Mantan Pemain Prihatin dengan Kisruh dan Pertanyakan Kualitas Manajemen PSMS

Mantan Pemain Prihatin dengan Kisruh dan Pertanyakan Kualitas Manajemen PSMS

Apr 12, 2022 - 09:34
 0
Mantan Pemain Prihatin dengan Kisruh dan Pertanyakan Kualitas Manajemen PSMS

BOLAHITA, MEDAN - Kisruh atau polemik di PSMS Medan belum berakhir. Kali ini terkait keputusan dari Hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang memutuskan manajemen terbaru tim berjuluk Ayam Kinantan di Liga 2 musim 2022/2023.


Manajemen baru yang telah ditunjuk itu pun mendapat sorotan dari kalangan mantan pemain PSMS Medan. Termasuk soal hubungan pemegang saham, antara Edy Rahmayadi dan Kodrat Shah yang tidak lagi harmonis.


"Terus terang kami dari mantan pemain dan pengurus keluarga besar merasa sedih kecewa dengan konflik di tubuh PSMS. Jangan sampai berlarut dan bisa menganggu persiapan PSMS dalam mengarungi Liga 2," kata Bambang Usmanto di tengah acara buka bersama mantan PSMS, Sabtu (9/4/2022).


Acara itu dihadiri Witya Pusen, Bambang Usmanto, Abdur Rahman Gurning, Amri Siregar, Sumardi, Musimin, Iwan Karokaro, Sunardi. A, M.Siddik, Sugiar, Arianto, dan Rahmat.


Selain rasa prihatin, mantan PSMS juga mempertanyakan kredibilitas beberapa sosok dalam manajemen baru yang telah diputuskan tersebut.


“Mempertanyakan kredibilitas dan kapasitas orang yang telah ditunjuk untuk mengurus PSMS saat ini sekaligus rekam jejaknya,” ucap Bambang lagi didampingi Ketua Mantan PSMS, Witia Pusen.


Mulai dari posisi Direktur Operasional dimana kata Bambang akan ada permasalahan diisi orang yang gemar memasok pemain.


“Kita sebagai mantan pemain tentu sudah mengenal sepak terjang sosok ini. Dia dikenal sering memasok dan mendatangkan pemain untuk PSMS. Memang tidak ada aturan yang melarang dia menjabat sebagai Direktur Operasional. Itu sah-sah saja, tapi harus diingat bahwa di sini ada conflict of interest (konflik kepentingan). Ini masalah yang serius buat kami,” jelas Bambang.


Lalu untuk Direktur Marketing, menurut informasi yang didapat Bambang, sosok ini pernah menjabat sebagai Manajer Borneo FC pada tahun 2018. Tapi sebelum berakhir kompetisi sudah dicopot. Kemudian pada kompetisi Liga 3 tahun 2022, Ia menjabat CEO salah satu klub Liga 3 asal Malang, NZR Sumbersari, hanya saja tak lolos ke Liga 2.


“Dari rekam jejaknya tentu kita wajar mempertanyakan kredibilitasnya sebagai Direktur Marketing. Selain prestasi kinerjanya di sepakbola belum pernah meraih prestasi yang bisa dibanggakan, beliau ini juga bukan warga Kota Medan,” tegas Bambang.


Posisi Direktur Teknik juga tak lepas dari sorotan para mantan PSMS ini. Menurut mereka Direktur Teknik yang dalam regulasi harus memiliki pengalaman sebagai pelatih serta memiliki sertifikat kepelatihan.


“PSSI/PT LIB sendiri juga sudah mengatur tentang syarat dan posisi Dirtek di sebuah klub liga dan harus memiliki sertifikat kepelatihan sesuai dengan jenjang/level klub yang dia naungi,” beber Bambang.


Kemudian menuju ke posisi manajer tim, Bambang juga mengatakan sosok tersebut sudah mengeluarkan statement akan mengundurkan diri jika musim lalu PSMS gagal naik ke liga 1. Namun masih terus berlanjut.


“Kami tidak ada masalah dengan beliau tapi dalam konteks ini kita bicara tentang kinerja dan profesionalitas, bukan atas dasar kedekatan ataupun pertemanan,” katanya lagi.


Meski para mantan pemain PSMS tidak berada di dalam tim, namun pihaknya terus mengikuti perjalanan PSMS mulai dari persiapan, pembentukan, sampai di pertandingan resmi kompetisi.


“Besar harapan kami, semoga bapak Edy Rahmayadi selaku pembina PSMS dapat meninjau kembali orang-orang yang ditunjuk untuk mengurus PSMS. Kami para mantan pemain sedikitpun tidak punya kepentingan. Murni hanya ingin PSMS bisa bangkit dan berjaya kembali. Kami juga siap untuk bertemu Pak Edy jika memang beliau bersedia,” harap Bambang.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow