PEMAIN dan manajemen
PSMS Medan menolak keras bila dituduh terlibat dalam kasus percobaan pengaturan skor. Mereka menganggap dirinya hanyalah korban dari oknum yang hendak menjual pertandingan.
Meskipun belum menerima gaji, Hardiantono dkk menolak keinginan CEO, Heru Prawono yang meminta tim kalah dari Persisko Tanjabbar. Malah punggawa Ayam Kinantan tampil semangat dan membawa tiga poin.
"Dalam kondisi tak menerima gaji, kami tetap tidak mau murahan. Tawaran kalah lalu ada gajian sangatlah hina. Kami tak mau menghianati PSMS," ujar Hardiantono pemain bertahan.
Sama halnya dengan Dodi, pemain belakang yang masuk di babak kedua dan diintruksikan Heru Prawono membuka celah bagi lawan. "Saya tak mau, karena itu cara kotor mendapatkan uang. Alhamdulillah semua pemain sepakat main habis-habisan dan kami menang," bilangnya ketika dihubungi.
Pujian memang pantas diberikan kepada pemain. Loyalitas kepada
PSMS Medan terjaga. Tanpa gaji, Alamsyah Nasution dkk berhasil menyelesaikan dan sekaligus menyelamatkan
PSMS dari jurang degradasi.
"Sudah berapa bulan kami hanya dijanjiin saja. Tapi anak-anak masih mau bertanding. Semua demi
Medan, demi PSMS. Jadi tidak pantas juga kalau kami dianggap murahan, bermain dengan suap. Kalau memang kami suap, kenapa kami nekad seperti ini menuntut gaji dan membeberkannya?" tanya Fityan Hamdy sekretaris tim.
Malah menurut Fityan, pengurus yang selama ini terlihat adem dan sembunyi yang harus diselidiki. "Pemain berkoar-koar soal gaji, tapi pengurus diam saja. Manajer dan CEO pun tidak ada komunikasi soal ini, apalagi ketum," pungkasnya. (
Bolahita)