PSMS Macet, Karena Stadionnya Pun Gitu-gitu Aja
PSMS Macet, Karena Stadionnya Pun Gitu-gitu Aja
Abdi Panjaitan - koresponden Harian BOLA (Medan & Aceh)
Kejayaan Sumatera Utara (Medan khususnya) dilahirkan oleh Pardedetex, Hartap, Medan Jaya dan PSMS Medan tentunya. Tapi itu cerita dulu, belasan, puluhan tahun lalu. Tak usah mencari prestasi Ayam Kinantan saat ini. Paling-paling yang ada hanya pemain, official dan pelatih yang mau menyelesaikan kompetisi Divisi Utama musim lalu tanpa digaji. So what, Apakah itu prestasi? Hehehe #loyalitas tanpa batas itu istilahnya.
Kalau tak salah, tahun 1979, Indonesia telah memiliki fundamental sepakbola yang fantastis. Itu bila kita bandingkan dengan negara yang dahulu justru belajar ke kita. Misalnya saja Jepang dengan J-League. Di era fantastis itu, Jepang melihat sepakbola Indonesia dari Galatamanya. Era Ali Sadikin, Fandi Ahmad dan David Lee (Singapura) memperkuat Niac Mitra dan Jairo Matos (Brazil) memperkuat Pardedetex, Medan.
Jairo Matos mengaku saat bermain disana, susah sekali mendapat penonton. Meskipun mereka harus digiring ke setiap sekolah-sekolah dengan mengajak. "Tapi sekarang Jepang sudah berada di atas bro. Medan kota besar gini-gini aja, Saya bingung dimana salah," kata Jairo sembari tertawa.
Pembicaraan seru kami terhenti sejenak. Itu karena ketum Basri Sumut, Bunda diperkenalkan dengan sosok Jairo. Keduanya pun sempat berbicara sejenak. Lalu kenapa Medan gini-gini aja bro? Tanyaku dengan tertawa.
Semua pun saling berbicara, karena bla bla bla bla. Ya, intinya salah satu tanda daerah mengalami kemajuan dalam sepakbola bisa terlihat dari infrastrukturnya. Dari banyak dan kualitas lapangan dan stadionnya. Cukup masuk akal. Stadion Teladan cukup berjaya di eranya, di zaman sebelum verifikasi lebih diperketat.
Intensitas serunya pembicaraan mulai menurun. Sepuluh menit lagi, coffe break berakhir dan Jairo akan pulang. Duduk bercerita bersama pemain dan pelatih terbaik di Sumut ini memang sangat menyenangkan. Aku berpikir, apa yang dikatakan para insan sepakbola Sumut ini benar.
Mungkin setelah wasit asal Jepang yang memimpin pertandingan di Marah Halim Cup lalu di Stadion Teladan kembali ke Medan dan melihat lagi stadion itu, dia menemukan jawaban pasti, kenapa tidak maju.
Ya, Stadion Teladan yang gitu-gitu aja. Stadion Teladan yang tidak berubah. Stadion Teladan yang tidak lolos verifikasi standar AFC. Rumputnya???
What's Your Reaction?