Kenangan PSMS Musim 96/97, Gawang Dikencingi di Stadion Siliwangi
Kenangan PSMS Musim 96/97, Gawang PSMS Di Kencingi di Stadion Siliwangi
Skuat PSMS Musim 1996/1997 pada Liga Kansas Indonesia (Dok pribadi)
BOLAHITA, MEDAN - Atmosfer Liga Indonesia sejak dulu bisa dibilang tidak terlepas dari Persib Bandung dan PSMS Medan. Dimana keduanya juga melahirkan banyak sejarah dan menyimpan banyak kenangan.
Mulai dari era perserikatan hingga Ligina (Liga Indonesia), masing-masing pemain dari Persib ataupun PSMS Medan mengantungi memori yang tak bisa dilupakannya.
Dan salah satunya adalah Slamet Riyadi, pemain bertahan PSMS Medan. Ia memiliki satu cerita menarik saat PSMS Medan bertemu dengan Persib Bandung di musim 1996/97 di Stadion Siliwangi, Bandung di era Liga Kansas.
Sepertinya, ini menjadi satu momen penting yang diingat Slamet dengan pelatihnya pelatih Sakirman Saswa dan asistennya, Suharto AD yang baru pensiun sebagai pemain.
Situasinya, saat itu PSMS Medan diambang pintu degradasi. Satu-satunya cara agar tidak terdegradasi adalah dengan menahan imbang Persib. Parahnya, tim tuan rumah juga sangat membutuhkan kemenangan, agar mereka bisa lolos ke babak selanjutnya (12 Besar).
"Ini laga sangat dramatis, apalagi lawan Persib. Kami tekad tak mau kalah. Jadi kami siap untuk hidup-mati di laga tersebut. Teror penonton saat kami masuk lapangan sudah terasa, tapi kami tetap tak ingin kalah," kenang Slamet yang kala itu berusia 21 tahun.
M11Bet, Situs Betting Online Resmi Indonesia. Pasaran Terbaik, Layanan 24/7, Resmi

Keinginan Persib untuk memenangkan laga memang sangat terasa. Di sepanjang pertandingan, daerah pertahanan PSSM terus diserang. Parkir bus yang diterapkan PSMS pun tetap dilakukan. Ini membuat Slamet Riyadi, Surimanto dan Andreas harus bisa mempertahankan tiap jengkal areanya sendiri, termasuk gawang yang dijaga Muhammad Halim.
"Lapangan udah terasa miringlah, karena diserang terus dari awal. Jadi waktu itu PSMS bisa dibilang pakai sistem parkir bus agar tidak kebobolan," ucap Slamet Riyadi yang kini berusia 46.
Tekanan bertubi-tubi ini juga datang akibat kualitas materi pemain Persib juga yang diatas PSMS Medan. Bagaimana tidak, di skuat Maung Bandung saat itu ada Roby Darwis, Yudi Guntara, Keke Karia, Sutiono, Yusuf Bahtiar dan beberapa lainnya.
Sedangkan PSMS hanya mengandalkan Siswanto, Abdul Rahman, Adam Tomagola, Khairifo, Suhartono, Sugianto, Andreas, Alexander, Bona simanjuntak dan lainnya. Dengan komposisi demikian, PSMS memang dari ingin bermain dengan sistem parkir bus, alias bertahan total.
"Jadi di laga itu PSMS cuma pasang satu penyerang, yakni Adam Tomagola. Kecil orangnya. Sementara bek mereka tower semua, ada Roby darwis, Roy Darwis dan Yadi Muliadi. Semuanya tinggi-tinggi. Pokoknya kami bertahan di daerah kotak 16. Hampir seluruh pemain turun saat diserang," Slamet Riyadi.
Skuat Persib Musim 1996/1997 pada Liga Kansas Indonesia (instagram.com/legendabandung)
Parkir bus dan Rap Rap ala Medan yang diterapkan Slamet Riyadi dkk pelan-pelan membuat Persib mulai frustasi. Meski terus memborbardir, menekan dan memiliki sejumlah peluang, namun gol yang mereha harapkan tak kunjung datang.
Dan bobotoh pun mulai tak tenang. Melihat Persib yang mengalami kebuntuan, mereka mencoba menganggu konsentrasi pemain PSMS. Salah satunya dengan menyiram gawang PSMS dengan air kencing. "Waktu itu kan masih bebas penonton bisa turun jalan ke belakang gawang. Saya lihat ke belakang gawang PSMS dikencingi," ingat Slammet.
"Pokoknya entah berapa kali tendangan mereka terkena tiang gawang PSMS. Memang ada keberuntungan juga lah waktu itu," kata Slamet yang kini berlisensi A AFC.
Perjuangan PSMS Medan tidak merubah gaya permainan parkir bus selama 90 menit agart tidak kebobolan membuahkan hasil.
Hasil seri 0-0 ini disambut seluruh pemain serta official yang ada di bench dengan haru tangis. Karena sulit membayangkan bagaimana saat itu PSMS bisa tidak kebobolan dari tuan rumah.
"Tak terbayangkan bagaimana perasaan saat itu. Semuanya nangis dan berpelukan di tengah lapangan," kata Slamet lagi.
Menurut Slamet, keberhasilan mempertahankan PSMS saat itu buah dari fanatisme. Karena saat itu, mayoritas punggawa Ayam Kinantan adalah anak Medan.
"Kami bangga bisa membuat PSMS bertahan waktu itu. Ini karena kami anak-anak Medan, jadi ada rasa kebanggaan dan memiliki. Tak ada embel-embel bonus, cuma lambang di dada aja yang kita punya," Slamet Riyadi.
Dengan hasil akhir pertandingan 0-0, maka PSMS berada di posisi 10 klasemen akhir penyisihan, unggul satu poin atas Mataram Indocement yang harus terdegradasi.
Sedangkan Persib yang akhirnya tetap menjadi tuan rumah babak 12 besar justru gagal meraih juara.
What's Your Reaction?