Ini Klarifikasi Soal Berita Miring di PSMS Medan

Ini Klarifikasi Soal Berita Miring di PSMS Medan

Nov 26, 2015 - 20:34
 0
Ini Klarifikasi Soal Berita Miring di PSMS Medan
Meskipun berada di bus, Edy Rahmyadi dengan Andry Mahyar selalu berkomunikasi tentang perkembangan PSMS Medan secara intens
MEDAN, BOLAHITA - Ketika PSMS Medan terpuruk, semuanya bersembunyi merasa tak memilikinya. Ketika sosok Edy Rahmyadi peduli Ayam Kinantan, semua mulai mendekatinya. Di saat PSMS juara Piala Kemerdekaan, semua mulai mengaku mencintai dan memilikinya.

Dan ketika PSMS mengumpulkan dana dan mulai gajian, semua ingin semuanya. Ya, itulah PSMS Medan. Tak ribut kalau bukan PSMS Medan namanya. Soal pengeluaran gaji yang jelas diributi. Kemudian soal badan hukum PSMS yang resmi sudah terbentuk, lagi-lagi dipertanyakan. Ya, siapa lagi kalau bukan orang-orang yang mulai mengaku adalah PSMS Medan.

Banyak suporter setia Ayam Kinantan yang menjadi tanda tanya. Mereka bingung setelah PSMS juara justru ada pihak yang menilai manajemen gagal. Bagaimana manajemen tim PSMS menanggapinya? Berikut kutipan jawaban Media Officer PSMS Medan, Abdi Panjaitan kepada Bolahita :

"Ribut-ribut seperti ini acap terjadi. Tak gajian pun PSMS ribut juga, ada dualisme. Jadi kalau Saya pribadi melihatnya justru inilah yang membendung kemajuan sepak bola di Medan. Keributan selalu dihembuskan, bukan dibicarakan duduk bersama, menyelesaikan masalah hingga menyatukan visi misi profesionalnya PSMS,"

"Saya pikir berita ini sudah sangat basi, karena sudah diklarifikasi langsung oleh manajer Andry Mahyar. Setau saya Pangkostrad dan Andry Mahyar sudah membicarakan sangat sering dan terakhir di bus saat PS TNI bermain di Gelora Delta Sidoarjo. Apa mereka-mereka tahu jika Andry Mahyar sudah mengeluarkan uang sebesar Rp 380juta buat PSMS di persiapan Marah Halim lalu. Dia juga sudah menggaji pemain PSMS yang sudah tak gajian tiga bulan ketika itu. Nah di saat itu kemana mereka-mereka yang ngaku cinta PSMS? Saya pikir itulah alasan kuat Pangkostrad meminta Andry Mahyar menjadi manajer PSMS"

"Soal jumlah manajemen yang terlalu gemuk yang katanya ada 16 orang, itu salah besar. Ada enam orang, mulai dari Andry Mahyar (manajer), Saktiawan Sinaga (wakil manajer), Amin (sekretaris tim), Saya sendiri media officer, Soni Gunawan (sekurity officer) dan Edi Sofyan (kesekretariatan). Dan adalah benar jika menerima gaji secara profesional. Jumlahnya antara Rp2.5 sampai Rp5 juta. Tapi tidak benar manajer menerima gaji, hanya lima orang di manajemen yang terima gaji"

"Mengenai PT Kinantan Medan Indonesia sendiri, setau Saya ketum Mahyono sendiri aktif dalam rapat pembentukan. Bahkan menandatangani adminitrasi pembentukan PT. Jadi jangan dibilang, dia (ketum) tidak tau soal pembentukan PT"

"Lalu juga dibilang tidak ada keterbukaan soal financial. Toh sampai saat ini tidak ada permintaan laporan keuangan ke manajemen. Dan tentang perihal keuangan ini sebenarya tidak ada dibawah manajemen. Tapi langsung dibawah direktur keuangan PT tersebut. Jadi sekali lagi masalah pengeluaran PSMS adalah tidak menjadi kewenangan manajer dalam mengelola. Uang dipegang langsung Direktur Keuangan dan cara penggunaannya adalah melalui pengajuan keperluan tim. Jadi tidak sistem uang tunai kepada manajemen dan ini sudah berjalan sejak awal. Hal ini sudah berjalan sebelum manajemen dipimpin Andry Mahyar ada"

"Perlu ditekankan juga bahwa di PT Kinantan Medan Indonesia, bahwa 40 klub memiliki saham sebesar 20 persen (per klub 0.5 persen). Mungkin Mahyono belum menyampaikan ke 40 klub soal itu"

"Kemudian juga terkait Komisi Teknik yang dibeberkan di beberapa media cetak di Kota Medan ada 6 orang. Komisi teknik itu ada 5 orang, yaitu Parlin Siagian, Nobon, Jampi Hutauruk, Badiaraja Manurung, Yongki Haurisa. Dan itu dipilih langsung oleh Pangkostrad (masih Pangdam I/BB) dan sudah ada sebelum manajemen Andry Mahyar terbentuk"

"Nah yang paling krusialnya soal isu dana PSMS yang terkumpul sebesar Rp6,8 Miliar. Setau Saya itu tak pernah ada. Yang terkumpul itu sekitar Rp3,8 miliar dan itu yg digunakan sejak bulan Maret lalu dan sekarang masih tersisa Rp1,3 miliar. Coba bayangkan, apakah itu boros atau hemat? Dengan mengikuti turnamen dan lancar pemain gajian? Saya pikir kita jangan terlalu mudah dipengaruhi sosok-sosok oknum yang tak menginginkan PSMS profesional. Kita harus memulai berpikir untuk hal positif, agar hasilnya juga positif"

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow