BOLAHITA.COM - Keterbatasan infrastruktur tempat latihan dan perhatian dari pemerintah setempat, menjadi faktor kuat terpuruknya prestasi bulutangkis di
Sumatera Utara. Kualitas pelatih dan atlet bukanlah penyebabnya.
"Kami di daerah tentunya tidak seperti di kota besar. Ya wajar saja bila dominasi atlet PB Jarum, Mutiara atau pun Ragunan mendominasi. Mereka latihan pagi sore dalam seminggu. Sedangkan kami hanya empat kali dalam seminggu, itupun hanya sore hari," ujar Dilianto Ketaren, pelatih PB Baja Kota Tebing Tinggi.
Permasalahan infrakstruktur ini memang cukup menyedihkan. Semangat membina atlet tidak sebanding dengan lapangan tempat latihan.
"Hanya punya satu lapangan sendiri. Jumlah atlet hampir mencapai tigapuluhan. Meskipun tak maksimal, kita tetap bagi jadwal," sambungnya. Dilianto Ketaren mengaku kualitas pelatih dan atlet
Sumut sendiri tidak kalah dari luar
Sumatera Utara.
"Salah satu contoh yang terjadi di daerah adalah ketika kami pelatih menjadikannya profesi kedua. Sedangkan di Jawa, itu sudah menjadi pekerjaan utama. Pola pikir bahwa bulutangkis belum menjadi sumber mata pencaharian masih melekat di daerah. Disini bermain bulutangkis masih ada yang beranggapan sekadar mengisi waktu kosong," bilang Dilianto.
Termasuk dengan kualitas pelatih, dirinya mengaku tak memiliki perbedaan yang jauh dengan yang di Pulau Jawa. "Pelatih di daerah juga punya sertifikat dan program dalam melatih. Di
Sumut kita hanya terbentur soal intensitas dan prasarana latihan saja," pungkasnya.