Laga PSMS vs Persib Versi Sunardi A: Rivalitas Klasik yang Melahirkan Rekor Dunia

Sebuah era keemasan yang hingga kini masih dikenang sebagai salah satu bab paling indah dalam sejarah sepak bola Sumatera Utara.

Jun 27, 2026 - 22:22
Jun 27, 2026 - 22:24
 0
Laga PSMS vs Persib Versi Sunardi A: Rivalitas Klasik yang Melahirkan Rekor Dunia
Pesepakbola legendaris Indonesia dan PSMS Medan, Sunardi A (Foto: Abdi Panjaitan)

BOLAHITA.ID - Sepak bola Perserikatan Indonesia pernah menghadirkan rivalitas klasik antara PSMS Medan dan Persib Bandung pada era 1980-an.

Kedua tim bahkan bertemu dalam dua final secara beruntun, yakni pada musim 1983 dan 1985. Menariknya, dua laga puncak tersebut sama-sama dimenangkan PSMS Medan melalui drama adu penalti.

Namun, final 1985 menyimpan cerita yang lebih istimewa. Partai puncak yang berlangsung di Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), Jakarta, pada 23 Februari 1985 itu disaksikan sekitar 150 ribu penonton. Jumlah tersebut tercatat sebagai rekor dunia untuk pertandingan sepak bola antarklub amatir dengan jumlah penonton terbanyak.

Meski stadion dipadati lautan manusia hingga ke lintasan lari, pertandingan berlangsung aman dan tertib. Tidak ada kerusuhan, meski duel di lapangan berlangsung sengit dan penuh tensi tinggi.

"Atmosfer pertandingan saat itu sangat luar biasa. Saking padatnya penonton, kami harus mendapat pengawalan ketat saat memasuki lapangan," kenang bek legendaris PSMS, Sunardi A, dalam kanal YouTube Lae Tape.

Sehari sebelum pertandingan, para pemain PSMS sudah mendengar kabar bahwa puluhan ribu suporter Persib telah memadati Jakarta. Dengan materi pemain bintang seperti Ajat Sudrajat dan Robby Darwis, Persib lebih diunggulkan untuk menjadi juara.

Namun, status underdog justru membakar semangat para pemain Ayam Kinantan untuk mempertahankan gelar yang mereka raih pada musim sebelumnya.

"Saat itu, kami semua bersepakat untuk berjuang bersama dan terus berlari tanpa henti untuk mengimbangi keunggulan teknik Persib," ujar Sunardi.

Strategi serangan balik cepat yang diterapkan pelatih Parlin Siagian membuahkan hasil. PSMS unggul lebih dulu melalui dua gol M. Sidik pada babak pertama. Persib kemudian bangkit dan menyamakan kedudukan menjadi 2-2 lewat gol Iwan Sunarya dan Ajat Sudrajat.

SENNCOIN Selling High Quality Roasted Beans and Ground Coffee

Skor imbang bertahan hingga babak tambahan waktu usai. Penentuan juara pun harus dilakukan melalui adu penalti. Dalam duel yang menguji mental tersebut, PSMS akhirnya menang dengan skor 2-1 dan sukses mempertahankan gelar juara Perserikatan.

Keberhasilan itu memicu euforia besar di kalangan pemain dan suporter. Sunardi mengenang pengalaman unik sehari setelah kemenangan tersebut. Para pemain PSMS "diculik" suporter menuju Pasar Senen dan masing-masing diberi sebuah koper kosong.

"Di Pasar Senen banyak pedagang asal Sumatra, khususnya perantau dari Medan. Mereka memaksa kami mengambil barang dagangan mereka secara gratis," ungkap Sunardi.

Saat itu, PSMS memang dianggap sebagai representasi kebanggaan masyarakat Sumatera.

Setibanya di Medan, sambutan luar biasa kembali diterima tim. Warga telah memadati kawasan Bandara Polonia dan mengarak para pemain keliling kota.

"Momen saat itu sangat luar biasa. Kami dan warga Medan larut dalam pesta kemenangan," kata Sunardi.

Tahun 1985 pun menjadi tahun emas bagi sepak bola Sumatera Utara. Pada tahun yang sama, tim sepak bola Sumut yang didominasi pemain PSMS berhasil meraih medali emas cabang sepak bola pada PON 1985 di Jakarta setelah mengalahkan Irian Jaya (Papua) di partai final.

Sebuah era keemasan yang hingga kini masih dikenang sebagai salah satu bab paling indah dalam sejarah sepak bola Sumatera Utara.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow