Meluncur tanpa pendanaan yang jelas,
PSMS Medan musim ini tak mampu berbuat banyak. Berjubel masalah muncul selama menuntaskan putaran pertama Divisi Utama PT. Liga Indonesia.
Mulai dari pemain yang hanya menerima sebulan gaji, diganggu soal katering plus kebutuhan mendasar lain yang gagal dipenuhi. Masalah ini salah satu faktor kenapa tim asal Kota
Medan sulit menuai tiga poin. Dari empat partai homenya, Ayam Kinantan hanya mampu menang sekali, seri dua kali dan kalah sekali.
PSMS sendiri sukses mencuri satu poin saat tandang ke Sigli.
PSMS saat ini hanyalah soal cerita iba, yang mengalir mess Kebun Bunga di
Medan. Klub yang lahir pada tanggal 21 April 1950 ini menjadi pesakitan. Tak jauh berbeda ketika tampil di ISL lalu sebelum akhirnya terdegradasi (posisi ke-16, Red),
PSMS masih memiliki hutang 7 bulan gaji kepada pemainnya. Belum lagi soal dualisme yang semakin menenggelamkan tim tersebut.
Awalnya optimisme tinggi bangkit dari keterpurukan sempat mencuat. Dimana 27 dari 40 klub anggota memilih Indra Sakti Harahap sebagai ketua umum PSMS, Juli tahun lalu. Bahkan dalam rapat umum luar biasa di Hotel Candi itu, ketum baru menjanjikan
PSMS tanpa krisis financial. Tapi sayangnya keinginan Indra yang menang secara aklamasi tersebut tak berjalan.
Malah sebenarnya aroma tak sedap memang sudah tercium dari awal persiapan tim. Saat itu belum adanya sponsor dan dualisme
PSMS menjadi alasan belum dilakukannya tandatangan kontrak.
Keraguan yang sempat mencuat di awal memang tak salah. Masalah non teknis selalu menghantui. Sampai akhir putaran pertama grup satu lalu, M Affan Lubis dkk masih menerima 1 bulan gaji saja.
Krisis financial ini terus melebar hingga ke katering. Bahkan menjadi sangat krusial karena sangat menganggu dan membuat program tim tak teratur. Apa yang dikonsumsi pemain, bagaimana tidurnya, menjadi situasi yang sulit dikontrol. Secara sikis, mental bertanding pun terprovokasi. Terbukti dengan kalah telak di kandang dari PS Bangka dengan skor 4-0.
Meskipun demikian, loyalitas pemain tetap dijalankan. Bertanding tanpa gaji, pelatih dan pemain memutuskan tetap setia bertarung demi nama
PSMS Medan. Hasilnya, menutup putaran pertama
PSMS ada di posisi ke-4 grup satu.
Situasi keuangan yang tak jelas ini memaksa
PSMS menghentikan latihan menuju putaran kedua. Meskipun memiliki 40 klub anggota, pengurus tak mampu menyediakan apa yang selama ini menjadi problem besar. "Kondisinya seperti ini, untuk menjalankan program Saya tentunya harus didukung. Ya seperti makanan, minuman ataupun yang lainnya. Kasihan anak-anak jika kita jalankan program tanpa asupan gizi yang pantas," kata Suimin Diharja sebelum mendapatkan pengumuman pemecatan beberapa waktu lalu.
Indra Sakti Harahap sendiri mengaku bahwa
PSMS yang dipimpinnya tanpa sponsor. Pendanaan tim mutlak menjadi beban pribadinya. Kondisi inilah yang membuat dirinya tak bisa berbuat banyak. Apalagi ketika program latihan dihentikan oleh Suimin Diharja. "Kalau ada yang mau membantu Saya sedikit saja soal pendanaan, maka ceritanya akan lain.
PSMS masih belum mendapatkan sponsor, jadi Saya masih sendiri dalam pendanaan tim ini," beber ketua umum
PSMS tersebut.
Ancaman Mogok Latihan Bisa Terjadi
Kini pemain sudah tak lagi mampu bertahan dengan kondisi seperti itu. Loyalitas tinggi selama putaran pertama dianggap sudah cukup dibuktikan. Loyalitas dan kebutuhan adalah dua hal yang harus disejajarkan. Jika gaji tertunda dan belum dibayarkan, bukan tak mungkin ancaman mogok bermain dilakukan.
Ini terlihat sebelum pelatih akhirnya menghentikan latihan, program latihan tak diikuti seluruh pemain. Dari 29 pemain yang dimiliki PSMS, hanya 12 sampai 14 pemain saja yang hadir sebelum pencoretan. Sisanya absen tanpa alasan jelas.
