Catatan Ringan Benget Silitonga untuk Nil Maizar dan PSMS Medan
Sebagai salah satu tim sepakbola legendaris yang memiliki catatan historis prestasi nasional dan internasional, target promosi ke Liga 1 bagi PSMS mestinya bukan sesuatu yang mengada-ada.
MEDAN- BOLAHITA - Setelah ditunjuk manajemen menukangi PSMS untuk Liga 2 Indonesia musim 2024/2025, Rabu 10 Juli 2024, coach Nil Maizar akhirnya mendarat di Medan. Begitu tiba, Nil langsung memimpin latihan PSMS yang sebelumnya telah digelar dan dipimpin oleh asisten pelatih Legimin Raharjo, mantan bintang PSMS di masanya.
Catatan Benget Silitonga - Fans PSS Medan, sekaligus pemain oldcrack Gumarang FC Medan
Kehadiran Nil Maizar, mantan pelatih tim nasional dan pernah menukangi sejumlah klub elit di tanah air, tentu menjadi angin segar dan memberi spirit baru bagi PSMS dan masyarakat Sumut yang sudah lama mendambakan PSMS kembali naik kasta ke Liga 1 Indonesia. Kehadiran Nil, dengan kapasitas dan segudang pengalaman yang dimiliki, diharapkan dapat memoles dan membawa perubahan signifikan pada performance PSMS di Liga 2 Indonesia musim 2024/2025, sehingga PSMS bisa kembali ke tempatnya yang terhormat di Liga 1 Indonesia. Selamat datang, Horas Lae Nil Maizar!
Sebagai salah satu tim sepakbola legendaris yang memiliki catatan historis prestasi nasional dan internasional, target promosi ke Liga 1 bagi PSMS mestinya bukan sesuatu yang mengada-ada. Target tersebut bahkan harusnya menjadi sesuatu yang imperatif (wajib), mengingat PSMS sejatinya adalah tim hebat dan terhormat yang memiliki setidaknya tiga modalitas esensial yang harus dimiliki tim sepakbola modern yakni; modalitas historis, modalitas talenta sepakbola dan modalitas passion sepakbola fanatik yang mengakar kuat di masyarakat Sumut, khususnya kota Medan dan sekitarnya. Tiga modalitas yang ironisnya belum tentu dimiliki oleh tim lain, namun kastanya justru lebih tinggi dari PSMS.
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, modalitas historis merujuk pada sejarah panjang PSMS sebagai tim legendaris tua dengan seabrek prestasi nasional dan internasional, sejak didirikan tahun 1950. Modalitas talenta sepakbola merujuk pada kontribusi PSMS sebagai salah satu tim yang sering memproduksi pemain berbakat dan hebat yang kemudian menjadi pemain nasional.
Sementara modalitas passion sepakbola fanatik merujuk pada gairah dan fanatisme sepakbola yang begitu luar biasa pada masyarakat Sumut, khususnya kota Medan dan sekitarnya. Bukan rahasia lagi, bila bermain baik dan berprestasi, supporter PSMS terkenal gila memberikan apa yang dimilikinya untuk mendukung PSMS habis-habisan. Sebaliknya bila bermain buruk dan berprestasi melempem, tak segan suporter justru menjadi pihak pertama yang akan mengolok-olok, bahkan menghina PSMS.
Sejatinya, bila modalitas passsion sepakbola ini dikelola dengan baik, akan menjadi supporting yang sangat signifikan bagi PSMS, baik dalam aspek manegerial finansial maupun dalam aspek spirit teknikal bermain di lapangan. Dengan tiga modalitas tersebut, PSMS semestinya tidak layak ada di kasta kedua sepakbola Indonesia. Atau dengan kata lain kasta kedua sepakbola Indonesia, mestinya adalah aib bagi PSMS.
SENNCOIN Selling High Quality Roasted Beans and Ground Coffee
Sayangnya, oleh para pemangku kepentingan PSMS, selama ini tiga modalitas vital tersebut tidak terkelola dengan baik. Di sisi lain, posisi di kasta kedua sepakbola Indonesia dianggap sebagai kelumrahan belaka. Akibatnya tidak terlihat ada upaya sungguh-sungguh, extra ordinary, untuk mengembalikan martabat dan harga diri PSMS ke tempatnya yang terhormat dalam kancah sepakbola nasional.
Kini, kehadiran Nil Maizar, ibarat secercah sinar harapan di lorong gelap PSMS. Sebab bagaimanapun pelatih dan staf pelatih yang mendampinginya sangat menentukan eksistensi sebuah tim.
Sebagai Pelatih, Nil tentu paham betul tentang tiga modalitas vital yang dimiliki PSMS tersebut, dan bagaimana menjadikannya sebagai tumpuan membentuk tim PSMS yang kuat dan kompetitif. Hemat penulis, kesediaan coach Nil untuk menerima tawaran menukangi PSMS, bukan semata karena “reason for work” atau alasan taktikal teknis semata tetapi ada misi mulia, pencapaian personal yang diembannya untuk membuat sejarah; membawa PSMS kembali ke tempatnya yang terhormat dalam kancah sepakbola nasional.
Untuk itu Nil Maizar memiliki sejumlah tugas. Pertama, merekrut pemain untuk melengkapi squad PSMS. Untuk melengkapi squad, Nil harus bisa memutuskan prioritas apakah menggunakan kombinasi pemain asing atau mengutamakan pemain lokal yang sesungguhnya cukup banyak tersedia dan kwalitasnya tak jauh berbeda dengan pemain asing.
Bila harus merekurt pemain asing, Nil harus memastikan bahwa pemain yang dimaksud kwalitasnya di atas pemain lokal. Dalam merekrut pemain lokal Nil dan staf kepelatihan serta managemen, harus memastikan prosesnya dilakukan secara transparan dan akuntabel (trial) dan partisipatif melibatkan talent scout yang kompeten dan stakeholder terkait (klub dan mantan pemain PSMS) untuk mendapatkan pemain lokal yang bermutu dan sekaligus untuk menghindari adanya rumor pemain titipan.
Kedua, membangun komunikasi, komitmen, dan kinerja mutual antara pelatih dan manager tim. Untuk tim yang secara struktural membedakan antara jabatan pelatih (urusan teknis) dan manager (non teknis) seperti PSMS, hal ini menjadi penting sebab bukan rahasia lagi acap sering terjadi disharmoni antara manager dan pelatih diantaranya dalam hal merekrut dan mengontrak pemain, dan penyediaan fasilitas tim, yang pada akhirnya berdampak pada performance tim secara keseluruhan. Tentu hal ini tidak hanya menjadi tugas Nil sebagai pelatih.
Lihat postingan ini di Instagram
Ini juga menjadi catatan penting bagi Manager PSMS. Sayangnya sampai dengan tulisan ini dibuat, PSMS belum menunjuk manager tim. Hanya asisten manager yang diemban oleh Saktiawan Sinaga, mantan bintang PSMS di masanya. Ada baiknya PSMS segera mendefenitifkan manager tim supaya tersedia waktu yang cukup untuk membangun chemestry dengan pelatih. Sosok Manager tim yang diharapkan tentunya adalah sosok yang kapabel dan mumpuni serta satu visi dengan Nil Maizar sebagai Pelatih.
Ketiga, menemukan formula bermain PSMS yang khas, “rap-rap” dan “ribak sude” namun bukan berarti kasar. Sebagai pelatih yang telah menangani banyak tim ternama, Nil Maizar tentu punya filosofi bermain yang menjadi ciri khasnya yakni mengedepankan ball possesion. Filosofi ini tentu harus dikombinasikan dengan ciri bermain PSMS yang dikenal keras, lugas, serta produktif menghasilkan gol.
Kombinasi dari filosofi ball possesion dan karakter “rap-rap” yang keras dan lugas diharapkan akan menghasilkan gaya bermain PSMS yang lebih spartan, disiplin, cepat, dan bermental pemenang.
Keempat, merancang skema latihan dan uji coba berkwalitas. Merujuk pada jadwal Liga 2 musim sebelumnya, musim kompetisi 2024/2025 kemungkinan akan dimulai Agustus atau September 2024. Itu artinya, tidak banyak waktu tersedia untuk melakukan persiapan dan pematangan tim. Oleh karenanya di waktu yang sempit, Nil Maizar harus bisa segera menjadwalkan uji coba dengan tim-tim selevel atau bahkan dengan tim Liga 1, untuk dapat menilai progres latihan dan kwalitas pemain sekaligus melakukan evaluasi.
Tugas tersebut tak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin. Yang pasti Nil Maizar tentu tidak bisa menjalankannya sendirian. Dibutuhkan iklim kondusif dan dukungan penuh dari managemen PSMS. Bukan hanya dari manajemen, bahkan dari seluruh pemangku kepentingan dan pecinta PSMS. Namun justru pada yang disebut terakhir ini kita khawatir; misi mengembalikan PSMS pada tempatnya yang terhormat, berpotensi terciderai oleh tendensi politik. Bagaimana bisa?
Tak bisa dipungkiri, kini manajemen PSMS dipegang oleh PT Kinantan Medan Indonesia (PT. KMI) yang diasosiasikan dekat dengan Edy Rahmayadi, mantan Ketua PSSI dan mantan Gubenur Sumut, yang kini digadang-gadang kembali mencalonkan sebagai Gubernur Sumut pada Pilkada Nopember 2024. Sementara seteru calon gubernur yang akan dihadapi adalah Boby Nasution (kini Walikota Medan).
Bila ini benar, rivalitas politik ini dapat berpotensi merembes ke dalam tata kelola PSMS di tengah mengemukanya praktik politisasi dalam relasi sosial politik, termasuk dunia olahraga kita. Apalagi kemudian sejumlah klub anggota PSMS, informasinya juga sedang melakukan gugatan hukum atas dugaan ketidakabsahan legal standing PT. KMI sebagai pengelola PSMS.
Bukan tak mungkin ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan di air keruh menggiring rivalitas politik ini ke dalam konflik tata kelola PSMS. Semoga saja kekhawatiran ini segera diantispasi dan tidak terjadi. Kita berharap para pemangku kepentingan dan pecinta PSMS bisa lebih mengedepankan komunikasi dan konsolidasi untuk kemajuan PSMS, daripada, mengedepankan ego pribadi dan kelompok.
Biarlah berpolitik secukupnya dan bersepakbola selamanya. Dengan begitu, lae Nil Maizar dan tim kepelatihannya serta managemen bisa bekerja leluasa dan fokus serta sinergis, membangun dan membawa tim PSMS me “rap-rap” dan me “ribak sude” lawan di Liga 2 musim 2024/2025, sehingga bisa kembali ke tempatnya yang terhormat di Liga 1 Indonesia. Semoga.
What's Your Reaction?