Legenda Timnas Indonesia dan PSMS, Tumsila Meninggal di Usia 79 Tahun
Jenazah legenda PSMS Medan tersebut rencananya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Islam Jalan Sei Batu Gingging, Medan, Jumat (9/10/2026) pagi.
BOLAHITA.ID, MEDAN - Legenda PSMS Medan, Tumsila, meninggal dunia pada usia 79 tahun setelah sekitar satu setengah tahun berjuang melawan penyakit.
Tumsila mengembuskan napas terakhir di kediamannya di Jalan Mongonsidi, Medan, Kamis (8/10/2026) pagi.
Sebelum meninggal dunia, Tumsila masih sempat duduk dan berbincang bersama keluarganya hingga sekitar pukul 08.45 WIB. Kepergiannya berlangsung dengan tenang dan tanpa tanda-tanda khusus.
SENNCOIN Selling High Quality Roasted Beans and Ground Coffee
Anak ketiga Tumsila, Denny, mengatakan kondisi kesehatan sang ayah memang mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Selama kurang lebih satu setengah tahun, Tumsila menjalani perjuangan melawan penyakit kanker prostat.
"Sebumnya kondisi beliau memang sudah sakit-sakitan. Sudah sakit satu tahun setengah, tapi dropnya sekitar tiga bulanan ini terbaring di tempat tidur. Beliau ada kanker prostat," ujar Denny kepada awak media di rumah duka, Kamis siang.
Meski kondisi kesehatannya menurun, Denny menyebut tidak ada firasat khusus sebelum sang ayah meninggal dunia. Bahkan pada pagi hari, Tumsila masih menunjukkan semangat untuk duduk dan berbincang dengan keluarga.
"Dia masih ada semangat, masih bisa duduk, ngomong sampai tadi pagi jam 08.45 WIB. Meninggalnya di rumah ini, beliau pulang dengan tenang, gak susah, tiba-tiba saja gitu kayak tidur saja. Jadi kami terkejut," ucapnya.
Denny mengaku tidak memiliki firasat terkait kepergian sang ayah. Namun, keluarga telah berusaha menerima kepergian Tumsila setelah menyaksikan perjuangannya melawan penyakit selama lebih dari setahun.
Lihat postingan ini di Instagram
"Saya sebagai anak kalau firasat gak ya, tapi saya juga sudah ikhlas karena melihat berjuang dengan sakitnya. Kita juga sudah semaksimal mungkin memberikan pengobatan yang layak," kata Denny.
Sosok Panutan Keluarga
Di mata keluarga, Tumsila merupakan sosok ayah yang bertanggung jawab sekaligus panutan bagi keempat anaknya.
Hubungan Tumsila dengan rekan-rekan semasa aktif sebagai pesepak bola juga tetap terjaga hingga akhir hayat. Bahkan, sejumlah rekannya masih sempat datang menjenguk ketika kondisi kesehatannya mulai menurun.
"Beliau kalau di keluarga ayah yang bertanggung jawab, sosok panutan bagi kami anak-anaknya. Pergaulan beliau juga sangat bagus, ke rekan-rekan sepak bolanya juga masih dekat dengan dia. Bahkan saat-saat terakhirnya rekan-rekannya masih sempat menjenguk," tutur Denny.
Tumsila meninggalkan empat anak dan empat cucu. Keempat anaknya terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan, sedangkan cucunya terdiri dari tiga laki-laki dan satu perempuan.
Tidak ada satu pun dari anak-anak Tumsila yang mengikuti jejak sang ayah untuk menjadi pesepak bola profesional.
"Empat anaknya, dua laki-laki dan dua perempuan. Cucu ada empat juga, tiga laki-laki dan satu perempuan. Kebetulan bapak ini membebaskan anaknya untuk mencari hidupnya. Beliau ingin kami anak-anaknya berprestasi, tapi kami memang tidak ada pula yang terjun menjadi seperti dia (pesepak bola)," ujar Denny.
### Dimakamkan Jumat Pagi
Denny mengatakan prosesi pemakaman Tumsila masih menunggu kedatangan salah seorang saudara kandungnya yang berada di luar kota.
Jenazah legenda PSMS Medan tersebut rencananya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Islam Jalan Sei Batu Gingging, Medan, Jumat (9/10/2026) pagi.
Kepergian Tumsila meninggalkan duka bagi keluarga sekaligus dunia sepak bola Sumatera Utara. Sosok yang dikenal dengan julukan "Si Kepala Emas" itu merupakan bagian penting dari sejarah PSMS Medan dan sepak bola Indonesia pada era 1960-an hingga 1970-an.
What's Your Reaction?