MEDAN, BOLAHITA - Sudah menggelar pelatihan daerah (Pelatda) berjalan Desember 2015 lalu, namun pelatih cabang olahraga senam
Sumatera Utara (Sumut) mengalami kendala. Kondisi gizi yang memprihatinkan yang belum maksimal.<div><br></div><div>"Sebenarnya untuk puding semua atlet ya sama seperti cabor lain. Paling tidak kan harus ada bubur, telur dan susu. Sehingga gizi mereka pun terpenuhi. Namun sampai sekarang mudah-mudahan belum ada," Sindir Syafrizal di sela-sela latihan, Senin (11/1/2016) di gedung Persani Sumut, Jalan GM Panggabean.</div><div><br></div><div>Saat ini, untuk pemenuhan gizi, pelatih masih berharap kepada orang tua atlet. padahal, latihan keras sudah semestinya dibarengi dengan asupan gizi yang standar. Walau begitu, ia juga memaklumi kondisi keuangan KONI
Sumut yang sangat minim saat ini.</div><div><br></div><div>Pada Pra PON 2015,
Sumut hanya meraih 1 medali perak melalui Tasya Selvia Valentine. Menjelang PON 2016, pelatih fokus pada persiapan atlet yang berpeluang besar meraih medali. Ia mengatakan, atlet yang berpeluang menyumbangkan medali ada pada nomor ritmik putra, Imam Aulia F Hutwgalung (Palang Sejajar), Alsendra Doehan (Palang Tunggal), dan Nurdiansyah ( Kuda Pelana).</div><div><br></div><div>"Kita belum berani targetkan medali. Karena persaingan cabor senam di Indonesia sangat ketat. Di Sumatera saja provinsi seperti Riau, Sumsel, Sumbar, dan Jambi sudah mampu bersaing dengan atlet Jawa. Apalagi cerita Jatim dan Jatim, mereka sudah memakai pelatih korea," jelas pria yang berprofesi Pegawai Negeri Sipil ini.</div><div><br></div><div>Atlet yang lolos ke PON sejumlah 6, masing-masing 3 putra dan 3 putri yang bermain di nomor ritmik. Mereka adalah Imam Aulia F Hutwgalung (Palang Sejajar), Alsendra Doehan (Palang Tunggal), dan Nurdiansyah ( Kuda Pelana). Sedangkan nomor Ritmik putri, Vany Uriyanti Valentin (pita), Regina Gita Valentin dan Tasya Selvia Valentin ( team Woman). </div>