Menit Bermain Lebih Penting dari Menang WO, Tapi Siapa Peduli?

Seharusnya ini tidak terjadi terhadap anak-anak Akademi Utamasia saat mereka hendak berhadapan dengan Tombak FC di penyisihan Grup B Suratin Cup 2025, Askab PSSI Deliserdang, 10 Juli 2025 siang, di Stadion Baharuddin Siregar, Lubuk Pakam

Jul 10, 2025 - 17:40
Jul 11, 2025 - 08:30
 0
Menit Bermain Lebih Penting dari Menang WO, Tapi Siapa Peduli?
Oleh: Incek Budi - Jurnalis

BOLAHITA - Di negeri sepak bola yang katanya penuh talenta, anak-anak usia dini malah lebih sering “menang” tanpa menyentuh bola. Bukan karena jago, tapi karena lawannya walk out.

Ironis? Sudah pasti. Tragis? Tentu.

Tapi sepertinya kita sudah terbiasa.

Oleh: Incek Budi - Jurnalis

Seharusnya ini tidak terjadi terhadap anak-anak Akademi Utamasia saat mereka hendak berhadapan dengan Tombak FC di penyisihan Grup B Suratin Cup 2025, Askab PSSI Deliserdang, 10 Juli 2025 siang, di Stadion Baharuddin Siregar, Lubuk Pakam. Anak-anak sudah siap tempur. Mental disiapkan, taktik dilatih, semangat dikobarkan. Tapi apa yang mereka dapat, kemenangan kosong karena lawan WO.

Ingat, mereka datang untuk bermain bola, bukan memenangkan undian keberuntungan.

SENNCOIN Selling High Quality Roasted Beans and Ground Coffee

Dan sayangnya, ini bukan kasus tunggal. Banyak oknum-oknum pelatih datang ke turnamen hanya untuk euforia. Mereka lebih sibuk bikin konten, foto tim, dan pamer seragam baru ketimbang memastikan anak-anak bermain. Bahkan, saya menduga keras, “kepala anak-anak dijual” demi mendompleng nama dan cuan. Sekolah sepak bola dibentuk bukan untuk membina, tapi untuk jadi etalase dagangan, berharap ada cuan lewat pendaftaran, sponsor, dan proyek musiman.

Turnamen Suratin Cup, yang seharusnya jadi ajang pembinaan, malah jadi ladang basah bagi oknum pelatih yang tak punya tanggung jawab jangka panjang. Sialnya lagi, saat tim WO atau tak bertanding, mereka cuci tangan: “Itu keputusan manajemen” atau "Anak-anak sedang sekolah". Klise dan menjijikkan.

Untuk para pelatih yang masih berdedikasi atau masih memelihara 'ketidakwarasannya' terhadap sepak bola, atas kejadian ini, saya mengusulkan pendapat untuk merekomendasikan pembekuan tim yang WO. Tapi jangan berhenti di sana, blokir juga aktivitas pelatihnya, agar mereka tidak membentuk tim dengan identitas baru. Bukan hanya di Suratin Cup, tapi di seluruh kegiatan sepak bola usia dini di Sumut.

Ini bukan soal dendam. Ini soal menyelamatkan masa depan anak-anak yang semangatnya perlahan dibunuh oleh ego dewasa. Sudah cukup mereka jadi korban. Jangan biarkan mereka tumbuh dengan trauma karena dipermainkan orang dewasa.

Saya minta kepada Askab PSSI Deliserdang, Asprov Sumut, hingga ke PSSI pusat, tolong buka mata. Tindak tegas pelatih-pelatih semacam ini. Buat regulasi khusus, setiap tim harus memilki badan hukum.

Jangan tunggu sampai turnamen usia dini jadi lelucon nasional. Jangan tunggu sampai semua anak kehilangan kepercayaan pada sepak bola.

Karena kalau terus dibiarkan, kita sedang mencetak bukan generasi emas, tapi generasi patah harapan.

Pemain yang baik, lahir dari kompetisi yang baik!

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow