Cerita Hangat Seorang Ayah Tentang Perjuangan Boy Arnez Arabi

Ramli, sang ayah, bercerita dengan tenang tentang perjalanan panjang anaknya hingga akhirnya dinobatkan sebagai Most Valuable Player (MVP) sekaligus Best Outside Hitter di ajang AVC Men's Cup 2026.

Jun 29, 2026 - 23:44
Jun 29, 2026 - 23:45
 0
Cerita Hangat Seorang Ayah Tentang Perjuangan Boy Arnez Arabi
Boy Arnez Arabi berfoto bersama keluarganya

BOLAHITA.ID - Di balik kesuksesan pemain Timnas Voli Indonesia, Boy Arnez Arabi, ada sosok ayah yang menyaksikan setiap prosesnya dengan penuh kesabaran.

Ramli, sang ayah, bercerita dengan tenang tentang perjalanan panjang anaknya hingga akhirnya dinobatkan sebagai Most Valuable Player (MVP) sekaligus Best Outside Hitter di ajang AVC Men's Cup 2026.

Prestasi itu terasa begitu istimewa. Apalagi Boy baru saja ikut mengantarkan Indonesia meraih gelar juara setelah menaklukkan Korea Selatan 3-0 di partai final yang berlangsung di Veer Savarkar Sports Complex, Amdavad, India, Minggu (28/6/2026).

Bagi Ramli, kebanggaan sebagai orang tua tidak bisa disembunyikan. Namun di balik itu, ia selalu mengingatkan bahwa semua berawal dari mimpi dan target yang dibangun sejak kecil. “Kalau mau jadi atlet, harus punya tujuan. Itu yang selalu saya tanamkan sejak mereka masih kecil, termasuk Boy,” ujarnya.

SENNCOIN Selling High Quality Roasted Beans and Ground Coffee

Perjalanan Boy memang tidak instan. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah mulai ditempa dengan latihan yang konsisten. Lingkungan keluarga pun turut membentuknya. Boy adalah anak keempat dari empat bersaudara, dan dua kakaknya juga menekuni dunia voli di level nasional.

Ramli sendiri bukan sosok asing di dunia olahraga. Di usianya yang kini 60 tahun, ia mengantongi lisensi Pelatih Nasional C dan sudah lama berkecimpung dalam pembinaan atlet. Rumah mereka bahkan kerap menjadi tempat latihan bagi pemain muda dari berbagai daerah.

Namun siapa sangka, perjalanan Boy justru berawal dari lapangan sepak bola. Saat kecil, ia lebih menyukai sepak bola dibanding voli. Sayangnya, kondisi fisiknya saat itu membuatnya sering kesulitan bersaing.

“Setiap pulang main bola, dia sering pincang. Katanya kakinya kena tendang teman-temannya,” kenang Ramli.

Dari situlah, sang ayah mulai mengarahkan Boy ke bola voli. Meski awalnya sempat ditolak karena merasa sakit saat memukul bola, Ramli tidak menyerah. Ia bahkan memodifikasi bola agar lebih empuk demi membuat anaknya nyaman berlatih.

“Itu bola pertama dia. Saya kupas kulit luarnya supaya tidak terlalu keras. Dari situ dia mulai berani, lalu perlahan jadi suka,” tuturnya.

Seiring waktu, kecintaan Boy terhadap voli tumbuh. Ia terus berlatih, menempa diri, hingga akhirnya bergabung dengan klub-klub besar dan dilatih oleh pelatih nasional maupun internasional.

Meski begitu, Ramli mengaku tidak pernah membayangkan anaknya akan meraih penghargaan individu setinggi MVP di level Asia. “Kalau MVP itu bonus. Yang penting sebenarnya tim bisa juara,” katanya dengan rendah hati.

Di balik keberhasilannya, Boy juga harus menghadapi tantangan, salah satunya soal postur tubuh. Dengan tinggi sekitar 186 cm, ia tidak setinggi kebanyakan pemain di posisinya. Namun kekurangan itu ditutup dengan kerja keras dan kemampuan lompatan yang luar biasa.

“Vertical jump-nya bagus. Itu hasil latihan keras yang dia lakukan sendiri,” jelas Ramli.

Bagi Ramli, karakter menjadi kunci utama. Ia melihat Boy sebagai pribadi yang mandiri, disiplin, dan menjunjung tinggi sportivitas, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Sebagai mantan atlet yang pernah memperkuat Kota Medan di Porda 1999, Ramli selalu menekankan pentingnya disiplin dalam menjaga fisik, pola makan, dan waktu istirahat.

Kini, setelah meraih prestasi besar, Ramli hanya berharap satu hal: agar anaknya tetap rendah hati.

“Saya cuma berpesan, jangan cepat puas. Tetap rendah hati dan berbagi ilmu dengan yang lebih muda. Semoga ini bisa jadi motivasi untuk atlet lain, khususnya dari Sumatera Utara,” tutupnya.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow