Novi Handriawan : Sepakbola dan Investasi Sawit

Novi Handriawan : Sepakbola dan Investasi Sawit

Jun 2, 2012 - 13:48
 0
Novi Handriawan : Sepakbola dan Investasi Sawit
<br>
Nama Novi Handriawan akrab di telinga penggemar PSMS Medan. Sejak tahun 2010, pemain berusia 25 tahun  ini selalu menjadi pilihan utama di lini belakang Ayam Kinantan-julukan PSMS. Novi juga menjadi satu dari tiga  pemain PSMS yang dipertahankan pengurus untuk memperkuat skuad musim ini. Novi terkenal tangguh dan kokoh di barisan pertahanan, perawakannya tegas dan punya karakter keras di lapangan. PSMS bukan klub pertama yang membesarkan namanya. PSDS Deliserdang bisa dikata menjadi klub pertama di tahun 2006 yang melecutkan nama hingga sempat berkostum klub kaya Semen Padang tahun 2007.<br><br>Di balik jalan sukses yang telah ditapaki saat ini, Novi mengaku sebagai anak kebon (perkebunan). Pasalnya, sejak kecil latihan di lapangan bola milik Perusahaan Perkebunan London Sumatera (Lonsum) Rambung Sialang, Serdangbedagai. Ayah Novi bernama Musirin merupakan karyawan Lonsum Rambung Sialang. "Jadi sejak kelas satu SD sampai kelas enam, saya latihan di lapangan perkebunan. Dari situ kemudian saya enggak bisa lepas dari bola, apalagi saat itu dilatih oleh Sunardi A (mantan pesepakbola perkebunan tahun 1970-an)," ujarnya kepada Agronomic, di Mess PSMS, Kebun Bunga.<br><br>Darah sepakbola memang mengalir di tubuhnya, ayahnya merupakan pemain kebon yang sering bertanding antar-kebon. Novi mulanya bercita-cita menjadi tentara, kemudian dia banting setir jadi pesepakbola. "Bapak juga masuk ke perusahaan Lonsum dari bola, karena berprestasi jadi dijadikan karyawan. Sebenarnya bapak enggak ada nyuruh anaknya suka bola, tapi semua berjalan sendirinya," kenangnya. <br><br>Novi mengaku, fasilitas di perkebunan saat itu cukup walau tidak lengkap. Dia mengetahui kalau latihan anak-anak karyawan kebon bisa dilakukan lantaran tiap karyawan membayar iuran Rp3 ribu untuk operasional latihan. "Seperti minum, bola dan lainnya," timpalnya.  <br><br>Memasuki usia 13 tahun, latihan di kebon kemudian menjalar sampai keluar. Apalagi, orang tuanya memutuskan pindah dari komplek kebon dan membangun rumah sendiri di luar wilayah perkebunan. “Latihan tetap di sana (kebon), tapi tim kami sering melakukan uji coba sampai ke kota. Lalu, tahun 2000-an, saya disarankan SSB Rapel Perbaungan untuk seleksi di PSDS Junior, selama tiga kali seleksi saya dinyatakan lolos," ungkapnya.<br><br>Dari PSDS Junior, karir Novi terus melonjak dan di sinilah dia mulai paham bahwa sepakbola bisa menjadi profesi yang menjanjikan. "Saat itu saya sudah bisa pegang uang dari bola," lanjutnya. Hanya tiga tahun di junior, dia ditarik ke senior. Aksinya di  lapangan hijau terus dipantau dan memantik simpati klub-klub besar Indonesia hingga sampai ke Semen Padang. Di ranah Minang ini, bisa dikata Novi mulai menikmati hasil kerja kerasnya dan mulai menabung. Sistem penggajian yang baik, dan manajemen yang profesional membuat Novi sangat nyaman. Tidak hanya itu, dia juga sempat dilirik untuk seleksi timnas junior. "Tapi pada saat itu saya tolak, karena saya harus fokus membela klub," tukasnya.<br><br>Novi sangat paham, karir sebagai pesepakbola sangat rawan, terutama saat cedera mendera. Dia mendengarkan saran sang ayah untuk menginvestasikan penghasilan untuk masa depan. Ayahnya menyarankan Novi untuk membeli tanah. Awalnya, Novi sangat sulit merealisasikan, usianya yang masih muda dan masih ingin bersenang-senang. "Sempat sulit juga, karena usia saya masih muda, dan harus mengirit uang. Tapi, sekarang saya paham manfaatnya," jelasnya pemain yang masih punya cita-cita ingin bermain di Persija dan timnas senior ini.<br><br>Pembelian tanah itu berlanjut menjadi kebon. "Investasinya jadi kebon sawit. Saat ini saya punya tiga hektar sawit yang sudah dioperasionalkan sejak tahun 2010. Apalagi, bapak sudah pensiun, jadi beliau yang mengelola itu. Ibaratnya bisa besar karena kebon kembali ke kebon," ungkapnya soal pemilihan sawit sebagai investasi bisnisnya. Suami Ivo Silvia ini punya target ingin memiliki lahan kebon hingga 10 hektar. "Ini terus nabung, saya juga mau ketika pensiun dari sepakbola sudah tahu kemana dan mudah-mudahan bisa jadi pengusaha," tegasnya. <br><br>Novi tak ingin lupa tempat kali pertama belajar bermain bola, di kebon Lonsum Rambung Sialang, akan dikenangnya menjadi  awal jatuh cinta ke bola. Untuk itu, dia berpesan kepada calon pesepakbola dari daerah atau kebon untuk tetap latihan serius. "Jangan minder karena berasal dari daerah, semua kuncinya adalah kerja keras dan punya optimisme tinggi. Berlatih terus, dan kesempatan untuk bermain di klub besar akan datang," pungkasnya. (Bolahita)<br><br>Data Pribadi<br><div style="text-align: left;">Nama                                    :    Novi Handriawan<br>Tempat/Tanggal Lahir        :    Sei Rampah, 1 Januari 1986<br>Orang Tua                            :    Musirin (ayah)<br>                                                    Tuminem (ibu)<br>Istri                                        :    Ivo Silvia <br>Anak                                      :    Queen Bilbina Handriawan <br>Posisi                                   :    Back (pemain belakang)<br>Klub/Pemain Favorit          :    Chelsea/John Terry<br>Karir Sepakbola                 :    2002-2004    -PSDS Junior<br><div style="margin-left: 80px;">                        2005-2006    -PSDS Senior<br>                        2007-2009    -Semen Padang<br>                        2009-2010    -PSDS Senior<br>                        2010-2012    -PSMS Medan<br>                    <br></div></div>                    <br>                    <br><br><br>

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow