Sempat Nyaris Gantung Sepatu, Herlina Febryanti Simangunsong Kini Tampil di Indonesia Women's League
Perjalanan Herlina Febryanti Simangunsong untuk kembali menekuni sepak bola tidak selalu berjalan mulus. Setelah memperkuat Sumatera Utara pada PON XXI Aceh-Sumut 2024, pesepak bola putri ini sempat kehilangan gairah karena minimnya kompetisi.
BOLAHITA.ID, MEDAN – Perjalanan Herlina Febryanti Simangunsong untuk kembali menekuni sepak bola tidak selalu berjalan mulus. Setelah memperkuat Sumatera Utara pada PON XXI Aceh-Sumut 2024, pesepak bola putri ini sempat kehilangan gairah karena minimnya kompetisi. Ia bahkan memilih meninggalkan lapangan hijau untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat.
Namun, kecintaannya terhadap sepak bola ternyata tak pernah benar-benar padam. Kini, Herlina kembali mendapat kesempatan untuk mengejar mimpinya. Ia menjadi salah satu dari empat pesepak bola putri asal Sumatera Utara yang merasakan atmosfer musim pertama Indonesia Women's League (IWL) 2026/2027.
Herlina bergabung dengan Persita Woman bersama pemain asal Sumatera Utara lainnya, Nurhayati. Kesempatan tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan kariernya setelah sempat mempertimbangkan untuk berhenti bermain sepak bola.
“Setelah usai PON Sumut itu saya pernah kembali latihan di Academy Kwarta. Tapi rasa jenuh datang karena kompetisi sepak bola putri enggak ada juga. Makanya saya coba melamar kerja di salah satu perkebunan kelapa sawit pada tahun 2025 yang ada di Kalimantan Barat. Toh saya sarjana pertanian,” kata Herlina kepada Bolahita.
SENNCOIN Selling High Quality Roasted Beans and Ground Coffee
Tetap Jaga Kondisi di Kalimantan Barat
Meski sudah bekerja jauh dari lingkungan sepak bola yang membesarkannya, Herlina tidak sepenuhnya meninggalkan aktivitas olahraga. Ia tetap berusaha menjaga kebugaran fisik dan sesekali bermain futsal bersama rekan-rekan kerjanya.
Kesempatan bermain dalam pertandingan antarkampung (tarkam) di Kalimantan Barat juga membuat semangatnya kembali tumbuh. Di tengah rutinitas pekerjaan, sepak bola tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Harapan untuk kembali bermain secara kompetitif muncul ketika seorang pelatih menghubunginya dan menawarkan kesempatan bergabung dengan tim. Kontak Herlina diperoleh melalui Nurhayati, mantan kapten tim PON Sumut yang lebih dahulu bergabung dengan Persita Women Tangerang.
Dari komunikasi itulah jalan Herlina untuk kembali ke sepak bola profesional mulai terbuka.
“Selama saya di sana (Kalimantan Barat), saya memang masih tetap jaga kondisi fisik. Terus malamnya ada jadwal main futsal juga ikut sama rekan kerja. Di Kalimantan Barat juga ada yang ngajak tarkam, jadi semangatlah. Baru kemudian setelah head coach Persita ada menelpon saya,” tutur Herlina mengenang proses kembalinya ke dunia sepak bola.
View this post on Instagram
Dukungan Pelatih dan Keluarga Menguatkan Langkah
Tawaran untuk kembali bermain di kompetisi nasional ternyata tidak langsung diterima Herlina. Ia terlebih dahulu berdiskusi dengan orang tua serta meminta pandangan dari orang-orang yang selama ini mendukung perjalanannya di sepak bola, termasuk Wahyuni dan Sisri.
Keraguan itu muncul karena Herlina merasa persiapannya belum maksimal. Setelah cukup lama jauh dari rutinitas latihan kompetitif, ia tidak menyangka akan kembali mendapat kesempatan bermain di level nasional.
Namun, kepercayaan dan dukungan dari pelatih yang pernah terlibat dalam pembinaan tim PON Sumut menjadi dorongan tersendiri baginya.
“Tapi saat tawaran itu datang, saya belum langsung mengiyakan. Saya bicara dulu ke orang tua dan diskusi ke Kak Wahyuni dan Sisri. Saya juga awalnya enggak ada kepikiran untuk bermain di Indonesia Women's League, karena persiapan saya juga enggak semaksimal sewaktu saya masih di Medan,” ungkapnya.
Herlina juga mengakui dukungan pelatih menjadi salah satu faktor penting yang membuatnya berani kembali mengambil kesempatan tersebut. Ia menyebut waktu persiapannya bersama tim relatif singkat sebelum mengikuti kompetisi.
“Tapi atas kepercayaan salah satu pelatih PON Sumut, coach itu memberikan saya kepercayaan dan support. Apalagi saya bergabung di Persita untuk Indonesia Women's League baru bergabung dua minggu bersama tim,” katanya.
Berawal dari Guru Olahraga di SMP
Perjalanan Herlina di dunia sepak bola bermula sejak duduk di bangku SMP di TD Pardede Foundation. Saat itu, ia mengenal sepak bola melalui Polmer Siagian, pelatih sekaligus guru olahraga yang memperkenalkannya pada olahraga tersebut.
Herlina kemudian mengikuti latihan futsal di lingkungan sekolah sebelum bergabung dengan SSB Gapertx. Di sana, ia berlatih bersama anak-anak laki-laki di Stadion TD Pardede.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu fondasi awal yang membentuk kecintaannya terhadap sepak bola. Pada 2014, ia kemudian diajak oleh senior futsalnya, Annisa, untuk bergabung dengan tim futsal putri Kamboja FC.
“Waktu itu tahun 2014 saya diajak pemain senior futsal saya, Kak Annisa. Kebetulan rumah kami juga berdekatan, kami gabung tim futsal putri Kamboja FC,” kenangnya.
Perjuangan Herlina untuk berlatih pun tidak sederhana. Jarak tempat latihan yang cukup jauh dari rumah tidak membuatnya menyerah. Ia rela menempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan sepeda motor demi mengikuti latihan yang dibimbing pelatih Angga dan Dhanu.
Baginya, kesempatan berlatih menjadi sesuatu yang berharga. Bahkan, setelah menyelesaikan sesi latihan pagi, ia kerap beristirahat di kos milik Wahyuni dan Sisri sambil menunggu jadwal latihan sore.
Kedua senior tersebut bukan hanya menjadi teman, tetapi juga mentor yang membantu perjalanan Herlina di dunia futsal sekitar 2019–2020.
“Biasa itu kalau siap latihan pagi saya istirahat di kos Kak Wahyuni dan Kak Sisri menunggu latihan sore lagi,” tuturnya.
Dari Seleksi PON Sumut hingga Panggung IWL
Perjalanan panjang itu kemudian membawanya mengikuti seleksi persiapan tim sepak bola putri Sumatera Utara untuk PON pada 2023 di Asahan. Kesempatan tersebut menjadi bagian penting dari prosesnya hingga akhirnya memperkuat Sumut di PON XXI Aceh-Sumut 2024.
Setelah melewati masa ketika ia sempat menjauh dari sepak bola, Herlina kini kembali memiliki kesempatan untuk membuktikan kemampuannya di Indonesia Women's League.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa perjalanan seorang atlet tidak selalu berjalan lurus. Ada masa ketika kesempatan terasa menjauh, ada pula saat seseorang harus memilih pekerjaan demi melanjutkan hidup. Namun, kecintaan terhadap olahraga dan dukungan orang-orang terdekat dapat membuka jalan untuk kembali.
Bagi Herlina, kesempatan tampil di IWL bukan sekadar kembali bermain sepak bola. Ini juga menjadi kesempatan untuk melanjutkan mimpi yang sempat tertunda, sekaligus membuktikan bahwa perjuangan yang dimulai sejak masa sekolah masih memiliki cerita untuk diteruskan.
What's Your Reaction?