BOLAHITA - Akibat tertundanya kompetisi Divisi Utama 2015, PS Bintang Jaya mengklaim telah menderita kerugian hingga Rp650 juta. Sedangkan PSMS Medan sendiri memilih fokus menggelar persiapan.
“Kami tetap memenuhi kewajiban membayar gaji pemain dan pelatih. Sedangkan kompetisi tidak kunjung digelar,” ujar CEO PS Bintang Jaya, Erwis Edy Pauja Lubis, di Kisaran, Rabu (6/5).
Dikatakan, kalau dihitung dari mulai penjaringan pemain sampai sekarang, pihaknya telah menderita kerugian hingga Rp650 juta. “Saya kira semua klub merasakan hal yang sama. Sedangkan sponsor masih enggan membantu, karena PSSI dibekukan,” jelas Erwis.
Rencananya, 9 Mei nanti ada rapat dengan PT Liga Indonesia untuk membicarakan kelanjutan kompetisi Divisi Utama. Bila kompetisi diundur lagi dan setelah lebaran baru digelar, maka kerugian klub akan terus bertambah.
“Ini adalah akibat dari pembekuan PSSI oleh Kemenpora. Klub sudah menjadi korban, siapa yang mau mengganti kerugian kami? Apa Menpora mau menggantinya?” ketus Erwis.
Erwis juga ragu apakah Menpora bersama perangkatnya sanggup melaksanakan kompetisi, mulai dari Liga Nusantara, Divisi Utama, dan ISL. Oleh sebab itu, dia berharap konflik ini cepat diselesaikan sehingga klub tidak menanggung kerugian lebih besar.
“Bila situasi ini terus berlanjut, maka semangat para pemain akan menurun. Dan hal itu sangat berdampak dengan perkembangan sepakbola nasional,” pungkas Erwis.