Termasuk saat pengumuman pencoretan, hanya beberapa pemain saja yang mau datang ke Mes PSMS. Sepertinya pemain telah berasumsi "Hak dulu, baru latihan" dan itu mungkin-mungkin saja
Saat ini krisis kepercayaan telah melekat. M Affan Lubis dkk menganggap sudah terlalu banyak mendengarkan janji. Begitu juga dengan janji ketum akan menggelar pertemuan dengan pemain usai kongres PSSI lalu, urung terlaksana. Bahkan kiper Herman Batak berkoar di media, mengatakan telah ditipu oleh Indra Sakti Harahap.
"Awalnya kami tak pernah membayangkan tak gajian hingga berbulan-bulan. Sebaiknya janji-janji yang mengalir dari ketum direalisasikan. Jangan selalu pemain yang di jadikan tumbal. Jannji kecil bertemu kembali dengan pemain usai kongres saja tak ditepati. Silahkan publik
Medan yang menilai ketum," kata Aun Carbiny mewakili pemain.
"Secara pribadi kondisi ini memang sangat memprihatinkan sekali. Karena semua pemain memiliki kebutuhan pokok yang harus mereka hidupi. Untuk urusan kontrak, terus terang itu dari awal sudah menjadi kapasitas ketum. Tapi untuk masalah lain, Saya akan segera menyelesaikannya. Secepatnya juga kami manajemen berkoordinasi dengan ketua umum, soal situasi ini. Tidak baik juga jika itu terus berlanjut," jawab Sarwono manajer tim.
Berniat Melahirkan Bintang
Berdasarkan keinginan ketum terbaru, materi pemain
PSMS Medan musim ini dipenuhi pemain muda debutan. Persentase 80 dengan 20 persen pemain senior menjadi pilihan.
Hanya Alamsyah Nasution, Affan Lubis dan kiper Herman Batak yang familiar didengar. Sisanya merupakan pemain muda dari PON
Sumut dan beberapa klub asal
Medan. Mereka nantinya bakal diproyeksikan menjadi pemain bintang baru di PSMS.
Dibebani hal tersebut, Suimin Diharja tak gentar. Sebagai pribadi yang dibesarkan oleh PSMS, target itu dijalankan. Seleksi terbuka super ketat pun dilaksanakan. Pemain yang terpantau diberikan raport dan diperdebatkan dalam sebuah persentase di hadapan pengurus.
Sederet nama seperti Riko Simanjuntak dan Safrial Irfandi, Aidun Sastra Utama, Hardiantono, Tri Hardiansyah dan M Irfan merupakan pilihan terbaik dari seleksi. Di putaran pertama, mereka mendapat tempat sebagai starting eleven. Riko Simanjuntak, Hardiantono dan Safrial Irfandi sendiri telah menorehkan gol dalam debutnya bersama PSMS. Yel yel dukungan pun telah menyertakan nama pemain ini.
"Jika mereka dikasih kepercayaan terus bermain, Saya percaya mereka akan mampu menjadi pemain matang dan suatu saat kelak jadi bintang PSMS. Saya melihat mereka bahwa pemain muda saat ini memiliki kecerdasan. Tinggal bagaimana mengasah, mengarahkan dan membentuk mental mereka saja," bilang Suimin. (
Bolahita)
Data Klub:
- Berdiri : 21 April 1950
- Julukan : Ayam Kinantan
- Pengelola : PT Perintis Raya Sakti
- Ketua Umum : Indra Sakti Harahap
- Manajer : Sarwono
- Pelatih : Suimin Diharja
- Ass Pelatih : Suharto AD, Colly Misrun
- Pelatih Kiper : Mardianto
Skuad
PSMS Medan : Herman Batak, Zulham Syahputra, Irwin Ramadana (pg), Moise Dario Maldonado, Hardiantono, Aun Carbiny, Novianto, Susanto, Andre Sitepu, Andi Safrizal, Dodi Rahwana, Irwansyah (belakang), M Affan Lubis, Alamsyah Nasution, Aidun Sastra Utami, Tri Hardiansyah, Tri Yudha Handoko, Dede Ariandi, Edgar Enrique, Rudi Hartono, Irvan Mydin, M Irfan (tengah), Alberto Ramon Sosa, Riko Simanjuntak, Safrial Irfandi, Affandi Lubis, Kiki Lis Susanto, Rinaldo, Nico Susanto (depan)