Ada kisah yang menarik, ketika tulang dalam perjalanan pulang dari Bandung, Minggu (14/2/2016) sore dan kembali ke training camp
PSMS Medan di kawasan Divisi I Kostrad, Cilodong. Setelah menghabiskan ijin bermalam (IB) bersama punggawa Ayam Kinantan, Suhandi, Tambun Naibaho dan Safri Al Irfandi.
CILODONG, BOLAHITA - Cerita menarik ini datang di KM 55, jalan tol Cipularang. Karena kursi di bagian AC (no smoke) dipadati penumpang, kami pun duduk di posisi paling belakang bus MGI yang berangkat dari terminal Leuwipanjang Bandung. Sekitar pukul 17.45 WIB bus ini sudah meninggalkan terminal. Belum ada cerita seru disini. Tulang masih saling bercanda dengan ketiga pemain.
Di kursi paling belakang, tidak hanya kami, ada 7 kursi yang tersedia (5 seat 1 baris, 2 seat didepannya). Tulang mengambil posisi paling kanan, Suhandi dan Safri Al Irfandi memilih lebih ke kiri. Sedangkan Tambun Naibaho malah memilih tidur di tempat kernek mobil. Hingga kilometer 54, hujan gerimis yang mengawal perjalanan pulang kami ke Cilodong.
Karena tempat duduk paling belakang yang kami gunakan masuk ruangan boleh asap rokok, penumpang yang duduk di bagian depan mulai bergantian datang merokok. Yang pertama biasa saja, say hello sambil mengatakan mau merokok saja. Orang kedua juga hanya tersenyum dan mengatakan mulut sudah asem. Tapi tidak dengan yang ketiga ini. Pria ini seperti tidak datang hanya sekadar merokok.
Mungkin dia dari awal sudah memperhatikan dari awal jaket
PSMS yang dikenakan Suhandi. Namun membuka dialog, bapak itu tak langsung mempertanyakannya. "Minjam mancis lae," begitu kata pria tersebut. Cerita punya cerita dia juga kuat merokok. Sambil menghabiskan rokok, dia pun memperkenalkan diri. Nama bapak itu Nelson Simanjuntak (49 tahun), tinggal di Cibinong.
"Kutengok jaket ada logo PSMS. Pemain
PSMS ya," tanya Nelson ke kami yang duduk belakang. Suhandi pun menjawab dengan tersenyum. Ternyata si bapak ini yang bekerja di salah satu bank Bukopin Cibinong terus bercerita soal PSMS. Dia menyatakan pengetahuannya yang terupdate kepada perkembangan sepakbola Ayam Kinantan.
"Saya tau,
PSMS Medan, Saya ikuti.
PSMS juara di di piala kemerdekaan. Mainnya itu bagus, meski pemain terlihat kecil, tapi semangatnya besar," bilang Nelson dengan bangga. "Di Piala Jenderal Sudirman, pemain
PSMS dipakai PS TNI toh. Saya juga tau itu. Dan sekarang karena liga belum jelas, kalian dapat kesempatan meninggikan level bermain dengan memperkuat PS TNI di turnamen. Bagus juga, lawannya kan dari ISL," sambungnya.
Pak Nelson sangat sedih dan heran, kenapa prestasi
PSMS tak lagi hebat. Sehebat di erah perserikatan. "Apa sudah tidak apa pemain bola yang bagus disana? Tapi saya pikir juga sejak peraturan tak boleh memakai APBD juga faktornya. Di era Saktiawan, Saya langsung nonton ke GBK," bebernya. Rokok sebatang belum habis, cerita
PSMS terus mengalir.
Nelson pun mengutarakan pertanyaan yang juga berupa harapan. Apa mungkin
PSMS bisa bangkit dan berjaya lagi? " Saya berharap psms bisa bangkit lagi. Ini harapan besar sekali, sebagai pencinta
PSMS dari cibinong. Senang bisa ketemu pemain
PSMS di bus ini. Mudah-mudahan ini jalannya ke kompetisi nanti
PSMS bisa jaya lagi. Kalian matang tampil di kompetisi dan naik lagi ke level tertinggi," harap Nelson.
Rokoknya Nelson sudah habis, tapi dia belum juga mau beranjak dari pembicaraan dan kembali ke kursinya. Dia begitu bangga bisa bertemu dengan punggawa PSMS. Hingga akhirnya semua wawasannya dikeluarkan, lalu kembali ke tempat duduknya.
Tinggal kami berempat duduk di belakang. Serentak kami berpikir, bahwa pak Nelson cukup hafal dengan PSMS. Sayangnya pembahasan kami ini harus berhenti. Soalnya ada jalan tol yang terendam air, sehingga bus yang membawa kami harus putar balik mencari rute lain ke luar tol dan masuk tol lagi. Melewati jalan perkampungan dan membuat kami semua lelah hingga tertidur.
Tak terasa, jam sudah menunjukan pukul 23.00 WIB. Kami terbangun dan juga belum sampai. Pak Nelson pun kembali ke belakang dan menghisap rokoknya. "Sabar, 15 menit lagi kita sampai di Cibinong. Semoga kalian sukses membawa
PSMS jaya lagi. Ini harapan Saya dari Cibinong. Seperti ini pun jalannya, selamat berjuang demi PSMS," pungkas Nelson sambil menyalami kami satu persatu.
Setidaknya, perjalanan enam jam yang melelahkan kami tempuh dari Bandung mendapat motivasi. Bahwa perjuangan saat ini masih tetap di jalur, demi
PSMS Medan di liga