemain pemain muda akan bertanding secara reguler. Itu tentu bagus untuk maintenance fisik, skill, mental dibandingkan dengan turnamen karena turnamen bersifat pendek dan PSSI tidak bisa uji, dan mereka juga tidak exercise, disiplin, skill, dan perkembangannya karena ujungnya pada Juli pada 2017 akan ada piala AFF U-15.

Sudah seharusnya PSSI bukan sekedar memamerkan program semata. Karena dengan pembuatan yang program yang jelas dan nyata, anak-anak usia dini akan dengan sendirinya memiliki kesempatan berlatih, berlatih dan berkompetisi yang benar dan bukan asal-asalan.

Kita harus sadar, masih banyak benturan. Seperti talent scouting di PSSI yang tidak mau turun ke daerah. Sumut memiliki 33 kabupaten/kota dengan berbagai bentuk demografi yang berbeda. Ingatlah, bahwa kita pernah menemukan pemain dari daerah yang pernah masuk timnas, Mahyadi Panggabean. 

Kurikulum pembinaan usia dini dibangun dengan baik dan disebarkan hingga ke pelosok. Lalu diterapkan, dipantau, dikontrol perkembanganya dalam setiap tahun. Apakah kita menemukan kemajuan atau tidak. Indonesia dipenuhi pesepak bola bertalenta. Percayalah, kita semua dijalankan dengan benar, suatu hari kelak nyanyian Indonesia Raya akan berkumandang di Piala Dunia.