Citra dan Jalan Panjang Menemukan Kembali Kepercayaan Diri

Bagi sebagian anak, sekolah adalah tempat untuk belajar, bermain, dan mengejar cita-cita. Namun bagi Citra, perjalanan menuju ruang kelas sempat menjadi pengalaman yang penuh luka.

Aug 15, 2026 - 21:07
Aug 15, 2026 - 21:15
 0
Citra dan Jalan Panjang Menemukan Kembali Kepercayaan Diri
Citra harus menghadapi kehidupan yang penuh keterbatasan.

BOLAHITA.ID, MEDAN- Bagi sebagian anak, sekolah adalah tempat untuk belajar, bermain, dan mengejar cita-cita. Namun bagi Citra, perjalanan menuju ruang kelas sempat menjadi pengalaman yang penuh luka.

Gadis berusia 10 tahun asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, itu harus tumbuh dalam keterbatasan. Saat usianya baru delapan tahun, Citra kehilangan sang ayah yang meninggal dunia akibat diabetes.K epergian ayah menjadi pukulan berat bagi Citra. Ia dikenal sangat dekat dengan sosok yang selama ini menjadi tempatnya bersandar.

Bahkan sebelum meninggal, sang ayah masih memikirkan masa depan putrinya. Ia sempat menitipkan pakaian dan sepatu kepada sang ibu agar Citra tetap bisa bersekolah. "Citra itu, waktu bapaknya meninggal, ia sedih karena dia lengket sama bapaknya," kenang Hajrah, ibu Citra, seperti dikutip pada Rabu (12/8).

Namun, kehilangan sang ayah bukan satu-satunya ujian yang harus dihadapi Citra. Di sekolah, ia kerap menjadi sasaran perundungan karena kondisi ibunya yang merupakan penyandang disabilitas. Perlakuan tersebut perlahan membuat Citra merasa tidak nyaman berada di lingkungan sekolah.

SENNCOIN Selling High Quality Roasted Beans and Ground Coffee

Di tengah kondisi itu, Citra memilih membantu keluarganya dengan berkeliling menjual kacang. Sementara sang ibu bekerja sebagai penyapu masjid demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hari-hari yang berat membuat kepercayaan diri Citra perlahan terkikis. Waktu untuk belajar dan kesempatan mengembangkan bakat pun ikut terhambat.

Menemukan Ruang untuk Tumbuh

Harapan mulai kembali ketika Citra bersekolah di Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 67 Pangkajene dan Kepulauan. Di tempat baru tersebut, Citra menemukan lingkungan yang berbeda. Ia mendapat dukungan dari teman-teman, wali asrama, hingga para tenaga pengajar.

Perlahan, senyum dan semangat belajarnya kembali. Citra tidak lagi hanya datang ke sekolah untuk belajar, tetapi juga memiliki ruang untuk mengenali dan mengembangkan potensi dirinya. Salah satunya melalui olahraga karate.

Citra menekuni olahraga tersebut hingga berhasil meraih prestasi. Kebahagiaan itu kemudian ia ceritakan kepada sang ibu. "Dia bilang, 'Mama saya ini dapatkan juara dua karate', lalu saya bilang alhamdulillah," tutur Hajrah dengan bangga.

Perubahan yang terjadi pada Citra juga dirasakan Maysaroh, wali asuhnya di SR Terintegrasi 67. Menurut Maysaroh, Citra yang sebelumnya cenderung merasa rendah diri kini mulai berani berinteraksi dengan teman-temannya. Ia juga semakin percaya diri menunjukkan bakat yang dimilikinya.

"Alhamdulillah, setelah di Sekolah Rakyat, Citra sudah mampu berinteraksi dengan teman-temannya dengan baik. Dan Citra juga memperlihatkan beberapa bakat, termasuk karate, yang sekarang Citra berprestasi dalam bidang itu," jelas Maysaroh.

Bukan Sekadar Kembali ke Sekolah

Bagi Citra, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat untuk kembali mendapatkan pendidikan. Di sana, ia menemukan lingkungan yang membuatnya merasa diterima, dihargai, sekaligus memiliki kesempatan untuk berkembang.

Dari seorang anak yang sempat kehilangan semangat belajar dan kepercayaan diri, Citra kini mulai berani bermimpi lagi.

Prestasi di atas matras karate menjadi salah satu bukti bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan. Dengan lingkungan yang mendukung, seorang anak dapat kembali menemukan keberanian untuk tumbuh.

Citra pun menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas hadirnya Sekolah Rakyat yang menurutnya telah memberinya kesempatan untuk kembali bersekolah tanpa harus menghadapi perundungan seperti sebelumnya.

"Halo Pak Presiden, terima kasih telah membuat Sekolah Rakyat, sehingga Citra bisa bersekolah lagi di Sekolah Rakyat, sehingga tidak ada yang mem-bully saya di sini," ujar Citra.

Bagi Citra, perjalanan itu mungkin baru dimulai. Tetapi dari sebuah sekolah, ia telah menemukan kembali sesuatu yang sempat hilang: kepercayaan diri untuk belajar, berprestasi, dan menatap masa depan.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow