Kondisi non teknis
PSMS Medan yang carut marut tak membuat punggawa Ayam Kinantan kehilangan harga diri di Kota Sigli. Malah ketika tertinggal dua gol saat tandang ke PSAP (24/2) lalu, kenyakinan mencetak gol terlihat jelas. Pemain bermain normal dan ngotot. <div><br></div><div>Itu terbukti dengan perjuangan Riko Simanjuntak dkk yang tak kendur. Delapan menit sebelum pertandingan menjadi moment penting. Dalam durasi itu,
PSMS sukses mencetak dua gol. </div><div><br></div><div>"Ini sebuah sinyal bahwa pemain mulai bangkit dari kekalahan lalu. Mental bertanding sudah membaik dan positifnya, perjuangan menjaga marwah tim kembali dipertontonkan, walaupun di tempat yang selama ini sulit bagi siapa saja untuk pulang dengan poin," kata Abdi J Panjaitan Media Officer PSMS. </div><div><br></div><div>Bahkan menjelang 15 akhir babak kedua, kenyakinan bahwa
PSMS akan mampu memperkecil ketertinggalan tetap melekat. Dominasi permainan di lini tengah mulai dikuasai. Satu dua sentuhan antara Affan Lubis, Affandi Lubis, Alamsyah Nasution, Safrial Irfandi, Riko Simanjuntak, Edgar Enrique berjalan. </div><div><br></div><div>"Kita bisa bayangkan bagaimana rasanya tertinggal 2-0 dan memasuki menit akhir, Anda terus menguasai permainan dan masih belum berhasil mencetak gol. Belum lagi kondisi non teknis yang carut marut," sambung Abdi. </div><div><br></div><div>Selain mentalitas dan fanatisme yang terbangun kembali, faktor jelinya Suimin melihat permainan lawan menjadi peran penting. Bahkan di banch pemain, allenatore Ayam Kinantan sempat berdiskusi soal pergantian pemain. </div><div><br></div><div>"Secara pribadi hasil satu poin ini diperoleh dari tiga hal, yakni mentalitas fanatisme yang membaik, taktik dan strategi serta pemain PSAP yang masih dalam koridor sportif bermain," pungkas Abdi. (ferry ardiansyah/
Bolahita) </div><div><br></div>