RAMADAN PERTAMA EKO PURDJIANTO DI MEDAN: JAUH DARI KELUARGA, NAMUN HANGAT BERSAMA PSMS
Bulan Ramadan tahun ini menjadi pengalaman yang berbeda bagi pelatih PSMS Medan, Eko Purdjianto
RAMADAN PERTAMA EKO PURDJIANTO DI MEDAN: JAUH DARI KELUARGA, NAMUN HANGAT BERSAMA PSMS
BOLAHITA - Bulan Ramadan tahun ini menjadi pengalaman yang berbeda bagi pelatih PSMS Medan, Eko Purdjianto. Untuk pertama kalinya sepanjang kariernya sebagai pemain maupun pelatih, ia menjalani ibadah puasa di Kota Medan, jauh dari keluarga tercinta.
Meski demikian, pelatih berusia 50 tahun itu mencoba menjalani semuanya dengan lapang dada. Baginya, kehidupan di perantauan adalah bagian dari perjalanan seorang profesional di dunia sepak bola.
SENNCOIN Selling High Quality Roasted Beans and Ground Coffee
“Kalau saya profesional saja, sudah biasa. Dulu waktu masih jadi pemain juga sering tidak pulang. Pernah Lebaran justru sedang di luar negeri. Itu bagian dari pekerjaan, jadi kita nikmati saja,” ujar Eko, Minggu (8/3/2026).
Pengalaman merantau sebenarnya bukan hal baru bagi pria kelahiran Semarang tersebut. Saat masih aktif bermain, ia pernah menimba ilmu di program Primavera di Italia. Sejak saat itu, ia sudah terbiasa menjalani momen-momen penting jauh dari rumah.
Kini, meski tidak bersama keluarga di kampung halaman, Eko merasa tidak benar-benar sendirian. Ia menganggap seluruh elemen di PSMS Medan sebagai keluarga keduanya.
“Keluarga saya sekarang ya keluarga besar PSMS. Pemain, staf pelatih, manajemen, semuanya saya anggap keluarga. Kalau latihan sore, kami juga sering buka puasa bersama di lapangan,” tuturnya.
View this post on Instagram
Suasana kebersamaan itu sedikit banyak mengobati rasa rindu akan rumah. Ramadan yang dijalaninya di Medan pun terasa hangat berkat kebersamaan dengan tim Ayam Kinantan.
Menariknya, meski baru pertama kali merasakan Ramadan di Medan, Eko mengaku cukup cepat beradaptasi dengan kehidupan di kota ini. Ia bahkan tidak mengalami kesulitan soal makanan untuk sahur maupun berbuka.
“Saya Ramadan di Medan baru sekarang. Tapi saya merasa nyaman di sini, enjoy saja. Untuk sahur dan berbuka juga tidak ada kendala, sudah ada tempat langganan,” katanya sambil tersenyum.
Soal kuliner, Eko memang memiliki selera yang cukup sederhana. Ia mengaku tidak terlalu menyukai makanan yang berkuah atau bersantan. Meski begitu, ia tetap mencoba beberapa hidangan khas yang dikenalkan oleh manajemen tim.
“Memang saya tidak terlalu suka yang berkuah dan bersantan. Tapi kemarin sempat coba sup Sipirok, dikenalkan manajemen. Ada juga nasi Padang Melayu, dan warung kopi di sini juga enak,” ujarnya.
Bagi Eko, Ramadan di Medan mungkin jauh dari keluarga inti. Namun kehangatan yang ia rasakan bersama tim PSMS membuat bulan suci tahun ini tetap terasa istimewa.
What's Your Reaction?