Jawaban Edy Rahmayadi Soal Video Menampar Suporter di Std Teladan
Jawaban Edy Rahmayadi Soal Video Menampar Suporter di Std Teladan
BOLAHITA, MEDAN - Ketua umum PSSI Edy Rahmayadi akhirnya memberikan klarifikasi terkait aksinya menampar suporter di tribun Stadion Teladan dalam video yang sempat viral.
Kejadian itu berlangsung saat laga PSMS Medan versus Persela Lamongan, Jumat (21/9/2018) sore.
“Saya datang ke sana suporter maksudnya mengingatkan kepada anak - anak kita, jangan! (nyalakan flare). Sudah suatu kebiaaan saya kalo saya ketemu anak - anak, saya pegang pipi. Kalo gak pegang pipi, pegang kepala,†kata Edy Rahmayadi kepada wartawan di sela- sela kegiatan pawai obor Asian Para Games 2018 di Medan, Minggu (23/9).
“Kok, larinya (maksudnya) di tampar gitu? Tangan saya ini besar, kalau nampar orang mungkin, hadeh. Sayang sekali,†ucap Edy dengan nada tegas.
Edy menjelaskan bawah tindakan yang dilakukan sejumlah oknum suporter saat menghidupkan flare sangat membahayakan. Tidak hanya bagi pemain, namun juga merugikan tim secara finansial. Karena denda yang akan diterima oleh setiap tim tuan rumah.
“Itu setiap main, sekali flare gitu itu denda Rp 20 juta. Jadi, kalau empat kali dia, berarti Rp 80 juta. Kan sayang uangnya ini. Tapi, persoalannya bukan uang, malu Sumut masak tidak bisa tertib persoalan seperti itu,†kata Edy.
Menurut Edy, kehadiran suporter di dalam stadion memang sangat penting, terutama untuk menambah motivasi dan energi baru bagi tim kesayangannya berlaga. Tetapi, Edy mengingatkan untuk tetap menjaga ketertiban selama di dalam Stadion, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.
“Kepada seluruh pecinta sepakbola, suporter boleh berteriak-teriak. Tapi, tunjukkan bahwa Sumut itu tertib, disiplin. Lho ini kita sudah memberikan hiburan kepada rakyat Sumut, dan kita berharap berprestasi. Kita belum berprestasi, melanggar terus, jadi doa kita tidak pernah terkabulkan. Untuk rakyat Sumut mari kita tegakkan itu. Salam olahraga untuk kita semua, dan kita atur ketertiban sehingga kita bisa berprestasi,†harapnya.
“Jadi setiap saat saya menandatangani pelanggaran-pelanggaran se 34 Provinsi di Indonesia terkhusus di Sumut, saya melarang itu (flare) untuk klub lain, termasuk 18 klub yang bertanding di liga 1. Salah satunya yang tidak pernah bisa berhenti di Sumatera Utara. Pas kebetulan di kampung saya, dan saat ini gubernurnya saya pula,†ucapnya.
What's Your Reaction?