BOLAHITA, MEDAN - Ketua Asosiasi Kota (Askot) PSSI
Medan, Iswanda Ramli, angkat bicara tentang adanya Rapat Anggota Biasa Klub
PSMS Medan.
Sebagai pimpinan organisasi yang juga menaungi sejumlah klub anggota PSMS, Iswanda Ramli menyarankan ada baiknya kedua belah pihak duduk bersama terlebih dahulu untuk mencari jalan keluar.
"Kalau soal sah atau tidak sah-nya (RAB) saya belum bisa bicara banyak. Pribadi duduk bersama lah. Dalam suasana begini cobalah lebih dingin, jangan panas. Adakan pertemuan dan ajak berkomunikasi," kata Iswanda Ramli.
Menurutnya, jika
PSMS tetap dalam polemik, efek dari kondisi itu bisa mengakibatkan kekisruhan yang akan berdampak luas. Ia mengambil contoh konkret soal kesulikan klub dalam mendapatkan sponsor untuk mengarungi Liga 2 2020.
"Saya cerita dampaknya. Kalau
PSMS seperti ini terus, sponsor tak akan mau datang nanti. Masyarakat juga akan bertanya,
PSMS mana yang betul? Takutnya nanti malah menjadi kendaraan politik. Susah nanti," ucap Iswanda Ramli.
"Saya rasa itu saja, duduk bersama. Karena ujung-ujungnya yang rugi juga masyarakat nantinya. Masyarakat tak bisa nonton
PSMS bertanding. Kalau nggak ada sponsor sampai kapan bisa tahan?
PSMS ini bukan milik individu, tapi milik masyarakat
Medan dan Sumatra Utara," pungkasnya.
Sekadar mengingatkan bahwa sebanyak 22 dari 40 klub anggota
PSMS Medan menghadiri Rapat Anggota Biasa (RAB) di
Medan, Minggu (26/1/20). Hasilnya, Adi Sahputra secara aklamasi terpilih sebagai Ketua Umum periode 2020-2024.
Padahal, diketahui saat ini roda manajemen
PSMS di Liga 2 dijalankan oleh PT Kinantan
Medan Indonesia yang kabarnya sudah diakui PSSI dan secara sah secara legal.
Baca Juga Jadwal Kick-off Liga 2 Telah Ditetapkan, Begini Langkah
PSMS Selanjutnya
Munculnya RAB dan Ketum baru kembali memperparah polemik yang dialami
PSMS Medan. Sebab, belum lama ini prahara hak cipta nama dan logo baru tuntas di meja hijau.