BOLAHITA.COM - Sesuai kronologis yang dikirimkan
PSMS Medan ke PSSI Komdis, Heru Prawono (CEO) dan H Sariono (pengurus) menjadi aktor penting dari kasus percobaan pengaturan skor di Persih Tembilahan dan Kuala Tungkal, Jambi lalu. <div><br></div><div>Sedangkan Sarwono (manajer) yang sempat menolak kalah di awal pertemuan dengan cukong 8 Mei lalu di Hotel Danau Toba.</div><div><br></div><div>Jika bukti dari pertemuan Komdis dengan perwakilan
PSMS Medan di Hotel JW Mariot lalu cukup, dua nama diatas bakal mendapatkan sanksi berat. Sesuai dengan apa yang dikatakan Hinca Panjaitan, konsentrasi terbesar Komdis adalah memerangi mafia sepak bola. </div><div><br></div><div>"Kami tidak main-main dengan oknum yang terlibat dalam pengaturan skor. Meskipun masih sebatas percobaan, kita harus sikat. Dan dari kronologi yang dkirimkan ini cukup jelas siapa namanya," ujarnya. </div><div><br></div><div>Sekretaris tim, Fityan Hamdy bersama pelatih Suharto tidak sungkan ketika membeberkan seperti apa kronologi usaha pengaturan skor tersebut. Bahkan ketika harus bertemu dengan cukong di ruang makan hotel tempat
PSMS menginap. </div><div><br></div><div>"Kita dipertemukan oleh CEO di hotel tim menginap di Kuala Tungkal Jambi. Dan disitu terbongkar bahwa cukong sudah memberikan uang sebesar Rp70juta untuk tim melalui Heru. Ini sungguh memalukan," ujarnya soal percobaan pengaturan skor.</div><div><br></div><div>
PSMS Medan sendiri masih menunggu keputusan sidang Komdis pada Rabu (21/8) ini. Komdis bakal menyidangkan
PSMS terkait dugaan pengaturan skor dan gagal berangkat saat tandang ke Bengkulu lalu. </div><div><br></div><div>Pundemikian, pelatih Suharto AD berharap dan yakin, Komdis akan bijak mencermati keputusan. </div><div><br></div><div>"Apalagi ketua Komdis sendiri sudah langsung mendengarkan keluhan dan situasi yang kami alami di PSMS. Kami berharap Komdis mengerti sebab adanya perbuatan seperti ini. Apalagi skuad
PSMS Medan mayoritas pemain muda yang berprestasi dari daerah. Kasihan mereka harus kehilangan masa depannya," ujar Suharto.</div><div><br></div><div>"Pemain debutan muda
PSMS banyak yang asli dari daerah. Seperti Siantar, Rantauprapat, Asahan, Deliserdang. Bahkan Tambun Naibaho asli dari Samosir, yang berbahasa pun masih kental kedaerahannya. Kasihan kalau mereka harus dihukum. Semoga teguran dari Komdis akan menjadi pembelajaran penting bagi PSMS," harapnya. </div>