Potret Terkini Legenda PSMS Medan Mamek Sudiono Mengundang Empati Dan Kepedulian
Sebuah foto yang memperlihatkan dirinya terbaring di pinggir jalan sempat viral di media sosial dan memicu gelombang empati dari para mantan pemain serta pecinta sepak bola, khususnya pendukung setia Ayam Kinantan.
BOLAHITA.ID – Kabar tentang legenda PSMS Medan, Mamek Sudiono, kembali menyita perhatian publik. Sebuah foto yang memperlihatkan dirinya terbaring di pinggir jalan sempat viral di media sosial dan memicu gelombang empati dari para mantan pemain serta pecinta sepak bola, khususnya pendukung setia Ayam Kinantan.
Tonton Video saat Mamek Sudiono dikunjungi mantan PSMS Medan
Foto tersebut memunculkan berbagai spekulasi. Namun, rasa kepedulian para mantan pemain PSMS Medan tak menunggu lama. Pada Sabtu (4/7/2026) petang, sejumlah eks pemain seperti Suriadi dan Abdulrahman Gurning bersama rekan-rekannya langsung bergerak mencari tahu kondisi sebenarnya dengan mengunjungi kediaman Mamek di kawasan bantaran Sungai Helvetia.
SENNCOIN Selling High Quality Roasted Beans and Ground Coffee
Dari kunjungan itu, terungkap kondisi kehidupan Mamek Sudiono yang cukup memprihatinkan. Ia kini tinggal bersama anak perempuannya dan cucu di tengah keterbatasan ekonomi. Informasi tersebut dibagikan Suriadi melalui grup WhatsApp keluarga besar mantan PSMS Medan.
“Bg Mamek tinggal bersama anak perempuan dan cucunya di daerah bantaran sungai Helvetia. Kondisinya memang sangat memprihatinkan, kurang terurus dan secara ekonomi juga kurang baik,” tulis Suriadi dalam pesannya.
Terkait foto yang beredar, Suriadi juga menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi saat cucu Mamek sedang melahirkan di klinik. Dalam kondisi sendiri di rumah, Mamek keluar tanpa arah hingga akhirnya ditemukan tertidur di pinggir jalan di kawasan Simpang Tanjung Mulia. Saat ini, ia telah kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarga.
“Memang sangat perlu uluran tangan dari kita,” tambahnya, mengajak seluruh pihak untuk turut peduli.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa sosok yang pernah berjasa besar bagi kejayaan sepak bola daerah pun tak luput dari ujian hidup. Mamek Sudiono bukan nama asing bagi publik Medan. Ia adalah bagian dari sejarah emas PSMS Medan, khususnya saat membawa tim meraih gelar juara Liga Perserikatan 1984/1985.
Pada final yang digelar 23 Februari 1985 itu, PSMS Medan menghadapi Persib Bandung dalam laga penuh tensi tinggi. Mamek menjadi pahlawan saat dipercaya sebagai penendang penalti terakhir. Dengan penuh ketenangan, ia sukses mengeksekusi tendangan yang memastikan kemenangan PSMS 4-3 dalam adu penalti, sekaligus mempersembahkan gelar keenam bagi klub kebanggaan Sumatera Utara tersebut.
Kini, di balik kenangan gemilang itu, tersimpan realita kehidupan yang mengundang keprihatinan. Namun, di tengah keterbatasan, masih ada harapan yang tumbuh dari kepedulian sesama bahwa jasa para legenda tidak akan dilupakan, dan tangan-tangan kebaikan akan selalu hadir untuk menguatkan.
What's Your Reaction?