Konflik berkepanjangan dari dua kubu (PSSI - KPSI) membuat persepakbolaan di Indonesia berada di bawah titik nadir. Kekisruhan seperti itu otomatis mengorbankan banyak pihak terutama bagi pelaku sepak bola itu sendiri. <br><br>Salah satu contohnya adalah pembinaan pesepakbola usia muda di sekolah-sekolah sepak bola (SSB) yang semakin hancur, tak jelas arah tanpa program. Apalagi Maret tahun depan, ancaman FIFA dengan membanned Indonesia akibat dualisme kian mendekati waktunya.<br><br>Di kalangan SSB, efek negatif ini cukup dirasakan. Misalnya saja di SSB Generasi Kosek Hanudnas III AU, salah satu SSB yang telah banyak melahirkan pesepakbola profesional mengaku terganggu. <br><br>"Kalau terganggu ya pasti terganggu, sebab pengaruhnya kan bisa berdampak ke anak-anak," kata Sucipto,Koordinator Pelatih SSB Generasi Kosek Hanudnas III AU.<br><br>"Kami berharap salah satu kubu harus ada yang mau mengalah sehingga Indonesia tidak sampai kena sanksi," tambah Sucipto lagi.<br><br>Di tenngah kekacauan sepak bola ini, pihaknya tetap bersemangat melakukan pembinaan pemain. Dua kali dalam seminggu (Senin dan Rabu), Sucipto bersama pelatih lainnya seperti Agus ‘Kakuk’, Adi Mainur, dan Azhari ‘Ai’ tetap komit melatih calon-calon pesekpabola masa depan tersebut. <br><br>"Ya kita tidak ingin pembinaan putus di tengah jalan, yang jelas pembinaan buat anak-anak terus berjalan," bilangnya lagi.<br><br>Begitulah yang terus dilakukan SSB Generasi Kosek Hanudnas III AU dalam berkecimpung di dunia pembinaan pesepakbola. Memang sepak terjang SSB Generasi Kosek Hanudnas III AU dalam berprestasi belum cukup membanggakan. <br><br>Namun sederetan pemain seperti Saktiawan Sinaga, Andika Yudhistira, Fauzi Irvan, Jecky Pasarela, Bambang Tri Sanjaya, Hendrik Lubis, Faisal Riza, Doddy Rahwana, M Yasir, Herman Batak, Irvan Raditya, Gary Baldi dan masih banyak yang lainnya telah dilahirkan. (
Bolahita) <br>