Pak Tua. PSMS, Sudahlah!
Pak Tua. PSMS, Sudahlah!
Katanya baru sembuh katanya sakit. Jantung ginjal dan encok sedikit saraf.
Hati hati pak tua istirahatlah.
Diluar banyak angin.
Kamu yang murah senyum memegang perut.
Badanmu semakin tambun memandang langit.
Hari menjelang maghrib pak tua ngantuk.
Istri manis menunggu istirahatlah.
Diluar banyak angin.
Pak tua sudahlah.
Engkau sudah terlihat lelah oh ya.
Pak tua sudahlah.
Kami mampu untuk bekerja oh ya.
Pak tua oh oh oh.
Tidur pak?
Sudah lama tak mendengar lagu ini. Hits Elpamas berjudul Pak Tua ini cukup populer di tahun 90-an. Memang liriknya menggelitik dan penuh makna.
Lagu ini karya Pitat Haeng; nama samaran yang dipakai oleh Iwan Fals dalam slengekan Jogja yang disematkan kepada Iwan Fals. Pitat = Iwan, Haeng = Fals.
Catatan, Abdi Panjaitan
Beberapa hari lalu, pembicaraan Saya dengan seorang senior tentang PSMS cukup menarik. Tanpa disadari, kami cukup betah dengan topik itu. Empat jam duduk berhadapan dibatasi meja, menghabiskan 4 teh botol, tim kebanggaan Kota Medan itu sudah kami bandrol seharga Rp30 miliar.
Jumlah yang fantastis memang dan wajar untuk nilai sejarah dan hebatnya tim kebanggaan kita itu. Dan menjadi cukup konyol kalau Indra Sakti Harahap tak mampu membayarkan kewajibannya sekitar Rp3 Miliar ke pemain, pelatih dan official. Akhirnya disepakati bahwa kualitas ketum PSMS PT. LI itupun disangsikan.
Masa suram prestasi PSMS lahir dalam lima tahun terakhir. Krisis financial membuat utang semakin bertambah. Ketika di Indonesia Super League (ISL), pengurus masih terutang 10 persen sisa uang muka dan 7 bulan gaji ke pemain, pelatih dan official. Di Divisi Utama musim ini, Indra Sakti memiliki kewajiban hampir Rp3 miliar.
Hitungan kasar, PSMS memiliki utang sebesar Rp8 Miliar. Ups, musim depan kita hanya penonton saja. "Ya dengan 30 Miliar tadi uda selesainya semua utang-utang PSMS itu. Kenapa pula sebesar PSMS tak mampu menggaet sponsor. Pasti ada yang salah dari sistem kerja di pengurus," ketus senior awak itu.
Lantam juga senior awak ini bicara soal PSMS. Hehehe. Tapi bener juga, dia melihat bahwa kunci kegagalan pengurus membawa PSMS adalah pada kinerja. Ibaratnya, PSMS dipenuhi barang - barang antik. Pengurus yang sudah tua yang seharusnya sudah dijaga, bukan penjaga. Pengurus dipenuhi orang-orang yang hanya mengandalkan suara selayaknya sudah memberikan doa saja.
Pengurus PSMS seharusnya yang mau bekerja. Bukan orang-orang yang lebih suka mengatakan, membandingkan zamannya, mengakui kalau tidak ada dia dan bla-bla lainnya sebagainya.
Musim ini, apa program yang dilakukan marketing PSMS? Proposal?? Saya pribadi malah pernah mendampingi ketua umum Indra Sakti Harahap mengantarkan ke salah satu bank di kawasan Lapangan Merdeka. Kemana lagi, cair atau tidak, hanya ketualah yang tau. #LOL
Musim ini, PSMS kembali menambah sederetan sejarah buruknya. Setelah di ISL yang katanya kesasar dalam membeli tiket, musim ini ada dua hal baru yang menjadi bahan sakitnya Ayam Kinantan. Pertama, gagal berangkat ke Bengukulu dengan alasan, pengurus yang tak berani menghadapkan wajahnya ke tim. Kedua, panpel PSMS hampir saja gagal menggelar pertandingan home melawan PSAP Sigli.
Konyolnya, setelah beberapa orang harus kesana kemari mencari pinjaman (sampai sekarang masih belum terbayar, Red), eh, Indra Sakti Harahap malah berani muncul dan hanya membantu Rp500 ribu. Saya jadi bingung, beda antara enggak tau malu sama punya malu.
Hayo, ada berapa divisi di kepengurusan PSMS. Kita tantangin nunjukin program kerjanya musim lalu yuk? Kira-kira ada ngak ya? Atau ketua umumnya sama juga? #LOL
Kamu yang murah senyum memegang perut.
Badanmu semakin tambun memandang langit.
Hari menjelang maghrib pak tua ngantuk.
Istri manis menunggu istirahatlah
---- Apa Visi di PSMS Medan ----
Semangat Sukarno membawa kemajuan bagi Indonesia boleh kita jadikan contoh. Visi dan misinya kerap dijadikan acuan para pemuda/i saat ini. Ketika itu istilah berdiri dengan kaki sendiri (berdikari) disampaikannya dalam sebuah pidato kenegaraan.
Bangga dengan budaya dan seni negaramu. Mulai dari Keroncong dan Wayang menjadi bahagian diri Sukarno. Sampai saat ini, visi Bung Karno berjalan. Sudah lahir jenis musik tekno keroncong dan dari daerah lain juga ada. Begitu juga dengan perwayangan menggunakan manusia dengan tarian yang sudah go internasional.
Visi Sukarno ini terus berkembang dengan orang-orang yang sesuai dengan jamannya. Perubahan demi kemajuan tanpa menghilangkan, merusak nilai berjalan. Tak harus memetik gitar bila ingin mendengarkannya.
Kita sudah mendapatkan tombolnya di keybord. Ya, sebuah perubahan datang, yang berakar dari sebuah visi akan terus bertumbuh sukses.
Lantas bagaimana PSMS Medan? Semua punya misi, kembali ke kasta tertinggi sepak bola. Mau kesana, tapi enggak punya uang bayar gaji pemain.
Saya pribadi yakin bahwa sebenarnya pengurus punya semangat yang sama dengan Sukarno, menginginkan perubahan. Tapi perubahan yang mereka inginkan tidak lagi ditangan mereka. Mengurus klub besar ini tak sekadar menekan nomor telepon.
PSMS membutuhkan orang-orang muda yang cerdas dalam visi dan misi. Orang-orang yang memang giat berkarya. Orang-orang berdasi, yang mengerti betapa imperiornya klub ini.
Tenaga muda brilian yang bisa menghitung, berapa keuntungan mengelola PSMS dengan manajemen profesional. Orang yang mampu membayar pemain mahal dari penjualan jersey.
Pak, Engkau sudah terlihat lelah bekerja.
Pak tua sudahlah.
Kami mampu untuk bekerja oh ya.
Pak tua oh oh oh. Tidur pak?
What's Your Reaction?