Suharto AD Dimakamkan dengan Upacara Militer, Sosok Legenda PSMS dan Purnawirawan TNI

Suharto yang juga merupakan purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu) meninggal dunia pada usia 59 tahun.

May 26, 2025 - 10:08
May 26, 2025 - 10:09
 0
Suharto AD Dimakamkan dengan Upacara Militer, Sosok Legenda PSMS dan Purnawirawan TNI
Jenazah Suharto AD dilepas dengan acara kemiliteran

BOLAHITA - Mantan pemain dan pelatih PSMS Medan, Suharto AD, telah dimakamkan dengan upacara militer di Pemakaman Muslim Kelurahan Pangkalan Masyhur, Kecamatan Medan Johor, pada Minggu (25/5/2025).

Suharto yang juga merupakan purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu) meninggal dunia pada usia 59 tahun.

Sebelum prosesi pemakaman, jenazah almarhum disalatkan di Masjid Baitul Iman, Jalan Karya Jaya, tidak jauh dari kediaman keluarga. Suasana haru menyelimuti pemakaman yang diiringi dengan tembakan kehormatan ke udara sebelum jenazah diturunkan ke liang lahat.

Menurut sang adik, Susanto, Suharto dimakamkan satu liang lahat dengan istrinya, sesuai dengan wasiat yang telah lama disampaikan semasa hidupnya. "Memang itu permintaannya dari dulu, ingin disatukan dengan makam istrinya," ujar Susanto.

Enam orang anak Suharto turut mengantar kepergian sang ayah. Salah satunya, Riska—anak kembar Suharto—terlihat memeluk erat foto sang ayah sepanjang prosesi pemakaman.


Susanto mengenang Suharto bukan hanya sebagai kakak, tapi juga rekan seprofesi di dunia sepak bola. Ia mengungkapkan bahwa Suharto kerap memberi masukan dan motivasi tentang bagaimana menjadi pelatih yang berdedikasi. "Beliau selalu bilang, kalau sudah memilih jadi pelatih, maka harus total dan konsisten. Jangan setengah hati," ungkap Susanto.

Sejumlah tokoh sepak bola Sumatera Utara lintas generasi hadir memberi penghormatan terakhir, mulai dari Abdul Rahman Gurning, Iwan Karo-Karo, Legimin Rahardjo, hingga pemain aktif seperti Syaiful Ramadhan dan Aulia Lubis.

Jejak Emas Suharto AD di Dunia Sepak Bola

Suharto AD dikenal luas sebagai striker tajam PSMS dan tim PON Sumut. Prestasi legendarisnya tercatat pada PON 1989, saat golnya membawa Sumut meraih medali emas cabang sepak bola—yang hingga kini belum berhasil diulangi.

SENNCOIN Selling High Quality Roasted Beans and Ground Coffee

Selepas pensiun sebagai pemain, Suharto memasuki dunia kepelatihan. Ia dipercaya menangani PSMS Medan di berbagai era, mulai dari Piala Caltex 1995, Liga Indonesia 1996–1997, dan kembali lagi pada musim 2010/2011 serta 2012/2013. Sayangnya, pada musim terakhir itu PSMS harus terdegradasi dari ISL.

Pencapaian terbaik Suharto bersama PSMS hadir pada tahun 2015 ketika membawa tim menjadi juara Piala Kemerdekaan. Ia juga sempat menjadi asisten pelatih di Liga 1 2018 di bawah Peter Butler, serta pernah menangani PS TNI di kompetisi yang sama.

Kariernya kemudian banyak diwarnai petualangan di Liga 3. Ia sempat melatih Bhinneka FC pada 2019 dan Batubara Bisa FC di musim 2021/2022. Meski hasilnya belum maksimal, Suharto kembali menunjukkan kualitasnya saat membawa Karo United menjadi juara nasional Liga 3 pada 2022.

Pada musim 2022/2023, ia membawa Karo United (kemudian berganti nama menjadi Sada Sumut) menempati posisi kedua grup barat Liga 2 sebelum kompetisi dihentikan akibat tragedi Kanjuruhan. Ia masih dipercaya menjadi pelatih kepala di musim berikutnya, namun berpisah dengan tim saat Sada Sumut hanya berada di peringkat kelima klasemen sementara.

Dengan segala kontribusinya sebagai pemain, pelatih, dan purnawirawan TNI, Suharto AD meninggalkan warisan besar bagi sepak bola Sumatera Utara dan Indonesia. Kepergiannya menyisakan duka mendalam, namun jejak perjuangan dan dedikasinya akan terus dikenang.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow