BULAN Ramadhan, seluruh punggawa Ayam Kinantan musim lalu benar-benar diuji kesabarannya. Sampai saat ini, pemain, pelatih dan official belum juga menerima hak, sesuai kontrak yang mereka tanda tangani bersama
PSMS Medan.
Berbagai cerita sedih pun diungkapkan trio pelatih PSMS. Mereka bercerita dengan nada sedih, akan pahitnya Ramadhan tahun ini.
Terlebih Suharto AD, yang dua musim berturut-turut mengalami hal yang sama, tak dibayarnya gaji. Dari awal pembentukan, tandatangan kontrak hingga kompetisi usai, Suharto belum pernah merasakan gaji.
“Tahun ini kalau saya bilang yang paling parah. Menghadapi Ramadan tanpa ada dibayar gaji. Bahkan sejak awal, pelatih tidak ada menerima gaji. Sementara dibulan puasa kebutuhannya tambah banyak.Belum lagi Idul Fitri nanti,” ujarnya.
Suharto tak punya oran lain untuk disalahkan atas duka di Ramadhan ini. Sosok Ketua Umum Indra Sakti Harahap adalah orang yang pantas menerimanya. Sebagai orang yang paling bertanggungjawab, Indra tak memberikan sepeserpun hak.
“Saya gak ngerti ketua umum macem apa dia. Tak punya hati nurani. Tega membiarkan kami dalam kondisi seperti ini,” ujarnya. Pria plontos ini sebenarnya masih bisa berharap pada uang gaji sebagai anggotaTNI AD.Namun tak mencukupi untuk membiayai enam orang anaknya.
“Saya masih bisa berharap gaji dari tempat lain. Tapi itupun tidak cukup bagaimana dengan yang lain hanya berharap dari sepak bola,” katanya. Bagaimana mungkin cukup apalagi dua anaknya masuk sekolah tepat sebelum Ramadan ini di tingkat berbeda.
“Satunya yang paling kecil masuk SD. Sementara yang kakaknya masuk SMA. Kebutuhannya tentu besar, untuk biaya masuk sekolah dan kebutuhan sehari- hari. Apalagi saat Ramadan,” jelasnya. (
Bolahita)